Israel Tak Mau Menunggu Iran, Ben Gvir Tegaskan Siap Bertindak Sendiri

Author: Redaksi Android62

Israel menegaskan tidak akan menggantungkan keputusan keamanannya pada pihak luar ketika ancaman Iran masih dianggap aktif. Menteri Keamanan Nasional Israel Itamar Ben Gvir menyatakan Tel Aviv siap mengambil langkah sendiri jika diperlukan demi menjaga keamanan nasional.

Pernyataan keras itu muncul di tengah pembahasan nota kesepahaman antara Amerika Serikat dan Iran yang dinilai Ben Gvir terlalu optimistis. Ia menolak anggapan bahwa Teheran akan benar-benar menghentikan program nuklirnya hanya lewat kesepakatan diplomatik.

Ben Gvir menilai pendekatan Washington tidak realistis

Dalam wawancara dengan Channel 7 Israel yang disiarkan pada Selasa (23/6), Ben Gvir menyebut sikap Amerika Serikat terlalu percaya pada komitmen Iran. Ia mempertanyakan logika di balik keyakinan bahwa Teheran akan membatalkan program nuklir sekaligus meninggalkan ambisi yang menurutnya tetap mengancam Israel.

Ia juga menilai Iran tidak akan berhenti hanya karena ada pembicaraan atau nota kesepahaman. Bagi Ben Gvir, ancaman dari Teheran masih harus dilihat sebagai persoalan strategis yang belum berubah.

Israel tidak ingin dikendalikan sekutu sekalipun

Ben Gvir menegaskan bahwa kebijakan keamanan Israel tidak boleh ditentukan oleh tekanan dari luar. Ia menyatakan tidak ada keadaan apa pun yang bisa memaksa Israel mengikuti perintah seorang teman, termasuk Amerika Serikat sebagai sekutu dekat.

Sikap itu memperlihatkan bahwa pemerintah Israel ingin mempertahankan ruang manuver sendiri dalam menghadapi Iran. Dalam pandangan Ben Gvir, keputusan keamanan harus diambil di Tel Aviv, bukan diserahkan kepada kesepakatan pihak lain.

Perbedaan tajam dengan arah kebijakan Washington

Sikap Ben Gvir muncul saat Presiden AS Donald Trump disebut mendorong Israel menghentikan operasi militer di Libanon. Langkah tersebut dikaitkan dengan implementasi kesepakatan sementara antara Washington dan Teheran untuk meredakan ketegangan kawasan.

Namun, dari sudut pandang Israel, fokus ancaman tidak berhenti pada isu nuklir Iran. Pemerintah Benjamin Netanyahu juga masih memandang keberadaan Hizbullah di Libanon sebagai ancaman langsung yang harus ditangani di lapangan.

Rudal balistik ikut masuk dalam daftar kekhawatiran

Selain program nuklir, politisi Israel juga menilai pembahasan dengan Iran belum menyentuh kemampuan rudal balistik secara memadai. Bagi Tel Aviv, kemampuan itu sama berbahayanya dengan potensi nuklir dan seharusnya masuk dalam agenda perundingan.

Perbedaan pandangan ini membuat upaya merumuskan kesepahaman yang bisa diterima semua pihak semakin rumit. Israel memandang ancaman Iran tidak bisa dijawab hanya dengan janji pengawasan atau pembatasan sementara.

Libanon Selatan tetap jadi medan tekanan

Di tengah dorongan diplomatik dari Washington, Israel tetap mempertahankan operasi militernya dan kehadiran pasukan di Libanon Selatan. Kebijakan itu dikaitkan dengan upaya menahan pengaruh Hizbullah dan menjaga perbatasan Israel.

Perbedaan sikap antara Amerika Serikat dan Israel menunjukkan bahwa kerja sama keduanya tidak selalu sejalan ketika menyangkut Iran dan stabilitas Timur Tengah. Selama Tel Aviv menilai ancaman dari Teheran belum mereda, gagasan bertindak sendiri tampaknya masih akan menjadi pilihan yang terbuka.

Source: mediaindonesia.com
Berita Terbaru