Kasus Ebola Menjauh Ke Kivu Selatan, Pelacakan Di Kongo Timur Makin Sulit

Author: Redaksi Android62

Di tengah upaya penanganan yang masih rapuh, Kivu Selatan kini menjadi titik perhatian baru setelah kasus Ebola terkonfirmasi muncul jauh dari episentrum awal di Ituri. Temuan ini membuat pelacakan kontak dan pengendalian penularan semakin sulit karena jarak antarlokasi yang lebar dan situasi keamanan yang belum stabil.

Kasus baru di provinsi timur Republik Demokratik Kongo itu memperkuat kekhawatiran bahwa Ebola sudah bergerak lintas wilayah tanpa terdeteksi lebih awal. Para ahli menilai virus itu mungkin telah beredar sekitar dua bulan di Ituri sebelum akhirnya dikenali pekan lalu, sementara kasus yang muncul kemudian justru berada ratusan kilometer dari titik awal.

Penyebaran masuk ke wilayah yang rentan konflik

Otoritas aliansi pemberontak yang menguasai wilayah tersebut menyebut pasien berada di area pedesaan dekat Bukavu, ibu kota Provinsi South Kivu. Alliance Fleuve Congo, yang mencakup kelompok M23 yang didukung Rwanda, mengatakan pasien berusia 28 tahun itu telah meninggal dan dimakamkan dengan aman.

Kelompok itu juga menyebut pasien sempat bepergian dari Kisangani di bagian utara, meski tidak merinci pergerakan terakhirnya. Di saat yang sama, satu kasus Ebola lain juga telah dikonfirmasi di Goma, ibu kota Provinsi North Kivu yang berada di bawah kendali M23.

Angka suspek terus naik

Kementerian kesehatan Republik Demokratik Kongo pada Kamis melaporkan 670 kasus suspek dan 160 kematian suspek. Dari jumlah itu, 61 kasus telah terkonfirmasi, menunjukkan wabah masih berkembang di tengah pelacakan yang belum sepenuhnya stabil.

Di South Kivu, juru bicara kesehatan Claude Bahizire mengatakan ada dua kasus suspek, termasuk kasus yang berakhir fatal. Satu pasien lainnya masih diisolasi sambil menunggu hasil tes, menandakan verifikasi kasus di lapangan masih berjalan.

Respons lintas batas ikut mengeras

Uganda juga mengonfirmasi dua kasus di wilayahnya. Pemerintah setempat pada Kamis mengatakan akan menangguhkan penerbangan ke Republik Demokratik Kongo dalam 48 jam ke depan sebagai langkah pencegahan untuk menekan risiko penyebaran lintas batas.

WHO telah menyatakan wabah strain Bundibugyo, yang belum memiliki vaksin, sebagai darurat kesehatan masyarakat yang menjadi perhatian internasional. Jane Halton dari Coalition for Epidemic Preparedness Innovations menyebut kasus yang sudah diumumkan kemungkinan baru menggambarkan “puncak gunung es”.

Layanan kesehatan dan bantuan ikut tertekan

CEPI kini menilai kandidat vaksin untuk Ebola. Halton mengatakan target lembaganya untuk memiliki vaksin yang aman dan efektif bagi wabah besar dalam 100 hari mungkin tercapai, meski upaya itu akan sangat berat.

Para pekerja bantuan di lapangan mengatakan mereka kekurangan pasokan dasar. Sebagian mengaitkan kondisi itu dengan pemotongan bantuan luar negeri dari donor besar yang melemahkan layanan kesehatan lokal dan pengawasan penyakit.

Inggris mengatakan pada Kamis akan mengalokasikan hingga 20 juta pound untuk respons wabah. Amerika Serikat, yang memberi sekitar 600 juta dolar pada respons 2018-2020, sejauh ini telah menjanjikan 23 juta dolar dan pada Selasa mengatakan akan membantu membuka hingga 50 klinik di Republik Demokratik Kongo dan Uganda.

Namun kementerian kesehatan Uganda mengatakan pada Rabu malam bahwa pihaknya belum diajak berkonsultasi mengenai rencana klinik dari AS. Pemerintah Uganda juga menegaskan belum ada transmisi lokal yang diketahui di wilayahnya.

Ketegangan di lapangan mempersulit penanganan

Di Ituri, salah satu titik panas wabah, bentrokan pecah di kota Rwampara pada Kamis setelah keluarga korban Ebola mempersoalkan penyebab kematian dan menuntut jenazahnya. Para saksi Reuters mengatakan massa berkumpul di luar rumah sakit dan membakar tenda yang dikelola lembaga medis ALIMA.

Polisi kemudian melepaskan tembakan peringatan dan gas air mata untuk membubarkan kerumunan. Insiden itu mengingatkan pada wabah 2018-2020 di timur Republik Demokratik Kongo, ketika ratusan pusat kesehatan diserang kelompok bersenjata dan warga marah dalam wabah yang menjadi yang kedua paling mematikan dalam catatan dengan hampir 2.300 kematian.

Para petugas tanggap darurat memperkirakan kekerasan bersenjata yang meluas di timur Republik Demokratik Kongo akan kembali menghambat penanggulangan wabah. Di wilayah itu, puluhan milisi masih aktif dan ketidakpercayaan warga terhadap petugas medis tetap menjadi tantangan besar.

Dampaknya mulai terasa ke kawasan sekitar

Menteri Informasi Uganda, Chris Baryomunsi, mengatakan negaranya memiliki kapasitas untuk menahan wabah. Ia juga menilai langkah Amerika Serikat yang melarang sebagian besar pelancong dari Uganda, Republik Demokratik Kongo, dan Sudan Selatan sebagai reaksi berlebihan.

Uni Afrika juga menyebut KTT India-Africa Forum Summit di New Delhi yang dijadwalkan pada 28-31 Mei akan dijadwal ulang karena “situasi kesehatan masyarakat yang muncul di benua itu”. Dengan kasus baru yang terus muncul jauh dari episentrum, wabah Ebola di timur Kongo kini bergerak di tengah konflik, mobilitas lintas wilayah, dan krisis kepercayaan publik yang masih membayangi respons kesehatan di lapangan.

Redaksi Android62
Redaksi Android62

Android62.com menghadirkan berita dari beragam sumber dengan penyajian unik, ringkas, dan informatif untuk pembaca modern.

Newsletter Text above the Email input field
Follow Us
Berita Terbaru