Melasma dapat tampak memudar, tetapi bercak kecokelatan di wajah berisiko kembali ketika kulit terus terpapar cahaya tanpa perlindungan memadai. Di negara tropis seperti Indonesia, paparan matahari sepanjang tahun membuat pengendalian kondisi ini membutuhkan kebiasaan harian yang konsisten.
Penggunaan tabir surya setiap hari menjadi dasar penanganan karena sinar ultraviolet dapat merangsang pembentukan melanin. Cahaya tampak, terutama cahaya biru, juga disebut dapat meningkatkan produksi pigmen dan memicu kekambuhan.
Perlindungan Harian Menentukan Pengendalian
Perlindungan spektrum luas dengan SPF tinggi membantu mengurangi dampak paparan yang dapat memperburuk noda pada wajah. Namun, perawatan klinis tidak dapat menggantikan kebutuhan untuk melindungi kulit dari matahari setiap hari.
Dokter spesialis kulit dr. Ratna Yuliarviana menegaskan bahwa penanganan kondisi ini tidak bersifat instan. “Melasma memang bisa dikendalikan, tetapi membutuhkan kesabaran dan konsistensi,” ungkapnya.
Terapi di klinik dapat mencakup pendekatan depigmentasi maupun redermalisasi, sesuai kondisi kulit pasien. Redermalisasi dalam praktik dokter dapat menggunakan hyaluronic acid dan succinic acid yang dikombinasikan dengan growth factors untuk mendukung regenerasi sel dan pemulihan kulit.
Hyaluronic acid serta succinic acid digunakan dalam pendekatan skin booster untuk membantu hidrasi dan memperbaiki tampilan hiperpigmentasi. Growth factors dalam serum juga dapat mendukung regenerasi seluler, membantu mengurangi inflamasi, dan mempercepat pemulihan kulit.
Kelompok yang Lebih Rentan
Kondisi ini paling sering muncul pada usia 20 hingga 30 tahun, dengan banyak kasus dialami perempuan pada akhir usia 20-an sampai awal 40-an. Perubahan hormon estrogen dan progesteron menjadi salah satu faktor yang dapat memicu atau memperburuk melasma, termasuk saat kehamilan.
| Kelompok atau Wilayah | Data Melasma | Konteks |
|---|---|---|
| Populasi dunia | 1–10% | Prevalensi berbeda menurut kondisi geografis |
| Asia Tenggara | 0,5% | Angka prevalensi yang dilaporkan di kawasan ini |
| Pekerja sawah di India dan Pakistan | 41–46% | Wilayah dengan paparan matahari tinggi |
| Pasien melasma global | 93% perempuan | Studi terhadap 41.283 pasien |
Data global terhadap 41.283 pasien menunjukkan 93% penderita melasma adalah perempuan. Kemunculannya cenderung menurun secara signifikan setelah menopause, ketika perubahan hormon reproduktif tidak lagi seaktif sebelumnya.
Selain hormon, riwayat keluarga dan karakteristik etnis tertentu dapat meningkatkan kerentanan seseorang. Banyak penduduk Indonesia memiliki fototipe kulit Fitzpatrick IV–V, sementara lingkungan tropis meningkatkan intensitas paparan cahaya yang harus dihadapi kulit.
Noda Gelap Perlu Diagnosis
Tidak semua flek gelap di wajah merupakan melasma, sehingga penentuan perawatan tidak sebaiknya dilakukan hanya berdasarkan tampilan bercak. Dokter spesialis kulit dr. Stanley Setiawan menyatakan, “Tidak semua noda gelap di wajah adalah melasma. Karena penyebabnya bisa berbeda, pemeriksaan oleh dokter penting agar pasien mendapatkan terapi yang sesuai.”
Pengobatan mandiri tanpa pemahaman yang cukup berisiko merusak skin barrier dan justru memperburuk kondisi kulit. Peradangan, stres oksidatif, perubahan pembuluh darah, serta perubahan struktur kulit akibat paparan matahari kronis dapat membuat produksi melanin terus bertahan.
lifestyle.bisnis.com mencatat bahwa pengendalian melasma memerlukan komitmen perawatan berkelanjutan, bukan solusi cepat. Saat bercak menetap, makin luas, atau kembali muncul, pemeriksaan dokter dapat membantu membedakannya dari gangguan kulit lain dan menentukan penanganan yang sesuai.
