Pertemuan Megawati Soekarnoputri dengan Penasihat Presiden Korea Selatan Lee Jae-myung, Prof. Kim Soo Il, kembali membuka ruang pembicaraan tentang perdamaian di Semenanjung Korea. Dalam perbincangan di kediaman Megawati di Menteng, Jakarta Pusat, isu reunifikasi Korea Utara dan Korea Selatan ikut mengemuka bersama bahasan mengenai dinamika geopolitik global.
Suasana pertemuan disebut hangat dan akrab. Prof. Kim dikenal sebagai mantan diplomat yang dekat dengan Indonesia dan fasih berbahasa Indonesia, sehingga diskusi berlangsung cair meski topik yang dibahas cukup serius.
Sekretaris Jenderal DPP PDIP Hasto Kristiyanto mengatakan pembicaraan itu juga menyinggung kembali peran strategis Megawati sebagai special envoy atau utusan khusus bagi kedua pihak di Semenanjung Korea. Dari pertemuan tersebut, muncul harapan agar Megawati kembali menjembatani upaya damai di kawasan itu.
“Dalam pertemuan, disinggung kembali dan mengharapkan Ibu Megawati menjalankan peran strategis guna mendorong perdamaian di Semenanjung Korea,” kata Hasto. Ia menilai gagasan itu sejalan dengan semangat Bung Karno yang sejak awal mendorong perdamaian di Korea pada masa Perang Dingin.
Nama Megawati memang lama dikaitkan dengan isu Korea, terutama karena hubungan historis yang terjalin sejak era Soekarno dengan Kim Il Sung. Kedekatan itu membuat peran Indonesia dalam percakapan tentang dialog dan rekonsiliasi di Semenanjung Korea kembali mendapat sorotan.
Jejak hubungan itu juga terlihat saat Megawati menjabat Presiden ke-5 RI. Ia pernah berkunjung ke Pyongyang untuk bertemu Kim Jong Il pada 2002, lalu kembali datang pada 2005 untuk membahas hubungan bilateral.
Di sisi lain, hubungan Megawati dengan Korea Selatan juga terbentuk melalui jalur akademik dan diplomasi budaya. Rokhmin Dahuri menjelaskan bahwa Megawati pernah diundang saat pelantikan Presiden Korea Selatan dan menerima sejumlah penghargaan dari institusi pendidikan di negara tersebut.
Menurut Rokhmin, Megawati menerima gelar profesor kehormatan dari Seoul Institute of the Arts pada 2022. Ia juga menerima gelar doktor dari Korean Maritime University pada 2015 dan dari Mokpo National University pada 2017.
Keterlibatan Megawati dalam isu perdamaian Korea juga pernah terlihat saat menjadi pembicara utama dalam DMZ International Forum on the Peace Economy di Seoul pada 2019. Forum itu membahas perdamaian dan reunifikasi Korea, sehingga namanya terus muncul dalam percakapan mengenai stabilitas di Semenanjung Korea.
Di tengah agenda yang serius, pertemuan di Jakarta juga menampilkan suasana ringan. Setelah bertukar cinderamata, Megawati sempat bercanda soal usia Prof. Kim yang terlihat tetap bugar.
“Sekarang berapa umur Prof, Kim?” tanya Megawati. “Saya 73 tahun,” jawab Prof. Kim Soo Il. Mendengar itu, Megawati tersenyum dan mengatakan, “Masih lebih muda. Saya 79.”
Percakapan singkat itu menutup pertemuan dengan nuansa akrab, tanpa mengurangi bobot isu yang dibahas. Bagi pihak yang hadir, pengalaman panjang dan jejaring internasional Megawati kembali dipandang relevan dalam percakapan mengenai perdamaian di Semenanjung Korea.
Source: www.suara.com






