Jajan Pasar Lampung Naik Panggung di Pesenggiri Festival 2026, Warisan Rasa yang Dijaga

Author: Redaksi Android62

Pesenggiri Festival 2026 memberi ruang utama bagi jajan pasar Lampung di tengah derasnya makanan modern. Langkah ini menegaskan bahwa getuk, lemper, wajik, kue lapis, hingga cenil masih punya tempat penting sebagai bagian dari warisan budaya.

Festival yang diinisiasi The Hurun – One Earth Foundation itu mengusung tema “Spice, Heritage & Harmony”. Melalui rangkaian kegiatan yang memadukan seni, kuliner, dan edukasi, festival ini menempatkan tradisi Lampung sebagai sesuatu yang terus dirawat agar tetap relevan.

Pengetahuan di Balik Resep Tradisional

Salah satu sorotan datang dari kehadiran Oma Lanny Rustan, maestro jajan pasar tradisional Lampung. Ia dikenal menjaga resep warisan leluhur dengan teliti, mulai dari pemilihan tepung, komposisi santan, hingga takaran gula yang presisi.

Dalam sesi kuliner khusus, pengunjung tidak hanya mencicipi hidangan, tetapi juga menyerap pengetahuan yang selama ini diwariskan secara lisan. Bagi Lanny, jajan pasar memuat pesan sosial yang lebih luas daripada sekadar rasa.

“Jajan pasar bukan sekadar makanan. Ia adalah cara nenek moyang kita mengatakan: kamu diingat, kamu disambut, kamu dicintai. Itu yang ingin saya bawa ke Pesenggiri,” ungkap Lanny Rustan.

Pesan itu sejalan dengan falsafah Pi’il Pesenggiri yang menonjolkan kehormatan, keramahan, dan kebersamaan masyarakat Lampung. Karena itu, festival ini tidak hanya menjadi ruang pamer kuliner, tetapi juga ruang transfer pengetahuan antargenerasi.

Kolaborasi Budaya dan Dunia Usaha

Pelaksanaan Pesenggiri Festival 2026 juga mendapat dukungan dari sektor swasta. PT Gunung Madu Plantations (GMP) hadir sebagai Bronze Sponsor, dengan keterlibatan yang dinilai selaras karena perusahaan tersebut merupakan produsen gula tebu terkemuka di Lampung.

Gula menjadi bahan inti dalam banyak jajan pasar tradisional, sehingga dukungan GMP memperkuat pesan pelestarian kuliner. Founder Pesenggiri Festival, Selphie Bong, menyebut dukungan itu sebagai bentuk pengakuan terhadap potensi budaya Lampung.

“Lampung adalah tanah yang melimpah, dan sudah saatnya kelimpahan itu dirayakan, bukan hanya dipanen,” tegas Selphie.

Rangkaian Program yang Memperluas Makna Pelestarian

Selain kuliner tradisional, festival ini menghadirkan program lain yang mempertemukan tradisi, kreativitas, dan pengetahuan. Dari masterclass kopi hingga pertunjukan seni, seluruh rangkaian dirancang untuk menguatkan identitas Lampung di berbagai bidang.

Program Narasumber/Kolaborator Fokus Kegiatan
Sesi Kuliner Tradisional Oma Lanny Rustan Pelestarian resep jajan pasar dan transfer pengetahuan.
Masterclass Kopi Waris Renata Bukvic Letica (Tanamera Coffee) Edukasi pengolahan kopi berkualitas.
The Value of Origin Junanto Herdiawan Memahami pentingnya asal-usul produk dan budaya.
Tamu Painting Sunset Selphie Bong Ekspresi seni visual dan gaya hidup.
Pertunjukan Seni Tim Budaya Pementasan Swarnadwipa.

Melalui perpaduan kuliner, seni, dan edukasi, Pesenggiri Festival 2026 menunjukkan bahwa pelestarian budaya membutuhkan ekosistem yang aktif. Keterlibatan pelaku budaya, masyarakat, dan dunia usaha membuat identitas Lampung tidak berhenti sebagai warisan, melainkan terus dirawat untuk generasi berikutnya.

Source: mediaindonesia.com
Berita Terbaru