Jumlah anak yang diduga menjadi korban kekerasan di Daycare Little Aresha, Yogyakarta, kini melonjak menjadi 93 orang. Angka itu jauh melampaui pendataan sebelumnya yang hanya mencatat 53 anak, sehingga kasus ini kian menyita perhatian publik.
Polisi menyebut data terbaru tersebut bersumber dari catatan Pemerintah Kota Yogyakarta setelah melakukan pendekatan kepada para orang tua. Dari puluhan anak yang sudah terdata, baru 10 orang yang resmi melapor ke polisi.
Kasatreskrim Polresta Yogyakarta Kompol Riski Adrian mengatakan penyelidikan dilakukan dengan sangat hati-hati karena perkara ini melibatkan anak-anak. Ia juga meminta orang tua korban segera mendatangi posko pengaduan atau Polresta Yogyakarta agar proses pelaporan berjalan lebih jelas.
Laporan resmi itu juga menjadi syarat penting untuk membuka jalan pengajuan restitusi korban ke LPSK. Karena itu, kepastian administrasi dinilai penting agar penanganan kasus bisa bergerak lebih rapi dan terukur.
Lokasi kasus berada di Daycare Little Aresha, Sorosutan, Umbulharjo, Yogyakarta. Perkembangan jumlah korban ini menunjukkan bahwa dampak dugaan kekerasan tersebut belum berhenti pada pendataan awal.
Di saat perhatian publik masih tertuju pada kasus daycare di Yogyakarta, Kongres FIFA di Vancouver, Kanada, ikut memanas. Sorotan muncul setelah perwakilan Palestina dan Israel terlibat momen yang mencuri perhatian peserta sidang.
Presiden Asosiasi Sepak Bola Palestina Jibril Rajoub menolak berjabat tangan dengan Wakil Presiden Federasi Sepak Bola Israel Basim Sheikh Suliman. Insiden itu terjadi setelah keduanya menyampaikan pidato di hadapan peserta kongres dan kemudian dipanggil FIFA ke atas panggung.
Namun keduanya berdiri berjauhan saat berada di panggung. Rajoub lalu memprotes dengan suara keras sebelum meninggalkan panggung, sementara dalam pidatonya ia mendesak FIFA menindaklanjuti tuduhan bahwa Israel melanggar aturan anti-diskriminasi.
Situasi tersebut membuat forum sepak bola dunia itu terseret ke dalam ketegangan politik yang belum mereda. Momen singkat di Vancouver pun menjadi salah satu bagian paling disorot dari pertemuan FIFA tersebut.
Di tengah dua isu besar itu, perhatian pembaca juga mengarah pada proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia dari LPEM FEB UI. Peneliti LPEM FEB UI, Teuku Riefky, memperkirakan ekonomi Indonesia tumbuh 5,48 persen secara tahunan pada kuartal I 2026, dengan kisaran 5,46 persen hingga 5,50 persen.
Proyeksi itu disebut ditopang faktor musiman Ramadan dan Idulfitri, pencairan THR, serta basis yang rendah pada kuartal I 2025. Sejumlah kabar lain yang ikut ramai juga menyorot dugaan kekerasan terhadap asisten rumah tangga yang menyeret nama Rien Wartia Trigina atau Erin.
Penyalur ART, Nia Damanik, menyampaikan pengakuan Hera bahwa ia kerap dimaki, ditoyor, dan mengalami perlakuan kasar hampir setiap hari. Menurut keterangan itu, laporan ke polisi baru dibuat setelah tindakan kasar disebut tidak hanya menggunakan tangan.
Sorotan berbeda datang dari dunia otomotif, ketika Porsche disebut gagal memetik hasil sesuai harapan dari strategi mobil listriknya. Kondisi keuangan pabrikan asal Jerman itu memburuk tajam pada awal 2026, setelah dalam empat tahun terakhir sempat mencatat margin laba operasional sekitar 20 persen.
Laporan terbaru menunjukkan laba operasional Porsche anjlok 98 persen dan margin keuntungan turun menjadi 0,3 persen. Dalam kondisi itu, setiap mobil seharga Rp 3 miliar yang terjual kini hanya menyumbang keuntungan bersih sekitar Rp 9 juta.
Source: www.beritasatu.com






