Kas Vale Indonesia Menyusut 44%, Ciptadana Tetap Menahan Rekomendasi Ke Netral

Author: Redaksi Android62

PT Ciptadana Sekuritas Asia mengubah pandangannya terhadap PT Vale Indonesia Tbk (INCO) menjadi netral dengan target harga Rp6.400 per saham. Penilaian itu muncul karena tekanan kas, kebutuhan pembiayaan, dan belanja modal perseroan dinilai semakin berat di tengah proyek ekspansi yang masih berjalan.

Sorotan terbesar tertuju pada posisi kas Vale Indonesia yang susut 44% hingga tinggal US$376 juta. Di saat yang sama, perusahaan tetap menghadapi kebutuhan dana besar untuk menjaga laju proyek dan operasional, meski sudah mengantongi pembiayaan berbasis keberlanjutan senilai US$750 juta.

Risiko pendanaan dinilai makin menonjol

Analis PT Ciptadana Sekuritas Asia, Ryan Santoso, menyebut beban pendanaan internal menjadi salah satu isu paling penting bagi emiten nikel tersebut. Dalam risetnya, ia memperkirakan utang manajemen dapat naik dari US$350 juta menjadi US$1,25 miliar pada 2027.

Ryan juga menilai dana tambahan yang sudah diperoleh belum cukup untuk meredakan tekanan kebutuhan modal. Kondisi itu membuat pasar cenderung lebih berhati-hati dalam membaca kemampuan Vale Indonesia menjaga likuiditas ketika proyek berjalan tetap menyerap dana besar.

Ciptadana pun memperkirakan arus kas bebas atau free cash flow perseroan masih berada di bawah tekanan. Dengan proyeksi EBITDA 2025 sebesar US$228 juta, perusahaan dinilai berpeluang mencatat free cash flow negatif dalam beberapa tahun ke depan, sementara beban bunga juga berpotensi meningkat.

Prospek usaha masih bergerak, tetapi ruang aman menyempit

Di sisi operasional, prospek Vale Indonesia belum sepenuhnya melemah. Ciptadana memperkirakan pendapatan perusahaan masih bisa tumbuh 37% pada tahun ini, didorong harga nikel yang lebih kuat dan peningkatan volume produksi bijih.

Namun, sebagian sentimen positif itu disebut sudah tercermin pada pergerakan saham. Ryan mencatat saham INCO telah menguat 20% secara year-to-date dan sempat reli lebih dari 53% sebelumnya pada tahun ini.

Bagi pasar nikel, faktor eksternal masih memberi pengaruh besar. Kebijakan pemerintah terkait kuota tambang ikut membentuk dinamika jangka pendek, sementara data kuartal I-2026 menunjukkan harga nikel rata-rata berada di US$17.305 per ton, lebih tinggi dibanding US$15.162 per ton pada periode yang sama tahun lalu.

Biaya bahan bakar ikut menekan margin

Selain kas dan utang, Ciptadana juga menyoroti risiko biaya operasional yang meningkat. Ryan menyebut kenaikan harga minyak dunia bisa menekan margin perusahaan lewat lonjakan biaya bahan bakar di sepanjang rantai nilai bisnis.

“Kami mengasumsikan harga minyak sebesar US$100 per barel yang mendorong biaya bahan bakar naik menjadi 17,7% dari penjualan,” kata Ryan. Ia menilai tekanan seperti itu bisa semakin menggerus profitabilitas INCO apabila berlangsung lebih lama.

Pembiayaan proyek masih menjadi fokus utama

Tekanan pembiayaan Vale Indonesia juga berkaitan erat dengan ekspansi proyek pertumbuhan yang tengah dikerjakan. Perseroan sebelumnya memperoleh fasilitas sustainability linked loan atau SLL senilai US$750 juta dari sindikasi 14 bank untuk mendanai proyek di Pomalaa, Morowali, dan Sorowako Limonite.

Presiden Direktur Vale, Bernardus Irmanto, menyebut fasilitas tersebut sebagai bagian dari strategi jangka panjang perusahaan. Ia mengatakan pinjaman itu disiapkan agar pembiayaan tetap selaras dengan agenda dekarbonisasi sekaligus pertumbuhan usaha.

Dalam rencana penggunaannya, 50% dana dialokasikan untuk IGP Pomalaa, 30% untuk IGP Morowali, dan 20% untuk pengembangan IGP Sorowako Limonite. Pada tahun berikutnya, dana juga akan diarahkan untuk kelanjutan proyek serta pemenuhan hak partisipasi dalam joint venture.

Dengan kebutuhan dana yang masih besar, posisi kas yang menipis, dan potensi utang yang membengkak, Vale Indonesia tetap berada dalam pengawasan pasar. Di saat pendapatan masih punya peluang tumbuh, tekanan pembiayaan dan biaya operasional membuat ruang gerak perseroan belum terasa longgar.

Berita Terbaru