Karoseri Lokal Tertekan Truk China Siap Pakai, Order Dealernya Tinggal 1-2 Unit Sebulan

Author: Redaksi Android62

Pesanan karoseri truk di dalam negeri kini menyusut tajam setelah banyak truk impor asal China masuk ke area pertambangan dalam kondisi utuh. Bagi pelaku industri, perubahan ini langsung terasa karena kendaraan tersebut sudah siap kerja dan tidak lagi membutuhkan bak atau rumah truk dari karoseri lokal.

Dampaknya terlihat jelas di PT Metalindo Teknik Utama. Direktur perusahaan, Syarifuddin Tangka, menyebut dealer yang sebelumnya rutin memesan 30 hingga 50 unit per bulan untuk dimodifikasi kini hampir tidak lagi melakukan order, dan yang tersisa hanya sekitar 1-2 unit per bulan.

Truk datang lengkap, pekerjaan lokal ikut hilang

Masalah utama bagi karoseri bukan sekadar turunnya penjualan unit, tetapi berubahnya pola masuk kendaraan ke pasar tambang. Truk impor China yang masuk ke Indonesia disebut sudah membawa dump atau baknya sejak awal, sehingga bisa langsung dipakai tanpa proses modifikasi tambahan.

Kondisi itu membuat kebutuhan terhadap pembuatan bak truk di dalam negeri menyusut drastis. Padahal, lini pembuatan rumah dan bak truk selama ini menjadi bagian penting dari ekosistem kendaraan komersial nasional.

Penurunan pesanan ini juga tidak bersifat sesaat. Menurut Syarifuddin, kondisi tersebut sudah berlangsung dalam 2-3 tahun terakhir dan terus menekan aktivitas produksi karoseri.

Tekanan tidak hanya di pesanan, tetapi juga di lapangan kerja

Bagi PT Metalindo Teknik Utama, bisnis inti perusahaan sangat bergantung pada pembuatan bak atau rumah-rumah truk. Saat truk tambang masuk dalam bentuk lengkap, pekerjaan yang biasanya dikerjakan oleh karoseri lokal ikut menghilang.

Efeknya menjalar ke industri pendukung karena karoseri selama ini mengerjakan tahap akhir agar truk siap dipakai sesuai kebutuhan operasional. Jika tahap itu tidak lagi dibutuhkan, maka ruang kerja di dalam negeri ikut menyempit.

Perubahan ini menunjukkan ada pergeseran besar di pasar kendaraan komersial. Truk tidak lagi datang sebagai unit yang perlu dilengkapi di dalam negeri, melainkan langsung siap operasi sejak masuk.

Persoalan aturan dinilai belum setara

Di sisi lain, Syarifuddin menilai pelaku lokal justru dibebani berbagai ketentuan yang lebih ketat. Ia menyoroti kewajiban TKDN yang harus dipenuhi industri dalam negeri, sementara truk impor yang masuk dalam kondisi lengkap tidak melalui skema yang sama.

Ia juga membandingkan penerapan aturan ODOL, standar emisi, dan dimensi kendaraan. Menurut dia, industri lokal harus mengikuti standar Euro4, sedangkan masih ada truk impor yang disebut menggunakan Euro2 atau Euro3.

Perbedaan perlakuan itu membuat persaingan dinilai tidak seimbang. Pelaku lokal harus mematuhi beragam regulasi, sementara kendaraan impor di area pertambangan dianggap lebih longgar dalam praktiknya.

Keluhan sudah dibawa ke pemerintah

Ketua I Gaikindo, Jongkie D. Sugiarto, mengatakan persoalan ini sudah ditampung dan disampaikan ke Kementerian Perindustrian. Ia menyebut ada beberapa jalur legal atau celah yang dimanfaatkan truk-truk China untuk masuk, termasuk melalui skema investasi.

Gaikindo juga mendorong agar semua kendaraan yang memiliki roda dan mesin wajib lolos standar yang berlaku di Indonesia sebelum digunakan. Usulan itu diarahkan supaya tidak ada perbedaan perlakuan antara produk lokal dan produk impor.

Bagi industri karoseri, isu ini bukan hanya soal persaingan dagang. Selama truk impor terus masuk dalam bentuk utuh dan tanpa beban aturan yang setara, tekanan terhadap pesanan karoseri lokal diperkirakan masih akan bertahan.

Source: oto.detik.com
Berita Terbaru