Lonjakan Ekonomi Maluku Utara Ditopang Nikel, Reputasi Global Kini Ditentukan ESG

Sekitar 85 persen pekerja di kawasan industri nikel IWIP berasal dari Maluku Utara. Angka itu menunjukkan bahwa hilirisasi di provinsi ini tidak hanya bergerak di atas kertas, tetapi juga mulai melibatkan masyarakat lokal dalam rantai nilai industri yang lebih besar.

Di saat yang sama, Maluku Utara sedang berada di pusat perhatian pasar global. Wilayah ini memegang peran penting dalam rantai pasok nikel dunia, terutama ketika kebutuhan terhadap mineral kritis makin diwarnai pertanyaan soal dampak lingkungan, manfaat ekonomi, dan standar keberlanjutan.

Posisi Indonesia dalam peta nikel dunia membuat Maluku Utara ikut memikul beban yang tidak kecil. Data US Geological Survey menyebut Indonesia memiliki cadangan nikel terbesar di dunia pada 2026, yakni 62 juta ton atau sekitar 44,3 persen dari total cadangan global, dan sekitar 90 persen cadangan itu berada di Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, dan Maluku Utara.

Besarnya cadangan itu menjadikan kawasan ini sangat strategis bagi industri kendaraan listrik dan transisi energi. Namun, besarnya potensi juga menuntut pembuktian bahwa pertumbuhan industri bisa berjalan beriringan dengan keberlanjutan.

Gubernur Maluku Utara Sherly Tjoanda menilai hilirisasi nikel sudah memberi dampak nyata pada ekonomi daerah. Ia menyebut pertumbuhan ekonomi Maluku Utara tahun lalu mencapai sekitar 34 persen secara tahunan, sedangkan pada kuartal pertama 2026 tercatat 19,64 persen dan menjadi yang tertinggi di Indonesia.

Sherly menegaskan bahwa capaian itu tidak cukup dibaca sebagai keberhasilan angka semata. Menurut dia, hilirisasi telah menciptakan nilai tambah yang nyata bagi daerah, tetapi hasilnya harus dijaga agar tidak berhenti pada pertumbuhan jangka pendek.

Pemerintah daerah juga menaruh perhatian pada aspek lain yang ikut menentukan masa depan industri. Pengawasan lingkungan, transparansi, dan keterlibatan masyarakat dinilai menjadi syarat agar manfaat hilirisasi bisa dirasakan lebih luas dan bertahan lama.

Sherly memberi pesan jangka panjang yang cukup tegas tentang arah pembangunan Maluku Utara. “Lima puluh tahun dari sekarang, Maluku Utara tidak boleh hanya dikenal karena nikel yang diambil dari tanahnya, tetapi karena nilai yang berhasil kita tinggalkan bagi masyarakatnya,” katanya.

Dorongan untuk membangun model yang lebih bertanggung jawab juga mengemuka dalam North Maluku Sustainability Trip yang digelar Kadin Komite Bilateral UK dan Irlandia bersama Kadin Indonesia serta Indonesia Weda Bay Industrial Park (IWIP), Rabu (3/6). Forum ini mempertemukan organisasi internasional, investor, akademisi, pelaku industri, dan pembuat kebijakan untuk melihat langsung ekosistem hilirisasi nikel di Maluku Utara.

Kegiatan tersebut menjadi ruang diskusi untuk menempatkan Maluku Utara sebagai rujukan global bagi responsible downstreaming atau hilirisasi yang bertanggung jawab. Sejumlah lembaga dan organisasi seperti Nickel Institute, International Council on Mining and Metals, Initiative for Responsible Mining Assurance, Global Battery Alliance, Glencore, GIZ, akademisi, dan asosiasi industri ikut terlibat.

Dari sisi pasar, tuntutan yang muncul juga semakin jelas. Ahmad Fikri Susanto, perwakilan Kadin Komite Bilateral UK dan Irlandia sekaligus Direktur BYD Haka Auto, menilai investor dan pembeli kini tidak hanya melihat volume produksi, tetapi juga cara rantai pasok dijalankan, bagaimana lingkungan dijaga, dan sejauh mana masyarakat ikut merasakan manfaat.

Pandangan serupa disampaikan Vice Chair for International Affairs Kadin Indonesia, Bernardino Vega. Ia menyoroti makin kuatnya penggunaan kriteria ESG sebagai prasyarat investasi, sekaligus mencatat bahwa investasi di sektor pengolahan mineral Indonesia meningkat 208 persen pada periode 2019–2022, dari US$3,56 miliar menjadi US$10,96 miliar.

Menurut Bernardino, perusahaan yang mampu menunjukkan praktik pertambangan yang baik serta kinerja ESG yang kredibel dan dapat diverifikasi akan lebih mudah memperoleh investasi jangka panjang dan akses pasar yang lebih strategis. Karena itu, keberhasilan industri kini dinilai tidak cukup diukur dari seberapa banyak hasil yang keluar dari pabrik, tetapi juga dari seberapa meyakinkan tata kelolanya di mata pasar.

Di lapangan, gambaran itu mulai terlihat di Weda. Para peserta kegiatan mengunjungi area pertambangan PT Weda Bay Nickel dan berbagai fasilitas di IWIP, termasuk pengolahan nikel, pengelolaan lingkungan, pusat riset dan pengembangan, serta rantai nilai bahan baku baterai kendaraan listrik yang terintegrasi dalam satu kawasan.

Presiden Direktur PT IWIP Kevin He menyebut investasi di kawasan itu mendukung agenda industrialisasi Indonesia, pengembangan energi yang lebih bersih, percepatan adopsi kendaraan listrik, dan penguatan rantai pasok global yang lebih tangguh. Ia juga mengingatkan bahwa kemajuan industri tidak boleh mengabaikan kewajiban menjaga lingkungan.

Kevin menekankan bahwa keberhasilan jangka panjang hanya mungkin dicapai lewat kolaborasi pemerintah, dunia usaha, masyarakat, dan pemangku kepentingan lain. Sebagai penutup kegiatan, peserta menanam mangrove sebagai simbol upaya menjaga keseimbangan antara pembangunan ekonomi, pelestarian lingkungan, dan kesejahteraan masyarakat di Maluku Utara.

Source: mediaindonesia.com

Disclaimer
Artikel ini disusun dengan bantuan sistem otomasi dan ditinjau oleh redaksi agar tetap sesuai dengan fakta dari sumber rujukan.
Berita Terkait