Kemunculan kerbau albino di Bangladesh menarik perhatian bukan hanya karena tampilannya yang tidak biasa, tetapi juga karena statusnya yang sangat jarang. Pada mamalia besar seperti kerbau, peluang lahir dengan albinisme sejati diperkirakan hanya sekitar 1 dari 100.000 kelahiran, sehingga wajar bila hewan ini langsung menjadi sorotan.
Tubuhnya yang krem, hidungnya yang merah muda, dan rambut pirang panjang di dahinya membuat banyak orang membandingkannya dengan Presiden AS Donald Trump. Dari jauh, ciri fisik itu memang terlihat mencolok, apalagi saat menjelang Idul Adha banyak warga datang dari berbagai daerah untuk melihat langsung dan berfoto dengannya.
Tidak semua kerbau putih adalah albino
Perhatian publik juga ikut memunculkan pertanyaan tentang perbedaan kerbau putih biasa dan kerbau albino. Kerbau yang tampak pucat belum tentu mengalami albinisme, karena ada kondisi lain bernama leucism yang membuat hewan terlihat terang tetapi warna matanya tetap normal.
Berbeda dengan itu, kerbau albino sejati biasanya memiliki bulu putih bersih, kulit pucat, dan mata merah muda atau kemerahan. Ciri-ciri inilah yang membuat kemunculannya dianggap langka, terutama di Asia Selatan yang memiliki populasi kerbau cukup besar.
Akar masalahnya ada pada gen
Albinisme pada kerbau terjadi karena kelainan genetik yang mengganggu produksi melanin. Melanin adalah pigmen alami yang memberi warna pada kulit, mata, dan bulu.
Penyebab utamanya berkaitan dengan mutasi pada gen TYR atau tyrosinase. Gen ini berperan menghasilkan enzim penting untuk pembentukan melanin, dan perubahan genetik dari G menjadi A membuat enzim tersebut tidak bekerja normal.
Saat produksi pigmen terhenti, bulu kerbau tampak putih bersih. Kulit dan matanya juga terlihat pucat atau merah muda karena hampir tidak ada pigmen warna.
Sifatnya bisa diwariskan dari kedua induk
Albinisme termasuk kelainan genetik autosomal resesif. Artinya, kerbau harus menerima dua salinan gen albino, masing-masing dari induk jantan dan betina, agar lahir sebagai albino.
Jika hanya membawa satu gen mutasi, kerbau tetap terlihat normal. Namun hewan itu menjadi pembawa sifat atau carrier dan masih bisa menurunkan sifat tersebut ke generasi berikutnya.
Risiko kelahiran kerbau albino juga lebih tinggi pada populasi kecil atau kelompok ternak yang sering mengalami perkawinan sedarah. Dalam kondisi seperti itu, peluang bertemunya dua gen mutasi menjadi lebih besar.
Lebih rentan dan lebih mudah menarik perhatian
Kerbau albino sejati umumnya lebih sulit bertahan hidup dibanding kerbau biasa. Hewan ini sangat sensitif terhadap sinar matahari dan juga rentan mengalami gangguan penglihatan.
Karena itu, kerbau albino membutuhkan perlindungan ekstra, termasuk tempat teduh dan perawatan khusus. Kondisi tersebut ikut membuat kemunculannya semakin jarang terlihat, baik di alam maupun di peternakan.
Di Bangladesh, penampilannya yang tidak lazim membuat hewan ini cepat menyebar di media sosial. Wajah yang berbeda dan tubuh yang pucat menjadikannya pusat perhatian, sekaligus menegaskan mengapa kerbau albino selalu memancing rasa penasaran publik.
Source: www.idntimes.com