Kabut tebal, udara dingin, dan lanskap pegunungan membuat perjalanan motor menuju Dieng terasa seperti hadiah setelah menempuh ratusan kilometer jalur panas Pantura. Setibanya di dataran tinggi itu, rasa lelah rombongan langsung terbayar oleh pemandangan yang menyambut mereka.
Perjalanan dari Jakarta menuju Dieng itu tidak dimulai dari suasana sejuk, melainkan dari malam yang panjang di jalan raya. Rombongan berangkat sekitar pukul 22.40 WIB, lebih dulu mengisi penuh bahan bakar, lalu bergerak ke arah Karawang sebelum masuk ke jalur Pantura.
Sepanjang lintasan Pantura, tantangan utama datang dari dua hal yang sama-sama melelahkan. Jalan cor beton yang berlubang berpadu dengan lalu lintas truk besar, membuat jalur ini terasa keras bagi pengendara motor.
Pantura yang panas dan padat
Di malam hari, suasana jalan didominasi lampu kendaraan dan arus kendaraan berat. Kondisi itu membuat perjalanan tidak hanya panjang, tetapi juga menuntut konsentrasi penuh dari rombongan.
Meski begitu, mereka tetap melaju sambil beberapa kali berhenti untuk beristirahat. Wilayah Patrol di Indramayu menjadi salah satu titik singgah sebelum rombongan tiba di Cirebon saat subuh.
Catatan perjalanan menunjukkan motor yang dipakai mampu menempuh sekitar 232 kilometer dari kondisi tangki penuh hingga indikator bensin tersisa dua bar. Setelah itu, rombongan kembali mengisi bahan bakar di Plumbon untuk melanjutkan rute berikutnya.
Perjalanan ke arah Tegal berlangsung saat cuaca cerah, meski suhu di jalur Pantura disebut sangat panas. Kondisi tanpa hujan justru dianggap menguntungkan, karena hujan akan menambah persoalan dalam touring jarak jauh seperti ini.
Sekitar pukul 10.00 WIB, rombongan sudah memasuki wilayah Pemalang. Dari sana, mereka berbelok ke arah Kajen untuk menghindari jalur yang lebih ekstrem menuju kawasan pegunungan.
Masuk wilayah pegunungan
Begitu memasuki Kajen dan Linggo Asri, suasana perjalanan langsung berubah. Jalan mulai menanjak dan pemandangan berganti menjadi area hijau khas pegunungan.
Rute menuju Dieng lewat Linggo Asri dipilih karena dinilai lebih ramah untuk rombongan touring. Jalur ini dianggap tidak seberat rute lain yang memiliki tanjakan lebih curam.
Di kawasan tersebut, rombongan kembali mengisi bensin sebagai persiapan untuk eksplorasi di Dieng. Total biaya bahan bakar selama perjalanan dari Jakarta disebut mencapai sekitar Rp220 ribu.
Memasuki area Dieng, udara dingin mulai terasa jelas meski pengendara hanya memakai rompi dan kaus tipis selama perjalanan. Perubahan suhu ini menjadi salah satu kontras paling terasa setelah berjam-jam berada di jalur panas Pantura.
Saat Dieng menyambut
Pemandangan di sepanjang jalur menuju Dieng menjadi bagian yang paling menarik perhatian. Lembah, perbukitan, dan kabut tipis memberi kesan seperti daerah khayalan, apalagi saat lanskap dipenuhi hamparan pertanian bertingkat di lereng pegunungan.
Kabut tebal yang turun membuat suasana semakin kuat terasa seperti negeri di atas awan. Dari kejauhan hingga titik yang lebih dekat, kabut dan kebun di lereng pegunungan membentuk panorama yang sangat khas.
Rombongan sempat berhenti makan di wilayah Kecamatan Batur sebelum melanjutkan perjalanan ke titik nol Dieng. Setelah tiba di kawasan dataran tinggi itu, mereka beberapa kali berhenti untuk menikmati panorama alam dan mengambil foto.
Menjelang sore, kabut yang turun justru membuat suasana pegunungan semakin dramatis. Di momen inilah rasa lelah setelah menempuh lebih dari 400 kilometer benar-benar terasa lunas.
Bagi pengendara motor, pengalaman seperti ini memberi sensasi yang berbeda dibanding menggunakan mobil. Udara dingin, aroma pegunungan, dan detail suasana sepanjang jalan bisa dirasakan lebih langsung selama perjalanan berlangsung.
Rute Jakarta-Dieng lewat Pantura lalu naik ke Kajen dan Linggo Asri memperlihatkan perubahan medan yang lengkap dalam satu perjalanan. Dari jalan panas, berlubang, dan padat truk, rombongan akhirnya tiba di lanskap pegunungan Dieng yang dingin, berkabut, dan memanjakan mata.
