Kapal Niaga AS Tetap Dijaga Ketat Di Hormuz, Gencatan Senjata Dengan Iran Kembali Teruji

Author: Redaksi Android62

Pengawalan kapal niaga oleh Amerika Serikat di Selat Hormuz kini menjadi salah satu tolok ukur paling jelas bagi rapuhnya gencatan senjata dengan Iran. Di saat jalur pelayaran internasional masih dijaga ketat, ketegangan justru meluas lewat serangan baru dan respons militer yang membuat kawasan ini tetap berada dalam siaga tinggi.

Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth menegaskan gencatan senjata masih berlaku untuk saat ini. Meski begitu, ia memisahkan operasi pengawalan kapal yang disebut Project Freedom dari dinamika gencatan senjata itu, seraya menyebut misi tersebut sementara dan dapat berubah bila situasi memburuk lagi.

Project Freedom digelar untuk membantu kapal dagang melewati Selat Hormuz di tengah ancaman Iran. Pada operasi pertama, kapal perang dan pesawat AS mengawal dua kapal dagang, sementara Iran membalas dengan rentetan rudal, drone serang, dan kapal kecil.

Presiden Donald Trump mengatakan tujuh atau delapan kapal kecil milik Iran hancur dalam bentrokan itu. Komando Pusat AS kemudian menyebut 51 kapal telah diarahkan untuk berbalik atau kembali ke pelabuhan di bawah blokade AS terhadap pelabuhan Iran dan kapal yang terkait Iran.

Dalam operasi tersebut, kapal-kapal diarahkan melalui jalur selatan yang menempel ke pesisir Oman, bukan rute tengah selat. Pendekatan itu dipilih karena ada dugaan ranjau laut di jalur utama, sementara Iran sebelumnya meminta kapal memakai jalur utara dan hanya setelah mendapat izin militer Iran.

Maersk mengonfirmasi bahwa salah satu kapal yang dikawal AS berhasil keluar dari Teluk Persia melalui Selat Hormuz. Perusahaan itu menyebut kapal berbendera AS, ALLIANCE FAIRFAX, keluar bersama aset militer AS dan transit berlangsung tanpa insiden.

Ketegangan di laut itu berjalan beriringan dengan serangan lain di wilayah sekitar. Uni Emirat Arab melaporkan serangan rudal dan drone dari Iran untuk hari kedua berturut-turut, dengan otoritas setempat menyebut serangan pada Senin melibatkan 15 rudal Iran dan sejumlah drone yang melukai sedikitnya tiga pekerja.

Kementerian Pertahanan UEA pada Selasa juga mengatakan pertahanan udaranya kembali menghadapi ancaman rudal dan UAV yang berasal dari Iran. Serangan itu memicu kebakaran di kompleks industri Fujairah dan menambah kekhawatiran bahwa konflik tidak lagi terbatas pada AS dan Iran semata.

Di tengah itu, Iranian news agency Fars mengklaim dua kapal dagang berbendera AS kandas di perairan dangkal dan berbatu di lepas pantai Oman. Namun penjelasan dari Strauss Center for International Security and Law menyebut Selat Hormuz dalam dan relatif bebas bahaya pelayaran, bahkan zona pelayaran di selatan Pulau Didimar cukup dalam untuk kapal besar.

Washington sendiri belum menganggap situasi ini melewati ambang eskalasi besar. Hegseth mengatakan militer AS masih siap memulai kembali operasi tempur besar bila diperlukan, tetapi bentrokan yang terjadi sejauh ini dinilai belum melewati batas itu.

Ketua Gabungan Kepala Staf Jenderal Dan Caine mengatakan pasukan AS tetap siap kembali ke operasi tempur besar jika diperintahkan. Ia menambahkan bahwa lebih dari 100 pesawat berada di udara untuk perlindungan dan lebih dari 15.000 personel AS terlibat dalam pengamanan itu.

Caine juga mengatakan Iran telah menyerang pasukan AS lebih dari 10 kali sejak gencatan senjata diumumkan. Menurut dia, serangan Iran terhadap kapal dagang juga terjadi sembilan kali dan dua kapal kontainer telah disita, tetapi semuanya masih berada di bawah ambang eskalasi besar.

Sejumlah negara kawasan ikut bergerak mengantisipasi meluasnya ketegangan. Saudi Arabia menyerukan de-eskalasi, penahanan diri, dan solusi diplomatik, sekaligus menekankan pentingnya mengembalikan navigasi internasional di Selat Hormuz ke kondisi normal.

Jerman juga menyiapkan kapal penyapu ranjau ke Mediterania sebagai persiapan bila diperlukan untuk misi internasional membersihkan Selat Hormuz. Namun Menteri Pertahanan Jerman Boris Pistorius menegaskan pengerahan penuh masih bergantung pada berakhirnya permusuhan antara Iran, AS, dan Israel.

Prancis dan Inggris turut memimpin upaya membangun koalisi negara yang bersedia membantu menjaga selat tetap aman dan dapat dilalui. Langkah ini muncul di tengah kritik Trump terhadap sekutu NATO yang dinilai tidak mau ikut langkah ofensif terhadap Iran.

Dari Teheran, nada yang disampaikan justru makin keras. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baqaei, menegaskan Iran tidak punya permusuhan terhadap negara-negara Arab di Teluk, tetapi memperingatkan agar negara tetangga tidak bergantung pada apa yang disebutnya keamanan impor.

Baqaei juga menyebut kehadiran militer AS sebagai satu-satunya sumber ketidakamanan di kawasan. Dalam pernyataan terpisah, ia menegaskan semua tindakan Iran bersifat defensif dan ditujukan pada aset serta pangkalan militer AS yang dipakai untuk operasi ضد Iran.

Nada serupa datang dari pejabat senior IRGC yang menyatakan Iran belum memulai sepenuhnya dalam perseteruan ini. Mohammad Bagher Ghalibaf, yang juga ketua parlemen Iran, mengatakan status quo tidak tertahankan bagi Amerika Serikat dan pengaruh pihak-pihak yang ia sebut bermusuhan terhadap keamanan pelayaran akan menyusut.

Dampak konflik juga merembet ke Irak dan Korea Selatan. Amerika Serikat memperbarui seruan agar warganya segera keluar dari Irak karena masih ada risiko rudal, drone, dan roket di wilayah udara Irak, sementara milisi yang selaras dengan Iran disebut terus merencanakan serangan tambahan.

Irak telah membuka kembali wilayah udaranya dengan penerbangan komersial terbatas, tetapi kedutaan AS di Baghdad tetap mengingatkan warga agar tidak bepergian ke negara itu. Di sisi lain, Korea Selatan meninjau posisinya terkait partisipasi dalam operasi pengamanan jalur pelayaran AS setelah Trump mendesak Seoul ikut serta.

Kementerian Luar Negeri Korea Selatan menyebut seluruh 24 awak kapal HMM Namu selamat dan api di kapal sudah padam. Kapal itu dilaporkan tak bisa bergerak sendiri setelah kebakaran memutus sumber daya utama, dan kini menunggu ditarik ke pelabuhan Dubai.

Meski situasi di laut masih panas, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan pembicaraan dengan AS masih bergerak maju. Ia juga mengkritik Project Freedom dan menilai tidak ada solusi militer untuk krisis politik, sementara pengawalan kapal niaga dan serangan baru terus membuat gencatan senjata itu tampak semakin rentan.

Redaksi Android62
Redaksi Android62

Android62.com menghadirkan berita dari beragam sumber dengan penyajian unik, ringkas, dan informatif untuk pembaca modern.

Newsletter Text above the Email input field
Follow Us
Berita Terbaru