Penyakit diare menular masih menyebabkan hampir 1,2 juta kematian setiap tahun. Risiko tersebut dapat semakin rumit ketika perubahan iklim mengubah kondisi yang memudahkan patogen menyebar melalui air.
Ancaman tidak hanya muncul ketika banjir merendam permukiman dan mencemari pasokan air minum. Kekeringan, suhu ekstrem, serta gangguan infrastruktur juga dapat membuka celah penularan penyakit yang ditularkan melalui air.
Risiko Tidak Berhenti Saat Hujan Reda
Banjir dan curah hujan tinggi memang kerap dikaitkan dengan kenaikan risiko penyakit. Air yang meluap dapat membawa patogen ke sumber air minum dan meningkatkan peluang masyarakat terpapar.
Namun, kekeringan juga membawa persoalan tersendiri karena akses terhadap air bersih dapat menyusut. Kondisi ini dapat mengubah cara masyarakat menggunakan air yang tersedia untuk kebutuhan sehari-hari.
Artinya, wilayah dengan ancaman banjir maupun kekurangan air sama-sama memerlukan perlindungan yang memadai. Ketersediaan air minum aman, sanitasi, dan praktik kebersihan menjadi bagian penting dari perlindungan tersebut.
Patogen Tidak Merespons Iklim dengan Cara yang Sama
Laporan dalam Nature Reviews Microbiology menyoroti bahwa bakteri, virus, dan parasit memiliki respons berbeda terhadap perubahan suhu, kelembapan, serta kondisi lingkungan lain. Perbedaan itu membuat pengendalian wabah tidak dapat mengandalkan satu pendekatan umum.
Peningkatan suhu dalam skala besar dapat mendukung pertumbuhan bakteri. Sebaliknya, sejumlah virus seperti rotavirus dan adenovirus dapat lebih mudah menyebarkan penyakit pada kondisi yang lebih dingin dan kering.
Karena itu, langkah yang efektif menghadapi satu patogen belum tentu memadai untuk patogen lainnya. Pengawasan penyakit perlu mempertimbangkan jenis mikroorganisme serta kondisi iklim yang sedang dihadapi suatu wilayah.
| Langkah Perlindungan | Fungsi Utama |
|---|---|
| Infrastruktur air, sanitasi, dan kebersihan tahan iklim | Menjaga air minum aman dan sanitasi saat cuaca berubah. |
| Pengawasan patogen spesifik | Mendukung deteksi dini serta intervensi di wilayah paling membutuhkan. |
| Praktik kebersihan | Mengurangi peluang penularan dari air yang tidak aman. |
| Penguatan vaksinasi | Membantu mencegah penyakit akibat air kotor, terutama setelah bencana. |
Deteksi Dini Menjadi Kunci
Pengawasan kesehatan tidak cukup bila hanya memakai pendekatan yang sama untuk seluruh kasus. Pemantauan yang diarahkan pada patogen tertentu dapat membantu petugas menemukan wilayah dengan kebutuhan paling mendesak.
Intervensi yang lebih cepat penting ketika kondisi cuaca telah mengganggu sumber air atau sanitasi. Perubahan iklim juga dapat menghambat distribusi vaksin melalui kerusakan infrastruktur, putusnya akses jalan, dan gangguan rantai pendingin.
Penelitian itu melibatkan peneliti dari Colorado School of Public Health, University of Colorado Anschutz, dan University of Washington School of Public Health. Profesor Elizabeth Carlton menyatakan, “Kami ingin masyarakat mengetahui bahwa perubahan iklim mengubah kondisi yang memungkinkan patogen menyebar.”
Carlton, yang memimpin Departemen Kesehatan Lingkungan dan Kerja di Colorado School of Public Health, menilai perubahan tersebut dapat menciptakan lingkungan yang lebih menguntungkan bagi sejumlah penyakit menular mematikan. Adaptasi perlu disusun dengan memperhitungkan respons masing-masing patogen agar potensi wabah dapat diantisipasi sebelum meluas.
Source: www.suara.com






