Kepulauan Canary Jadi Tempat Penanganan Darurat Kapal Pesiar Terjangkit Hantavirus, Evakuasi Dimulai

Author: Redaksi Android62

Otoritas Spanyol menyiapkan evakuasi darurat bagi penumpang dan awak kapal pesiar MV Hondius setelah hantavirus menewaskan sejumlah orang di atas kapal dan membuat situasi medis di laut itu semakin mendesak. Kepulauan Canary dipilih sebagai titik sandar karena menjadi lokasi terdekat yang dinilai memiliki kemampuan medis memadai untuk menangani keadaan tersebut.

Kementerian Kesehatan Spanyol menyebut keputusan itu diambil setelah Organisasi Kesehatan Dunia menilai Cape Verde tidak mampu menerima 147 orang yang masih berada di kapal. Pemerintah Spanyol juga menegaskan ada kewajiban moral dan hukum untuk membantu para penumpang, termasuk beberapa warga negara Spanyol.

Evakuasi diprioritaskan untuk kasus paling serius

Spanyol akan menerima penerbangan medis yang membawa dokter kapal, seorang warga negara Belanda, yang kondisinya disebut sangat serius. Permintaan resmi untuk pemindahan itu datang dari pemerintah Belanda, yang sebelumnya juga menyatakan siap menerima para penumpang yang dievakuasi.

Oceanwide Expeditions menyebut perjalanan menuju Kepulauan Canary akan memakan waktu tiga hari pelayaran. Perusahaan itu mengatakan MV Hondius akan berlabuh di Gran Canaria atau Tenerife setelah penumpang dan awak yang membutuhkan evakuasi diturunkan lebih dulu.

Pemeriksaan dan pemulangan dilakukan setelah kapal tiba

Setibanya di Kepulauan Canary, seluruh awak dan penumpang akan diperiksa, dirawat, lalu dipulangkan ke negara masing-masing. Proses itu akan dilakukan dengan koordinasi bersama Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Eropa serta WHO.

Kementerian Kesehatan Spanyol menyatakan semua langkah pengamanan yang diperlukan akan diterapkan. Perawatan medis dan transportasi akan disediakan melalui fasilitas serta kendaraan khusus agar tidak terjadi kontak dengan warga setempat dan untuk melindungi tenaga kesehatan.

Korban sudah jatuh di atas kapal

Hingga kini, seorang pasangan asal Belanda dan seorang warga Jerman telah meninggal akibat penyakit langka itu di atas kapal pada awal April. Seorang warga Inggris yang dievakuasi dari kapal saat ini dirawat di unit perawatan intensif di Afrika Selatan, menurut pejabat setempat.

Operator kapal mengatakan dua awak memerlukan perawatan medis mendesak. Satu orang lain di kapal yang diduga terinfeksi hanya melaporkan demam ringan.

WHO menilai risiko publik tetap rendah

WHO menyebut ada kemungkinan penularan antarmanusia yang jarang terjadi di antara kontak dekat di atas kapal. Maria Van Kerkhove, direktur kesiapsiagaan dan pencegahan epidemi dan pandemi WHO, mengatakan penularan itu diduga terjadi di antara pasangan suami istri atau orang-orang yang berbagi kabin.

Van Kerkhove juga mengatakan WHO bekerja bersama operator kapal dan negara asal para penumpang. Ia menambahkan bahwa pihaknya memahami situasi ini menimbulkan ketakutan bagi orang-orang yang masih berada di atas kapal.

Badan kesehatan dunia itu menegaskan risiko bagi masyarakat luas tetap rendah. WHO juga menerima informasi bahwa tidak ada tikus di atas kapal, padahal hantavirus biasanya menyebar dari hewan pengerat yang terinfeksi melalui urine, kotoran, dan air liur.

Dugaan sumber penularan masih ditelusuri

Penularan terbatas di antara kontak dekat pernah terjadi dalam sejumlah wabah sebelumnya dari strain Andes, yang menyebar di Amerika Selatan termasuk Argentina. Van Kerkhove mengatakan masa inkubasi hantavirus biasanya antara satu hingga enam minggu, sehingga WHO menduga pasangan Belanda yang sempat bepergian di Argentina sebelum naik kapal kemungkinan tertular di luar kapal.

WHO juga menyebut kasus lain mungkin tertular saat mengikuti perjalanan mengamati burung ke pulau-pulau yang menjadi habitat burung dan hewan pengerat. Perjalanan semacam itu memang menjadi bagian dari pelayaran kapal pesiar tersebut.

MV Hondius berangkat dari Ushuaia, Argentina, pada 1 April menuju Cape Verde dengan 88 penumpang dan 59 awak dari 23 negara. Kapal itu kemudian menempuh rute yang mencakup Semenanjung Antarktika, South Georgia, dan Tristan da Cunha, sejumlah pulau yang dikenal sangat terpencil.

Pelayaran mewah itu dipasarkan sebagai ekspedisi alam Antarktika dengan harga kabin antara 14.000 dan 22.000 euro. Di antara penumpangnya terdapat banyak warga Inggris, Amerika, dan Spanyol.

Korban pertama, seorang pria asal Belanda, meninggal pada 11 April. Jenazahnya tetap berada di kapal hingga 24 April, ketika disembarkan di St Helena dan istrinya ikut mendampingi proses repatriasi.

Istrinya sempat mengalami gejala gastrointestinal saat diturunkan dari kapal, lalu kondisinya memburuk selama penerbangan ke Johannesburg. Ia meninggal saat tiba di unit gawat darurat pada 26 April, dan WHO mengatakan pelacakan kontak bagi penumpang dalam penerbangan itu sedang berlangsung.

Otoritas Afrika Selatan telah mengonfirmasi bahwa pasien asal Inggris yang dirawat di rumah sakit Johannesburg juga dinyatakan positif hantavirus. Dengan evakuasi yang kini disiapkan, fokus utama beralih ke pemindahan aman para penumpang dan awak yang masih berada di MV Hondius.

Berita Terbaru