Kuwait dan Bahrain Masuk Zona Paling Rawan, Serangan Balasan Iran Meluas ke Teluk

Author: Redaksi Android62

Serangan balasan Iran terhadap target Amerika Serikat membuat Kuwait dan Bahrain ikut masuk ke dalam titik paling rawan di kawasan Teluk. IRGC menyebut sejumlah fasilitas militer penting di dua negara itu sebagai sasaran dalam gelombang eskalasi terbaru.

Dalam pernyataannya, Korps Garda Revolusi Islam Iran atau IRGC mengatakan serangan itu dilakukan sebagai respons atas operasi udara AS terhadap wilayah Iran. Target yang disebut mencakup pangkalan udara Ali Al Salem dan Ahmad Al Jaber di Kuwait, serta Pangkalan Udara Sheikh Isa di Bahrain.

Sasaran yang disebut Iran di Kuwait dan Bahrain

IRGC juga mengklaim menargetkan sistem pertahanan udara Patriot dan fasilitas komunikasi yang dipakai Armada Kelima Angkatan Laut Amerika Serikat di Bahrain. Selain itu, Teheran menyatakan telah meluncurkan drone bunuh diri ke arah Armada Kelima AS sebagai balasan atas serangan udara Amerika Serikat di wilayah selatan Iran.

Langkah ini menunjukkan bahwa konflik tidak lagi berhenti pada benturan langsung antara Washington dan Teheran. Aset militer AS yang tersebar di kawasan Teluk kini membuat negara-negara sekitar ikut berada dalam risiko yang lebih tinggi.

Balasan yang dipicu serangan udara AS

Gelombang terbaru ketegangan dimulai ketika Komando Pusat Amerika Serikat atau Centcom melancarkan serangkaian serangan ke sejumlah sasaran di Iran. Centcom menyebut operasi itu sebagai respons atas apa yang mereka klaim sebagai tindakan agresif Iran yang terus berlangsung dan tidak memiliki dasar yang dapat dibenarkan.

Di saat yang sama, kantor berita resmi Iran, Mehr News Agency, melaporkan ledakan di beberapa wilayah selatan negara itu. Ledakan disebut terjadi di Bandar Abbas dan Sirik, serta di dekat Kota Minab yang berada di Provinsi Hormozgan.

Mehr juga melaporkan ledakan di luar Kota Fars yang disebut sebagai hasil aktivasi sistem pertahanan udara Iran saat merespons ancaman dari udara. Aktivitas serupa turut dilaporkan terjadi di wilayah barat Teheran dan di sekitar Pulau Kish di Teluk Persia.

Dampak meluas ke negara tetangga

Selain Kuwait dan Bahrain, efek konflik juga menjalar ke sejumlah negara lain di Timur Tengah. Sejumlah media internasional melaporkan serangan balasan Iran turut menyasar Pangkalan Udara Al Azraq di Yordania.

Empat lokasi disebut menjadi sasaran rudal jarak jauh, termasuk hanggar jet tempur F-35 dan pusat komando militer. Namun, militer Yordania menyatakan berhasil mencegat lima rudal yang diarahkan ke wilayah Azraq dan memastikan tidak ada korban jiwa maupun kerusakan material.

Di Kuwait, angkatan darat setempat juga mengumumkan telah melakukan intersepsi terhadap sejumlah target udara yang bergerak menuju wilayah negaranya. Pemerintah Uni Emirat Arab melaporkan sistem pertahanannya berhasil mencegat beberapa drone dan rudal yang memasuki wilayah udara negara tersebut.

Otoritas Uni Emirat Arab mengecam serangan itu dan menyebutnya sebagai pelanggaran terhadap kedaulatan negara serta bertentangan dengan hukum internasional. Respons itu memperlihatkan meningkatnya kewaspadaan negara-negara Teluk terhadap perluasan konflik.

IRGC memberi sinyal eskalasi lanjutan

Di tengah ketegangan yang terus meningkat, IRGC menegaskan bahwa pasukan Iran siap memberi respons yang lebih besar jika AS kembali melancarkan operasi militer. Dalam pernyataannya, IRGC menyebut setiap tindakan lanjutan dari Washington akan dibalas dengan respons yang menghancurkan dan menentukan.

Iran juga menegaskan AS harus menanggung seluruh konsekuensi dari eskalasi yang meluas di kawasan Timur Tengah. Situasi ini membuat konfrontasi berpotensi tidak berhenti pada serangan balasan, tetapi bisa menyeret lebih banyak titik strategis di Teluk ke dalam konflik yang semakin luas.

Source: www.beritasatu.com
Berita Terbaru