Langkah Jadestone Energy Pte Ltd untuk memperluas bisnis hulu migas di Indonesia mendapat perhatian karena perusahaan ini sudah mulai menyusun arah ekspansi yang lebih jelas. Fokusnya kini tertuju pada aset yang lebih cepat dioptimalkan, terutama aset yang sudah masuk tahap pengembangan atau produksi.
Country Manager Jadestone Energy Indonesia, Andi Iwan Uzamah, menyebut perusahaan membuka peluang kerja sama melalui kemitraan maupun akuisisi. Perhatian juga diarahkan pada stranded assets atau aset yang belum tergarap optimal karena dinilai masih punya ruang untuk ditingkatkan produktivitasnya.
Ketertarikan itu tidak berdiri sendiri. Jadestone sudah memiliki pijakan operasi di Indonesia lewat Wilayah Kerja Lemang di Jambi, dengan produksi rata-rata 6.400 barel setara minyak per hari atau BOEPD.
Di wilayah yang sama, ladang gas Akatara juga menjadi bagian penting dari portofolio perusahaan. Per akhir 2024, cadangan terbukti dan kemungkinan atau 2P di lapangan itu tercatat 25,5 MMBOE.
Sinyal ekspansi ini muncul setelah pertemuan Jadestone dengan SKK Migas di Jakarta pada Kamis, 30 April 2026. Respons regulator saat itu dinilai positif, dan Kepala SKK Migas Djoko Siswanto melihat minat tersebut sebagai tanda bahwa Indonesia masih kompetitif di mata investor global.
Sikap terbuka SKK Migas menjadi poin penting karena pasar hulu migas Indonesia masih membutuhkan tambahan modal besar. Dalam konteks itu, masuknya minat dari perusahaan asing dipandang ikut memperkuat posisi tawar sektor energi nasional.
Bagi SKK Migas, ekspansi Jadestone tidak hanya berarti langkah bisnis satu perusahaan. Minat tersebut juga dibaca sebagai bukti bahwa peluang di sektor hulu migas Indonesia masih terbuka lebar bagi investor.
Peluang itu semakin relevan karena pemerintah terus menyiapkan ruang yang lebih besar untuk eksplorasi dan produksi migas. Wakil Menteri ESDM Yuliot Tanjung menyampaikan rencana menawarkan 110 wilayah kerja migas secara serempak untuk memacu produksi siap jual nasional.
Yuliot juga menyebut anggota Indonesian Petroleum Association atau IPA menunjukkan minat untuk meningkatkan eksplorasi sekaligus produksi minyak. Di saat yang sama, SKK Migas menargetkan investasi hulu migas sebesar US$16 miliar pada 2026.
Target itu menjadi bagian dari jalur panjang menuju produksi minyak 1 juta barel per hari dan gas 12 miliar kaki kubik per hari pada 2030. Dengan kondisi tersebut, ketertarikan Jadestone terhadap aset yang sudah berproduksi dan aset yang belum tergarap optimal menambah sinyal bahwa Indonesia masih punya ruang besar untuk ekspansi hulu migas.
