Ustaz Abdul Somad menilai ada tiga persoalan yang paling dekat dengan kegelisahan masyarakat ketika berbincang dengan Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo di Riau. Isinya menyentuh hajat hidup dasar warga, penertiban media sosial, serta pentingnya menjaga ucapan pejabat publik agar tidak memicu persoalan baru.
Melalui unggahan di Instagram, UAS merangkum bahwa masyarakat membutuhkan harga makanan pokok yang murah, biaya pendidikan yang terjangkau, lapangan kerja yang tersedia, serta layanan kesehatan dan kenyamanan beribadah. Ia menegaskan, tekanan ekonomi yang berat dapat cepat berubah menjadi emosi sosial jika kebutuhan dasar warga tidak diperhatikan.
Tiga poin yang disorot UAS
| Poin | Isi Masukan | Alasan Disorot |
|---|---|---|
| Pemenuhan hajat hidup dasar | Harga pangan murah, pendidikan terjangkau, lapangan kerja tersedia, layanan kesehatan, dan kenyamanan beribadah. | Tekanan ekonomi dapat memicu ketegangan sosial. |
| Penertiban media sosial | Usulan kebijakan one man one account untuk menekan akun palsu. | Akun palsu dinilai merusak psikologis sosial dan menjadi saluran kemarahan yang tidak sehat. |
| Menjaga ucapan pejabat publik | Pejabat diminta berhati-hati agar pernyataan tidak menjadi blunder. | Jika konflik muncul, polisi di lapangan yang akan berhadapan langsung dengan masyarakat. |
Menurut UAS, ruang digital kini tidak hanya dipenuhi arus informasi, tetapi juga akun palsu yang dapat memperkeruh suasana sosial. Karena itu, ia mengusulkan penertiban yang lebih tegas agar media sosial tidak menjadi tempat penyaluran kemarahan yang merusak.
Apresiasi untuk program lingkungan di Riau
Di luar isu sosial dan digital, UAS juga menyinggung persoalan ekologi di Riau yang lama terdampak pembalakan liar dan bencana asap. Ia mengapresiasi inisiatif Green Policing yang disebut telah masuk ke sekolah hingga perkantoran.
Dalam pandangannya, program lingkungan dan pendidikan ekologi seperti itu perlu dijaga kesinambungannya oleh kepemimpinan daerah. UAS juga memuji sikap ramah aparat kepolisian di Riau, mulai dari Polda hingga Polsek, yang dinilainya mampu membangun hubungan personal dan kekeluargaan dengan tokoh agama dan masyarakat.
Pertemuan berlangsung di kediaman UAS di Rimbo Panjang, Kampar, pada Rabu malam setelah pesawat Kapolri mendarat di Bandara Sultan Syarif Kasim II Pekanbaru sekitar pukul 21.00 WIB. Meski sempat dikabarkan batal hadir karena ada panggilan Presiden, Listyo Sigit tetap datang dan berdialog hingga sekitar pukul 23.30 sebelum meninggalkan Ma’had Az-Zahra untuk beristirahat dan melanjutkan agenda di Riau keesokan harinya.
