Komunitas Muslim di Jepang kini diperkirakan mencapai 420 ribu jiwa, dan lebih dari separuhnya merupakan warga negara Indonesia. Pertumbuhan ini membuat kebutuhan atas tempat ibadah, pendidikan agama, dan pembinaan komunitas semakin mendesak.
Salah satu jawaban yang tengah didorong adalah pembangunan Masjid Al-Muttaqin yang akan difungsikan sebagai Islamic Center di Matsudo, Chiba. Fasilitas ini dipandang bukan hanya sebagai ruang salat, tetapi juga pusat kegiatan yang menopang kehidupan Muslim di tengah masyarakat yang mayoritas nonmuslim.
Peran Masjid di Tengah Minoritas Muslim
Sensei Kyoichiro Sugimoto dari Chiba Islamic Culture Center menegaskan bahwa masjid memiliki dampak yang sangat besar bagi Muslim di Jepang. Ia menyebut fungsi masjid melampaui ibadah harian karena juga menjadi ruang dakwah, pembinaan generasi muda, dan dukungan bagi para mualaf.
Dalam pernyataannya, Sugimoto menyoroti situasi sosial di Jepang yang sangat timpang bagi Muslim. Menurut dia, 99,9 persen penduduk Jepang beragama nonmuslim, sehingga kehadiran masjid atau Islamic Center menjadi penopang penting bagi komunitas yang hidup sebagai minoritas.
Ia juga mengaitkan fungsi itu dengan sejarah awal masyarakat Muslim di Madinah pada masa Nabi Muhammad SAW. Dalam pandangannya, masjid menjadi fondasi yang menghidupkan komunitas dan menjaga keberlangsungan umat.
Pendidikan Agama Masih Sangat Dibutuhkan
Selain tempat ibadah, kebutuhan yang mengemuka adalah sarana pendidikan agama yang permanen. Purwati Kasmaja, istri Sugimoto, mengatakan banyak keluarga ingin anak-anak mereka belajar agama tanpa harus dikirim ke luar negeri.
“Kami sangat membutuhkan tempat edukasi. Kalau tidak ada, terpaksa kami mengirimkan anak-anak ini ke negara-negara Muslim. Mengapa tidak kita hadirkan kompetensi ke Jepang? Harapan kami ke depannya, ada ustaz-ustaz yang dikirim ke sana untuk merintis model pendidikan yang permanen,” ujarnya.
Gagasan itu menunjukkan bahwa kebutuhan Muslim di Jepang tidak berhenti pada ruang salat. Ada tuntutan yang lebih luas, mulai dari pendidikan, pembinaan keluarga, hingga kesinambungan komunitas di masa depan.
Kolaborasi untuk Menjawab Tantangan
Rencana pembangunan pusat kegiatan tersebut dibahas dalam pertemuan perwakilan Chiba Islamic Culture Center dan Dompet Dhuafa di Jakarta, Kamis (25/6/2026). Pertemuan itu menekankan pentingnya kerja sama lintas pihak untuk mendukung fasilitas bagi Muslim di Jepang.
Ketua Dewan Pengurus Dompet Dhuafa Ahmad Juwaini menyebut pembangunan Islamic Center sebagai pekerjaan yang menantang dan memerlukan sinergi banyak pihak. Menurut dia, fasilitas seperti ini tidak hanya berguna untuk ibadah, tetapi juga untuk pendidikan, kegiatan sosial, dan kampanye budaya Islam di tengah masyarakat Jepang.
Ahmad menambahkan bahwa dukungan dari individu yang peduli juga dibutuhkan agar sarana pendidikan Islam dan kegiatan keagamaan dapat berjalan dengan baik. Dengan jumlah Muslim yang terus bertambah, kebutuhan ruang ibadah dan pembinaan diperkirakan ikut meningkat.
Di sisi lain, Sugimoto mengakui ada tantangan yang tetap harus dihadapi, termasuk sentimen Islamofobia dan gerakan anti-Muslim di media sosial. Namun, ia menilai tantangan itu masih bisa dijawab melalui kerja sama yang kuat dan kehadiran pusat komunitas yang solid.
| Informasi | Rincian |
|---|---|
| Jumlah Muslim di Jepang | Diperkirakan 420 ribu jiwa |
| Komposisi terbesar | Lebih dari separuhnya warga negara Indonesia |
| Lokasi proyek | Matsudo, Chiba |
| Rencana fasilitas | Masjid Al-Muttaqin yang difungsikan sebagai Islamic Center |
| Waktu pertemuan pembahasan | Kamis (25/6/2026) di Jakarta |
Di tengah pertumbuhan komunitas Muslim yang semakin nyata, kebutuhan akan masjid, pendidikan, dan ruang pembinaan kini dipandang sebagai bagian yang tidak bisa dipisahkan. Karena itu, pembangunan Islamic Center di Matsudo menjadi salah satu langkah yang dinilai penting untuk menjawab kebutuhan jangka panjang Muslim di Jepang.
