Komunitas Suluk Lamuk Hidupkan Deres Buku, Warga Temanggung Duduk Setara Membahas Bacaan

Di Temanggung, buku tidak berhenti sebagai bahan bacaan di rak. Melalui kegiatan Deres Buku yang digelar Komunitas Suluk Lamuk, warga justru didorong untuk duduk bersama, membahas isi bacaan, dan bertukar gagasan dalam suasana yang terbuka.

Format seperti ini membuat literasi terasa lebih dekat dengan kehidupan sosial sehari-hari. Buku diposisikan sebagai pemantik percakapan, bukan sekadar objek yang dibaca sendiri tanpa ruang untuk merespons isi dan pemikirannya.

Kegiatan tersebut juga memperlihatkan bahwa upaya menghidupkan literasi bisa tumbuh dari inisiatif akar rumput. Di Temanggung, komunitas hadir bukan hanya untuk menyediakan agenda membaca, tetapi juga untuk menjaga kebiasaan berdialog lewat bacaan.

Ruang yang mengundang percakapan

Deres Buku dirancang sebagai forum yang hangat bagi warga yang memiliki minat pada buku dan pemikiran. Format terbuka ini memberi kesempatan bagi masyarakat untuk terlibat langsung tanpa batas yang kaku antara pembaca dan pegiat komunitas.

Pendekatan itu penting karena budaya literasi tidak cukup bergantung pada ketersediaan buku. Yang juga diperlukan adalah kebiasaan untuk menafsirkan, membahas, dan merespons isi bacaan bersama-sama.

Peserta datang dari beragam latar

Kegiatan ini diikuti pelajar, mahasiswa, hingga pegiat komunitas. Kehadiran peserta dari latar belakang yang berbeda membuat forum tidak hanya ramai, tetapi juga kaya sudut pandang.

Pertemuan lintas latar belakang memberi ruang bagi pengalaman yang beragam untuk bertemu dalam satu obrolan. Dari sana, satu bacaan bisa memunculkan tafsir baru dan memperluas cara pandang terhadap tema yang dibahas.

Literasi sebagai bagian dari kehidupan sosial

Di ruang seperti Deres Buku, bacaan tidak berhenti sebagai teks. Buku berubah menjadi pintu masuk untuk membicarakan pemikiran sekaligus merawat budaya dialog di tengah masyarakat.

Pendekatan ini menunjukkan fungsi sosial buku yang lebih luas. Ketika percakapan tetap hidup, literasi mendapat tempat yang lebih nyata dalam kehidupan sehari-hari warga.

Peran komunitas lokal

Kehadiran komunitas seperti Suluk Lamuk memperlihatkan bagaimana ruang literasi dapat dibangun secara dekat dan partisipatif. Forum semacam ini memungkinkan pembaca dari berbagai kelompok bertemu dalam satu wadah yang menonjolkan minat dan percakapan.

Dengan menjaga ruang diskusi tetap terbuka, buku memiliki kesempatan untuk hadir bukan hanya sebagai bacaan pribadi. Di Temanggung, langkah itu menjadi cara untuk membuat literasi tumbuh bersama kebiasaan berdialog di tengah masyarakat.

Source: jateng.antaranews.com

Berita Terkait