Jawa Tengah Masih Tertekan, Selatan Dipandang Paling Siap Menopang Pangan Nasional

Author: Redaksi Android62

Pangan kini dipandang bukan sekadar urusan produksi, melainkan bagian dari stabilitas ekonomi daerah. Di wilayah eks Keresidenan Banyumas, komoditas pangan yang bergejolak masih menjadi penyumbang utama dinamika inflasi, sehingga penguatan sektor pertanian dan perikanan ikut dianggap penting untuk menjaga daya tahan ekonomi masyarakat.

Dorongan itu membuat jalur selatan Jawa Tengah atau Jasela mulai dilihat sebagai kawasan yang punya peluang besar untuk naik kelas. Anggota DPD RI Abdul Kholik menilai wilayah ini memiliki modal lengkap untuk menjadi penyangga pangan nasional, asalkan penguatan sektor produksi dan konektivitas antardaerah dijalankan secara terpadu.

Potensi yang tidak kecil di selatan Jawa Tengah

Kholik menilai Jasela tidak hanya bertumpu pada pertanian. Kawasan ini juga memiliki perikanan, pariwisata, dan ekonomi kreatif yang bisa saling menguatkan, dengan basis penduduk sekitar 11,8 juta jiwa yang memberi ruang besar bagi pengembangan ekonomi dan pangan.

Pandangan itu disampaikan dalam Diskusi Kelompok Terpumpun tentang kebijakan dan strategi pengembangan potensi pertanian dan perikanan di Purwokerto, Kabupaten Banyumas. Forum tersebut membahas arah kemandirian pangan di wilayah Barlingmascakeb dan Purwomanggung, terutama kawasan selatan Jawa Tengah.

Menurut Kholik, potensi sebesar itu layak ditempatkan sebagai kekuatan strategis nasional. Namun, ia menegaskan bahwa kekuatan alam dan sumber daya tidak otomatis berubah menjadi keunggulan bila tidak didukung kebijakan yang terarah dan saling terhubung antardaerah.

Tantangan lama masih menekan

Di sisi lain, Jawa Tengah masih menghadapi beban pembangunan yang berat. Kholik menyebut penduduk yang mencapai sekitar 38 juta jiwa, tingginya angka kemiskinan, ketimpangan antarkawasan, tekanan pada sektor pangan akibat alih fungsi lahan, dan lemahnya regenerasi petani sebagai persoalan yang belum ringan.

Kondisi itu membuat pemerataan pusat pertumbuhan ekonomi menjadi kebutuhan mendesak. Ia menilai pembangunan tidak seharusnya terus bertumpu pada wilayah pantai utara, karena kesenjangan antarwilayah masih terlihat nyata.

Perbedaan itu juga tampak dari angka kemiskinan. Ada daerah yang tingkat kemiskinannya sekitar 4 persen, sementara di wilayah selatan masih terdapat daerah dengan angka kemiskinan dua digit.

Pangan diposisikan sebagai industri strategis

Kholik menegaskan bahwa pangan tidak boleh diperlakukan sebagai sektor pelengkap. Ia memandang pangan harus diposisikan sebagai industri strategis, sejajar dengan sektor lain yang selama ini lebih sering dianggap sebagai motor utama ekonomi.

Pandangan tersebut sejalan dengan kebutuhan Jawa Tengah yang menghadapi tekanan pada produksi pangan dan distribusi antarwilayah. Dengan jumlah penduduk besar dan tantangan ketahanan pangan yang semakin kompleks, sektor ini memerlukan pendekatan pembangunan yang lebih serius.

Deputi Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Purwokerto, Mahdi Abdillah, juga menekankan peran pertanian dan perikanan dalam menjaga stabilitas ekonomi daerah. Menurut dia, kedua sektor itu berkaitan langsung dengan pengendalian inflasi, peningkatan investasi, dan penguatan kesejahteraan masyarakat.

Kerja sama lintas daerah jadi kunci

Bank Indonesia terus mendorong ketahanan pangan daerah melalui pengembangan klaster pangan strategis, kerja sama antardaerah, digitalisasi pertanian, penguatan hilirisasi produk, dan peningkatan kapasitas petani serta pelaku usaha. Mahdi menilai langkah itu penting karena setiap wilayah memiliki potensi berbeda yang perlu disambungkan dalam rantai pasok yang efisien dan berdaya saing.

Keterhubungan antardaerah menjadi isu penting karena pengembangan kawasan selatan masih menghadapi hambatan dasar. Kajian LPPM Unsoed menunjukkan konektivitas intra dan antardaerah masih menjadi persoalan utama di wilayah ini.

Kepala Pusat Studi Transportasi dan Pengembangan Wilayah LPPM Unsoed, Probo Hardini, menilai pengembangan Jasela harus memakai pendekatan kewilayahan. Pendekatan itu perlu memperhatikan potensi, karakteristik ruang, persoalan dasar, dan kebutuhan tiap daerah agar pengembangan kawasan tidak berjalan terpisah-pisah.

Probo juga menyoroti ego sektoral yang masih kuat di masing-masing daerah. Menurut dia, tiap daerah sebenarnya punya keunggulan komparatif yang bisa saling melengkapi, sehingga pengembangan kawasan selatan perlu dibangun secara kolaboratif.

Dukungan riset dan arah pembangunan

Dari sisi kebijakan, Prof Slamet Rosyadi menilai arah pengembangan pertanian dan perikanan di Jasela perlu mengacu pada tujuan pembangunan berkelanjutan, khususnya Zero Hunger atau tanpa kelaparan. Ia juga menyebut perguruan tinggi siap mendukung lewat riset, inovasi teknologi, dan pendampingan kebijakan.

Dukungan itu diharapkan dapat membantu peningkatan produktivitas dan nilai tambah sektor pangan di selatan Jawa Tengah. Dengan modal sumber daya yang beragam, basis penduduk yang besar, dan tantangan ketahanan pangan yang masih nyata, kawasan ini kini didorong untuk bergerak dari potensi menuju peran yang lebih strategis.

Source: jateng.antaranews.com
Redaksi Android62
Redaksi Android62

Android62.com menghadirkan berita dari beragam sumber dengan penyajian unik, ringkas, dan informatif untuk pembaca modern.

Newsletter Text above the Email input field
Follow Us
Berita Terbaru