Kemarau Kian Meluas Di Jawa Tengah, Pagi 10 Mei Diperkirakan Masih Berawan Dan Kabur

Author: Redaksi Android62

Sebagian wilayah Jawa Tengah pada awal kemarau mulai menghadapi kondisi udara yang lebih kering. Pada pagi 10 Mei, BMKG memprediksi cuaca masih didominasi berawan hingga udara kabur, sehingga jarak pandang di sejumlah titik bisa menurun.

Situasi ini perlu menjadi perhatian, terutama bagi warga yang beraktivitas sejak pagi di jalur perbukitan dan dataran tinggi. Kabut tipis atau asap tipis dapat mengganggu pandangan saat udara kabur muncul lebih kuat pada jam-jam awal hari.

BMKG menjelaskan, udara kabur biasanya muncul ketika partikel kering melayang di atmosfer saat curah hujan mulai berkurang. Ketika hujan tidak cukup untuk membersihkan polutan, kualitas udara pagi hari dapat terasa lebih rendah.

Kondisi tersebut juga berkaitan dengan risiko iritasi pernapasan. Karena itu, masker disarankan bagi masyarakat yang harus beraktivitas di luar ruangan pada pagi hari.

Di Jawa Tengah dan sekitarnya, cuaca tidak sepenuhnya seragam. Semarang dan daerah sekitarnya diprediksi tetap cerah berawan, sementara kawasan dataran tinggi berpeluang mengalami penurunan jarak pandang.

Perbedaan kondisi juga terlihat di wilayah sekitar Jawa Tengah bagian selatan. Kulon Progo diprakirakan berawan, sedangkan Bantul dan Gunungkidul berpotensi mengalami udara kabur.

Kota Yogyakarta diprediksi cerah berawan, sementara Sleman diprakirakan berawan. Untuk Kulon Progo, suhu berada pada kisaran 23 hingga 31 derajat Celsius dengan kelembapan 66–98 persen.

Bantul diperkirakan memiliki suhu 22 hingga 32 derajat Celsius dan kelembapan 63–99 persen. Gunungkidul berada pada suhu 22 hingga 31 derajat Celsius dengan kondisi asap atau udara kabur, sedangkan Kota Yogyakarta diprediksi 23 hingga 32 derajat Celsius dengan kelembapan 57–98 persen.

Sleman diprakirakan berada pada rentang suhu 23 hingga 31 derajat Celsius dengan kelembapan 59–97 persen. Rentang suhu yang masih bisa mencapai 32 derajat Celsius membuat kebutuhan menjaga hidrasi tetap penting di beberapa wilayah.

Prakiraan awal Mei ini sejalan dengan makin meluasnya musim kemarau di Jawa Tengah. Stasiun Klimatologi Jawa Tengah mencatat sekitar 52 persen wilayah provinsi sudah memasuki musim kemarau penuh pada periode Mei.

BMKG juga menyebut iklim 2026 diperkirakan berada pada kondisi normal, tanpa pengaruh kuat La Nina maupun El Nino. Dalam pola seperti ini, durasi kemarau rata-rata di wilayah tersebut berlangsung 4 hingga 5 bulan, meski di beberapa daerah bisa mencapai 7 bulan.

Dampak kemarau mulai terasa pada sektor pertanian, terutama dari sisi ketersediaan air irigasi. Petani di Jawa Tengah bagian tengah dan timur diminta waspada terhadap penurunan suplai air ketika musim kering semakin menguat.

BMKG mengimbau masyarakat mulai menyimpan cadangan air dan memakai air bersih secara efisien. Sekitar 28 persen wilayah disebut baru akan memasuki musim kemarau pada Juni, sehingga tingkat kekeringan tidak akan sama di setiap kabupaten dan kota.

Warga juga diminta mengurangi pembakaran sampah di lahan terbuka karena dapat memperburuk polusi udara kabur. Pada pagi hari, kondisi udara yang kering dan kualitas udara yang menurun membuat kehati-hatian menjadi penting, terutama bagi pengendara dan pekerja lapangan.

Source: www.babelinsight.id
Redaksi Android62
Redaksi Android62

Android62.com menghadirkan berita dari beragam sumber dengan penyajian unik, ringkas, dan informatif untuk pembaca modern.

Newsletter Text above the Email input field
Follow Us
Berita Terbaru