Usai Pernikahan Putri, Kebahagiaan Ekstrem Picu Gangguan Jantung pada Perempuan

Seorang perempuan berusia 65 tahun mengalami nyeri dada selama tiga hari setelah menghadiri pernikahan putrinya. Pemeriksaan kemudian mengarah pada gangguan jantung sementara yang diduga dipicu kebahagiaan sangat kuat.

Kondisi langka ini dikenal sebagai happy heart syndrome, bagian dari sindrom takotsubo yang dapat menyerupai serangan jantung. Meski risikonya bagi masyarakat umum rendah, keluhan dada dan sesak napas tetap membutuhkan pemeriksaan medis segera.

Pemeriksaan Tidak Menemukan Sumbatan Arteri

Tim medis melakukan pemeriksaan mendesak karena pasien juga merasakan sesak napas yang semakin berat ketika beraktivitas. Gejala tersebut perlu dibedakan dari serangan jantung akibat penyumbatan pembuluh darah koroner.

Hasil pemeriksaan tidak menemukan penyakit arteri koroner obstruktif, pheochromocytoma, maupun miokarditis. Dokter justru mendapati pembesaran serta pelemahan ventrikel kiri dengan pola ballooning yang mengarah pada sindrom takotsubo.

Ventrikel kiri merupakan ruang utama jantung yang memompa darah ke seluruh tubuh. Pada kondisi ini, kemampuan bagian tersebut untuk memompa dapat terganggu secara sementara.

Setelah mendapatkan penanganan dan pemantauan, fungsi jantung pasien membaik dalam pemeriksaan lanjutan. Kasus tersebut dilaporkan dalam jurnal Oxford Medical Case Reports.

Lonjakan Hormon Stres Dapat Memengaruhi Jantung

Kondisi ini berkaitan dengan lonjakan hormon stres, termasuk adrenalin dan noradrenalin, yang dapat memengaruhi kerja otot jantung. Respons tubuh tersebut tidak hanya dapat terjadi ketika seseorang mengalami tekanan atau kesedihan mendalam.

Philip Lee, konsultan dokter bidang kedokteran akut dan kedokteran lansia, menjelaskan kepada IFLScience bahwa kondisi ini dapat berbahaya. “Pada dasarnya, terlalu banyak noradrenalin atau adrenalin menyebabkan bagian bawah jantung berhenti memompa dengan baik.”

Gangguan yang dikenal sebagai happy heart syndrome muncul ketika sindrom takotsubo dipicu peristiwa menggembirakan. Emosi positif yang sangat intens dapat memunculkan respons tubuh yang serupa dengan tekanan emosional negatif.

Sindrom takotsubo lebih umum disebut sebagai broken heart syndrome karena sering muncul setelah kehilangan orang terdekat, pertengkaran, masalah keuangan, atau peristiwa traumatis. Bentuk yang dipicu kebahagiaan jauh lebih jarang ditemukan.

KondisiPemicu UmumPola Gangguan Jantung
Broken heart syndromeStres, kesedihan, atau traumaLebih sering berpola apikal klasik
Happy heart syndromeEmosi positif sangat kuatLebih sering terkait ballooning tengah atau basal

Gejala Tidak Boleh Dianggap Ringan

Pasien dengan sindrom takotsubo dapat mengalami nyeri dada, sesak saat beraktivitas, serta perubahan pada elektrokardiogram dan pemeriksaan medis lain. Gambaran tersebut membuat kondisinya sulit dibedakan dari sindrom koroner akut tanpa evaluasi klinis.

Berbeda dari serangan jantung akibat penyakit koroner, sindrom takotsubo tidak disertai sumbatan pada arteri koroner. Namun, kondisi ini tetap berisiko memicu komplikasi berat, termasuk henti jantung mendadak setelah pemicu fisik atau emosional.

Secara umum, broken heart syndrome diperkirakan mencakup sekitar 1–2 persen dari seluruh dugaan kasus sindrom koroner akut. Bentuk yang dipicu perasaan gembira hanya mencakup bagian yang jauh lebih kecil dari kelompok tersebut.

Peneliti mencatat bentuk yang dipicu emosi positif cenderung menunjukkan gejala lebih ringan dan hasil jangka pendek yang lebih baik. Meski begitu, data tambahan masih diperlukan untuk memahami perbedaan risikonya secara lebih lengkap.

Keluhan nyeri dada atau sesak napas setelah momen emosional, baik menyenangkan maupun menyedihkan, tidak seharusnya disepelekan. Pemeriksaan diperlukan untuk menyingkirkan serangan jantung dan menentukan penyebab gangguan fungsi jantung dengan tepat.

Berita Terkait