Lereng Gunung Gombak Ponorogo Terbakar 8 Jam, Api Sempat Dekati Permukiman

Kebakaran hutan dan lahan di kawasan Gunung Gombak atau Gunung Nglarangan, Ponorogo, menghanguskan sekitar 15 hektare lahan dalam waktu sekitar delapan jam. Api sempat bergerak mendekati permukiman warga, tetapi berhasil dicegah agar tidak masuk ke area rumah penduduk.

Peristiwa itu berlangsung sejak Senin sore hingga Selasa dini hari. Titik awal api diketahui muncul di bagian bawah lereng sebelum kemudian merambat ke sejumlah sisi gunung.

Api meluas ke beberapa arah

Kepala Pelaksana BPBD Ponorogo, Masun, mengatakan api pertama kali terlihat sekitar pukul 15.00 WIB pada Senin. Dari titik awal itu, kobaran api menjalar ke atas dan meluas ke sisi utara Gunung Gombak.

Setelah itu, api merambat lagi ke arah barat, timur, hingga sebagian sisi selatan kawasan gunung. Kondisi tersebut membuat petugas gabungan bergerak cepat agar kebakaran tidak semakin melebar.

Delapan jam pemadaman manual

Pemadaman dilakukan secara manual oleh petugas gabungan yang terdiri atas BPBD, TNI, Polri, Perhutani, relawan, pemerintah desa, dan warga sekitar. Mereka menggunakan alat sederhana seperti gepyok serta membuat sekat bakar untuk menahan laju api.

Menurut Masun, upaya pemadaman dimulai sekitar pukul 16.00 WIB dan api baru benar-benar padam sekitar tengah malam. Selama proses itu, petugas berjibaku sekitar delapan jam untuk menuntaskan kobaran api di lereng gunung.

InformasiData
LokasiGunung Gombak atau Gunung Nglarangan, Ponorogo
Luas lahan terbakarSekitar 15 hektare
Waktu api pertama terlihatSenin, sekitar pukul 15.00 WIB
Awal pemadamanSenin, sekitar pukul 16.00 WIB
Api padamSelasa, sekitar tengah malam
Durasi penangananSekitar 8 jam
Jarak api dari permukimanSekitar 100 meter

Permukiman warga sempat terancam

Kobaran api sempat berada sekitar 100 meter dari permukiman warga. Meski jaraknya dekat, Masun memastikan api tidak sampai masuk ke area rumah penduduk.

Setelah api padam, petugas tetap melakukan pemantauan di lokasi. Langkah ini diambil untuk mengantisipasi munculnya titik api baru karena lahan yang terbakar masih menyimpan bara sisa.

Karhutla juga terjadi di wilayah lain

BPBD Ponorogo juga mencatat kejadian karhutla di Kecamatan Sampung, Sambit, dan Balong. Catatan itu menunjukkan musim kemarau masih memicu risiko kebakaran lahan di beberapa titik wilayah Ponorogo.

Karena itu, BPBD mengimbau masyarakat agar tidak membakar lahan dan tidak meninggalkan sumber api di kawasan terbuka. Jika terpaksa menyalakan api untuk kebutuhan tertentu, api harus dipastikan benar-benar padam sebelum lokasi ditinggalkan.

Source: www.cnnindonesia.com
Berita Terkait