Kartini Dua Kali Menghiasi Rupiah, Jejak Emansipasi dari Rp 5 hingga Rp 10.000

Wajah Raden Ajeng Kartini tercatat dua kali hadir di uang rupiah, masing-masing pada pecahan Rp 5 dan Rp 10.000. Kehadiran itu membuat sosok Kartini tidak hanya dikenang lewat sejarah dan surat-suratnya, tetapi juga lewat uang yang sehari-hari pernah beredar di masyarakat.

Pada pecahan Rp 10.000, wajah Kartini kembali digunakan Bank Indonesia dalam emisi 1985. Uang ini beredar selama satu dekade sebelum ditarik dari peredaran pada 1995, sehingga menegaskan bahwa figur Kartini tetap dipandang penting dalam simbol resmi negara.

Kartini lebih dulu hadir di pecahan Rp 5

Sebelum tampil di nominal besar, Kartini lebih dulu dicetak pada uang kertas Rp 5 dalam seri tokoh dan kebudayaan. Pecahan ini juga dikenal sebagai seri cetakan pertama dari Bank Indonesia, sehingga memiliki nilai sejarah tersendiri.

Persiapan uang tersebut sudah dilakukan sejak 1952. Namun, peluncuran resminya baru berlangsung pada 2 Juli 1953 setelah Undang-Undang mengenai Bank Indonesia disahkan.

Desain uang Rp 5 menampilkan bentuk persegi panjang dengan dominasi warna abu-abu, biru, dan putih. Di sisi depan, gambar Kartini ditempatkan di bagian kiri dengan pakaian kebaya dan sanggul.

Masih di bagian depan, terdapat tulisan “BANK INDONESIA LIMA RUPIAH”, keterangan tahun 1952, serta tanda tangan resmi Gubernur dan Direktur BI. Nominal uang juga tercetak di sudut kanan atas dan kiri bawah, dipadukan dengan motif roset dan sulur daun.

Tampilan belakang uang Rp 5

Pada sisi belakang, uang ini didominasi warna biru dan cokelat. Elemen utama yang ditampilkan adalah gambar pohon rindang yang dibuat cukup detail untuk memperkuat karakter visual uang tersebut.

Di bagian bawah, terdapat ilustrasi dua ekor ular yang melengkapi komposisi desain. Selain itu, tercantum pula kutipan undang-undang tentang pemalsuan uang serta angka nominal pecahan yang terlihat jelas.

Uang bergambar Kartini itu beredar sekitar sembilan tahun sebelum ditarik dari peredaran pada 1961. Meski masa edarnya tidak panjang, pecahan ini menjadi salah satu medium awal yang menampilkan wajah tokoh perempuan di uang rupiah.

Makna kehadiran Kartini di uang rupiah

Penggunaan wajah Kartini pada dua pecahan berbeda menunjukkan penghargaan negara terhadap peran dan pemikirannya. Dalam konteks simbol resmi, langkah itu menandakan bahwa gagasan emansipasi perempuan mendapat tempat dalam ruang publik yang sangat luas.

Kartini dikenal lewat pemikiran yang mendorong kesadaran baru tentang pendidikan, kesetaraan, dan martabat perempuan. Pengaruhnya juga terus hidup melalui warisan surat-surat yang kemudian dikenal luas sebagai Door Duisternis Tot Licht atau Habis Gelap Terbitlah Terang.

Kehadiran Kartini di uang rupiah memperlihatkan bahwa pengakuan terhadap dirinya tidak berhenti pada buku sejarah. Simbol itu juga menghubungkan identitas nasional dengan penghormatan terhadap perjuangan perempuan yang tidak diwujudkan lewat medan perang, tetapi lewat gagasan dan keberanian berpikir.

Warisan Kartini masih dikenang melalui peringatan Hari Kartini setiap 21 April. Dalam ingatan publik, dua pecahan rupiah yang pernah menampilkan wajahnya menjadi penanda bahwa sosok ini pernah hadir kuat dalam sejarah uang Indonesia sekaligus dalam sejarah penghormatan terhadap perempuan.

Berita Terkait