Kata yang terlalu sering diulang ternyata bisa membuat otak tiba-tiba menolak familiaritasnya sendiri. Dalam kondisi itu, sesuatu yang seharusnya terasa biasa justru tampak aneh, seolah maknanya hilang dan perlu diperiksa ulang.
Fenomena ini dikenal sebagai jamais vu, kebalikan dari déjà vu. Jika déjà vu membuat momen baru terasa seperti pernah dialami, jamais vu membuat hal yang sudah dikenal mendadak terasa asing, mulai dari kata, wajah, tempat, hingga situasi yang sehari-hari.
Pengalaman semacam ini sering muncul dalam bentuk yang sederhana, tetapi efeknya bisa mengganggu. Seseorang bisa mulai meragukan kata yang ditulis dengan benar, atau seorang musisi mendadak lupa bagian lagu yang sebenarnya sudah berkali-kali dimainkan.
Di tempat yang akrab, sensasinya bisa terasa lebih janggal. Lingkungan yang biasa dilihat dapat tampak seperti baru diamati, seakan ada jarak aneh antara diri dan apa yang ada di sekitar.
Meski jarang terjadi, jamais vu kerap dianggap lebih sulit dijelaskan dibanding déjà vu. Banyak orang yang mengalaminya justru kesulitan menggambarkan mengapa sesuatu yang akrab bisa seketika terasa tidak meyakinkan.
Sejumlah orang dalam survei pernah menceritakan momen ketika kata sederhana seperti “appetite” tampak salah, padahal sebelumnya sudah ditulis dengan benar. Rasa ragu itu dapat membesar sampai kata yang sangat familiar terasa kehilangan kepastian.
Pemicu yang sering dikaitkan dengan kondisi ini adalah pengulangan atau terlalu lama menatap sesuatu. Namun, pemicu tersebut tidak selalu hadir, sehingga jamais vu tetap dipahami sebagai pengalaman yang kompleks dan tidak selalu mudah diprediksi.
Salah satu peneliti, Akira, bahkan pernah merasakannya saat mengemudi di jalan tol. Pedal dan setir tiba-tiba terasa asing, sampai ia harus menepi untuk mengatur ulang persepsinya.
Para peneliti kemudian mencoba memahami fenomena ini lewat kondisi yang lebih terkontrol. Salah satu cara yang dipakai adalah meminta seseorang menulis atau mengulang satu kata berkali-kali sampai kata itu mulai terasa aneh.
Dalam sebuah eksperimen, 94 mahasiswa diminta menyalin 12 kata secepat mungkin. Kata yang digunakan bervariasi, dari kata umum seperti “door” hingga kata yang lebih jarang seperti “sward”.
Hasilnya cukup mencolok karena sekitar 70 persen peserta menghentikan aktivitas setidaknya sekali setelah merasakan sensasi jamais vu. Keadaan itu biasanya muncul setelah sekitar satu menit atau sekitar 33 pengulangan.
Efek serupa juga muncul saat peneliti hanya menggunakan kata “the”. Sebanyak 55 persen peserta menghentikan penulisan karena mengalami sensasi yang sesuai dengan definisi jamais vu, dan rata-ratanya muncul setelah 27 pengulangan.
Sebagian peserta merasa kata itu makin kehilangan makna, sementara yang lain merasa seolah kehilangan kendali atas tangan. Ada juga yang menganggap kata “the” bukan benar-benar kata, melainkan semacam tipuan yang membuatnya tampak nyata.
Pengamatan modern ini sebenarnya datang dari ide yang lebih lama. Chris, salah satu peneliti, terinspirasi dari pengalaman menulis kalimat berulang sebagai hukuman di sekolah, yang membuat tulisan terasa aneh dan tidak nyata.
Jejak lama serupa juga pernah muncul pada 1907. Margaret Floy Washburn bersama mahasiswanya menemukan bahwa kata yang dipandang terlalu lama bisa kehilangan makna, lalu terasa aneh dan terpecah-pecah seiring waktu.
Dari sini, jamais vu sering dipandang sebagai semacam sinyal “reality check”. Saat sesuatu berlangsung terlalu otomatis, terlalu lancar, atau terlalu repetitif, otak tampak memicu reset dengan menciptakan rasa keterasingan.
Penjelasan ilmiahnya kerap dikaitkan dengan “satiation”, yaitu kejenuhan representasi sampai sesuatu yang semula masuk akal menjadi terasa tidak masuk akal. Dalam kerangka ini, jamais vu membantu menjaga perhatian tetap fleksibel dan mencegah manusia terjebak dalam kebiasaan mekanis.
Fenomena yang mirip juga terlihat pada verbal transformation effect. Ketika satu kata diulang terus-menerus, bunyinya dapat terasa berubah dan memunculkan variasi baru di telinga, seperti kata “tress” yang terdengar menjadi “dress”, “stress”, atau “florist”.
Pada akhirnya, jamais vu menunjukkan bahwa otak tidak hanya menyimpan ingatan. Otak juga memiliki cara untuk menjaga kewaspadaan, memeriksa realitas, dan mengembalikan fokus saat sesuatu menjadi terlalu rutin.
Source: www.idntimes.com