Iran Tegaskan Tak Takut Dipaksa, Laut Oman Memanas di Tengah Tekanan AS

Author: Redaksi Android62

Teheran kembali menegaskan bahwa jalur diplomasi tidak akan dibuka jika dibarengi tekanan. Mohammad Baqer Qalibaf, Ketua Parlemen Iran, menyampaikan bahwa negaranya tidak akan bernegosiasi di bawah ancaman, sementara Amerika Serikat justru terus menambah tekanan lewat isu keamanan di Laut Oman.

Pernyataan itu muncul di tengah suasana hubungan yang kembali memanas, terutama setelah laporan pelanggaran gencatan senjata yang dikaitkan dengan blokade laut serta serangan terhadap kapal dagang Iran. Di saat yang sama, Qalibaf menyebut Iran telah menyiapkan strategi baru di medan perang dalam dua pekan terakhir.

Sikap keras dari parlemen Iran memperlihatkan bahwa Teheran ingin menjaga posisi tawar tetap utuh. Isyarat yang disampaikan jelas, yaitu tekanan militer maupun tekanan diplomatik dari Washington tidak akan otomatis membuat Iran mengubah sikap dalam perundingan.

Laut Oman jadi sumber ketegangan baru

Ketegangan itu menguat seiring laporan serangan Angkatan Laut AS terhadap kapal dagang Iran di Laut Oman. Pihak militer Iran menilai tindakan tersebut sebagai pelanggaran aturan maritim dan juga pelanggaran langsung terhadap gencatan senjata yang sebelumnya disepakati.

Markas Pusat Khatam al-Anbiya bahkan menyebut operasi itu sebagai tindakan kriminal dan pembajakan maritim. Iran kemudian menegaskan bahwa pasukannya tetap siaga dan masih percaya pada kemampuan pertahanan nasional di tengah situasi yang terus memanas.

Iran menolak perundingan yang dipaksa

Dalam pernyataan terpisah, Qalibaf menilai pendekatan Amerika Serikat tidak realistis. Ia mempertanyakan apakah Washington ingin mengubah meja perundingan menjadi “meja penyerahan” atau justru mencari alasan untuk kembali memicu perang.

Nada serupa juga datang dari Presiden Iran Masoud Pezeshkian. Ia menolak ancaman dari Amerika Serikat dan menyebutnya sebagai taktik tekanan, serta menegaskan Iran tidak akan tunduk meski ultimatum militer dan diplomatik terus dilontarkan.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baghaei, menguatkan posisi itu dalam konferensi pers mingguannya. Ia mengatakan Amerika Serikat tidak serius dalam bernegosiasi dan memperingatkan bahwa Teheran akan memberi balasan tegas jika Washington mengulangi kesalahan sebelumnya.

Washington terus menaikkan tensi

Dari sisi lain, Presiden AS Donald Trump kembali menaikkan tekanan melalui media sosial. Ia menyebut telah menawarkan kesepakatan yang dinilainya “sangat adil dan masuk akal”, tetapi sekaligus mengancam akan menghancurkan pembangkit listrik dan jembatan di Iran jika kesepakatan itu ditolak.

Ancaman tersebut menambah beban politik di tengah proses diplomasi yang belum menunjukkan kepastian. Dalam situasi seperti ini, Iran tampak berusaha menunjukkan bahwa ancaman tidak akan menggeser garis negosiasi yang mereka pegang.

Jalur mediasi ikut terdampak

Di tengah kebuntuan itu, peran Pakistan ikut menjadi sorotan. Laporan menyebut Panglima Angkatan Darat Pakistan Asim Munir telah menyampaikan kepada Trump bahwa blokade laut AS terhadap pelabuhan Iran menghambat upaya Islamabad untuk memediasi putaran kedua negosiasi.

Mediasi tersebut disebut bertujuan mengakhiri secara permanen agresi AS-Israel terhadap Iran. Media AS juga melaporkan delegasi Amerika dijadwalkan terbang ke Islamabad untuk melanjutkan pembicaraan berikutnya dengan delegasi Iran.

Meski ada upaya membuka ruang dialog, kerasnya posisi kedua pihak membuat kompromi masih jauh dari mudah. Laut Oman tetap menjadi titik panas, sementara perundingan belum lepas dari tekanan yang datang bersamaan dari laut dan dari meja politik.

Source: www.viva.co.id
Redaksi Android62
Redaksi Android62

Android62.com menghadirkan berita dari beragam sumber dengan penyajian unik, ringkas, dan informatif untuk pembaca modern.

Newsletter Text above the Email input field
Follow Us
Berita Terbaru