Pola impor non-migas Indonesia pada awal 2026 memperlihatkan ketergantungan yang makin jelas pada tiga negara utama. China, Australia, dan Jepang menyumbang 52,97 persen dari total impor non-migas sepanjang Januari hingga Maret, sehingga arah pasokan barang ke dalam negeri tampak semakin terkonsentrasi.
Di antara ketiganya, China masih berdiri paling dominan. Nilai impornya mencapai US$22,02 miliar atau setara 41,56 persen dari keseluruhan impor non-migas nasional, jauh meninggalkan pemasok lain.
Komposisi barang dari China juga menunjukkan bahwa impor itu tidak sekadar besar dari sisi nilai. Mesin dan peralatan mekanis menjadi komoditas utama dengan pertumbuhan kumulatif 21,04 persen, sementara peralatan elektrik memegang pangsa 22,20 persen.
Data tersebut menguatkan gambaran bahwa pasokan dari China sangat terkait dengan kebutuhan industri. Barang yang masuk banyak menyasar alat produksi, komponen industri, dan perangkat listrik yang dipakai di dalam negeri.
Australia menyusul di posisi kedua dengan nilai impor US$3,14 miliar. Negara ini menonjol terutama karena lonjakan perhiasan dan logam mulia yang tumbuh sangat tinggi pada periode tersebut.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono menyebut impor logam mulia dan perhiasan dari Australia tumbuh 469,05 persen secara C-to-C. Selain itu, Indonesia juga masih mengimpor serealia dari Australia dengan porsi 12,55 persen.
Meski begitu, ada juga penurunan pada bahan tertentu dari negara tersebut. Impor bahan bakar mineral dari Australia justru turun 21,52 persen, sehingga struktur barang yang masuk menjadi lebih beragam dan tidak hanya bertumpu pada satu kelompok komoditas.
Jepang berada di urutan ketiga dengan nilai impor US$2,90 miliar. Di negara ini, mesin dan peralatan mekanis tetap menjadi komoditas utama meski secara keseluruhan kelompok impornya turun 24,80 persen.
Hubungan impor dengan sektor otomotif juga masih terlihat kuat dari Jepang. Produk kendaraan dan bagiannya menyumbang pangsa 12,78 persen, sedangkan besi dan baja turun 23,24 persen secara kumulatif.
Ateng Hartono menilai struktur impor tersebut mencerminkan ketergantungan pada barang modal dan bahan perantara dari mitra dagang utama. Karena itu, dominasi China, Australia, dan Jepang bukan hanya soal besarnya nilai impor, tetapi juga jenis barang yang menopang aktivitas industri nasional.
Jika dilihat bersama, China memasok mesin dan listrik, Australia menguat lewat logam mulia dan serealia, sementara Jepang tetap hadir melalui mesin, kendaraan, dan baja. Dalam tabel BPS, China tercatat sebagai negara asal impor non-migas terbesar dengan kontribusi 41,56 persen, sedangkan Australia dan Jepang mengikuti di bawahnya sebagai penopang utama arus impor non-migas Indonesia.







