Kerahasiaan ChatGPT Dipersoalkan, Alat Pelacak Diduga Mengalirkan Kueri ke Google dan Meta

Author: Redaksi Android62

Gugatan class action terhadap OpenAI kini menempatkan cara kerja ChatGPT dalam sorotan hukum yang lebih serius. Perusahaan itu dituduh membagikan kueri pengguna ke Google dan Meta tanpa persetujuan yang memadai, dengan dugaan bahwa data yang ikut terbaca mencakup detail pribadi dan alamat email.

Perkara tersebut diajukan di pengadilan federal California pada Rabu. Inti tuduhannya adalah adanya alat pelacak yang tertanam di ChatGPT.com dan diduga mengirim data secara otomatis ke dua perusahaan teknologi besar itu.

Dalam gugatan, OpenAI disebut menanamkan kode dari Meta dan Google untuk kebutuhan analitik serta periklanan di situs ChatGPT. Dua teknologi yang menjadi pusat perhatian adalah Meta Pixel dan Google Analytics, yang lazim dipakai operator situs untuk mengukur trafik dan mendukung penargetan iklan.

Penggunaan alat seperti itu memang umum di internet. Sistem tersebut membantu pemilik situs memahami aktivitas pengunjung dan, dalam praktiknya, dapat dipakai untuk menampilkan iklan yang lebih sesuai dengan perilaku pengguna.

Namun, tuduhan dalam perkara ini menyentuh konteks yang jauh lebih sensitif. Gugatan menyiratkan bahwa kueri yang diketik pengguna di ChatGPT dapat ikut dimanfaatkan untuk mendukung penayangan iklan tertarget secara online.

Isu ini langsung memicu perhatian karena chatbot AI sering diperlakukan sebagai ruang pribadi digital. Banyak orang memakai ChatGPT untuk bertanya soal kesehatan, masalah hukum, keuangan, hingga persoalan pribadi dengan asumsi percakapannya tidak diperlakukan seperti lalu lintas iklan biasa.

Dalam dokumen perkara, penggugat menilai pengguna memiliki ekspektasi privasi yang wajar saat berinteraksi dengan chatbot AI. Mereka juga menekankan bahwa privasi di ChatGPT berkaitan erat dengan kendali individu atas data pribadi mereka.

Kekhawatiran tersebut diperkuat oleh rujukan pada laporan Cyberhaven. Laporan itu memperkirakan sekitar 1 persen data yang ditempelkan karyawan ke ChatGPT bersifat rahasia, sehingga risiko paparan informasi sensitif tidak lagi terbatas pada penggunaan oleh perusahaan saja.

Artinya, perhatian tidak hanya tertuju pada data yang dikirim saat orang menjelajah web. Jika informasi pribadi yang dipakai saat meminta bantuan dari chatbot ikut terbaca oleh pelacak pihak ketiga, persoalannya bergeser ke ranah yang selama ini dianggap jauh lebih privat oleh pengguna.

Gugatan ini diajukan untuk mewakili warga Amerika Serikat yang memasukkan kueri ke ChatGPT.com. Penggugat menuduh OpenAI melanggar California Invasion of Privacy Act dan Electronic Communications Privacy Act, yang di dalam berkas perkara juga disebut CIPA.

Selain meminta ganti rugi, penggugat juga menuntut agar praktik yang dipersoalkan dihentikan. Dengan demikian, perkara ini tidak hanya mengejar kompensasi, tetapi juga perubahan pada cara data pengguna diduga dikumpulkan dan dibagikan.

Sampai laporan ini ditulis, OpenAI belum memberi tanggapan atas gugatan tersebut. Statusnya masih berupa klaim hukum yang belum diuji di persidangan, dan pengadilan juga belum memutus apakah perusahaan benar melakukan pelanggaran seperti yang dituduhkan.

Kasus ini bukan yang pertama menyorot penggunaan pelacak di layanan AI. Sebelumnya, keluhan serupa pernah diajukan terhadap Perplexity AI terkait dugaan penggunaan pelacak Meta dan Google, sebelum perkara itu dibatalkan secara sukarela.

Rangkaian perkara tersebut menunjukkan bahwa pemakaian alat analitik dan iklan di layanan AI kini berada di bawah pengawasan yang lebih ketat. Yang dipersoalkan bukan semata teknologinya, melainkan jenis informasi yang dapat ikut tersentuh ketika layanan yang dipakai adalah chatbot percakapan.

Source: www.indiatoday.in
Berita Terbaru