Kontrak Sewa Di Tehran Kian Membengkak, Banyak Penyewa Terpaksa Memilih Bertahan atau Menjauh

Author: Redaksi Android62

Di Tehran, tekanan pasar sewa rumah kini bukan lagi sekadar soal harga yang naik, tetapi juga soal pilihan hidup yang makin sempit. Banyak penyewa harus memilih antara menandatangani kontrak baru yang jauh lebih mahal, pindah ke wilayah yang lebih jauh, atau menerima hunian yang kualitasnya makin turun.

Kondisi itu terasa nyata bagi Mohammad, warga Tehran berusia 29 tahun, ketika kontrak apartemen yang ia tempati diperpanjang pekan ini. Pemilik unit berusia 20 tahun itu menaikkan harga sewa menjadi 230 juta rial dari 130 juta rial, padahal pendapatan Mohammad tidak ikut bergerak naik.

Tekanan yang tidak seimbang dengan pendapatan

Mohammad bekerja sebagai pengemudi aplikasi transportasi dan memutuskan bertahan di tempat tinggalnya. Menurut dia, pindah justru bisa membuat biaya membengkak, terutama karena lingkungan tempat tinggalnya tidak langsung menjadi sasaran serangan udara Amerika Serikat dan Israel pada akhir Februari.

Opsi yang lebih murah biasanya datang dengan konsekuensi lain. Unit yang ditawarkan sering kali lebih kecil, lebih tua, atau berada di Tehran selatan, sehingga waktu tempuh ke tempat kerja bisa bertambah sekitar satu jam setiap hari.

Bagi banyak keluarga, situasi itu membuat pembaruan kontrak tahunan menjadi sumber kecemasan baru. Upah minimum bulanan di Iran sekitar 90 dolar dan bisa mencapai 120 dolar setelah subsidi, kupon elektronik, serta tunjangan pernikahan atau perumahan dihitung, sementara banyak penyewa diyakini hidup di bawah garis kemiskinan.

Harga terus naik di pasar yang lesu

Data Badan Statistik Iran menunjukkan sewa naik 31 persen secara tahunan pada Farvardian, bulan pertama kalender Persia yang berakhir pada 20 April. Untuk Tehran sendiri, data resmi belum dirilis, tetapi laporan media lokal dan asosiasi properti menyebut harga di ibu kota kini rata-rata 30 hingga 40 persen lebih tinggi dibandingkan tahun lalu.

Di beberapa area yang lebih tidak terdampak perang, kenaikan harga bergerak lebih cepat. Walau angka itu masih di bawah inflasi tahunan 73 persen pada bulan yang sama, tekanan harga diperkirakan meningkat lagi dalam pekan-pekan berikutnya.

Pasar yang sudah bergerak dari basis harga sangat tinggi juga makin berat sebelum perang terjadi. Karena upah tidak mengejar laju kenaikan, penyewa terpaksa membayar mahal demi mempertahankan tempat tinggal sederhana atau menerima kompromi yang membatasi pilihan hidup mereka.

Pilihan pindah yang makin sering dipertimbangkan

Seorang agen properti di Tehran mengatakan jumlah kontrak hunian yang ditandatangani makin sedikit karena ketidakpastian atas kemungkinan perang kembali meletus. Ia melihat perubahan besar dalam cara orang bertahan, mulai dari mencari teman sekamar untuk menekan biaya hingga kembali ke kota kecil, pinggiran kota, atau rumah orang tua.

Pindah ke wilayah yang lebih jauh memang bisa menurunkan beban sewa, tetapi sering berarti waktu perjalanan lebih panjang dan akses yang lebih rumit ke tempat kerja. Itulah sebabnya sebagian penyewa memilih bertahan meski harus menerima kenaikan harga yang berat.

Sementara itu, harga beli rumah juga melonjak tajam, bahkan di sejumlah wilayah kenaikannya melampaui inflasi yang sudah sangat tinggi. Biaya bahan bangunan yang terus naik ikut menekan pengembang, dan sebagian proyek dihentikan sambil menunggu kepastian apakah perang akan berakhir.

Bantuan pemerintah belum cukup menahan beban

Pemerintah Iran berada di bawah tekanan anggaran akibat sanksi berat Amerika Serikat dan Perserikatan Bangsa-Bangsa. Dukungan bagi warga pun terbatas, sementara pasar properti terus bergerak jauh di luar jangkauan banyak penyewa.

Asosiasi Realtors Tehran menyebut Dewan Keamanan Nasional Tertinggi telah memutuskan kontrak sewa yang habis selama perang bisa diperpanjang otomatis sampai dua bulan. Pemerintah juga menetapkan batas kenaikan sewa tahunan sebesar 25 persen, tetapi media lokal melaporkan angka itu praktis menjadi lantai, bukan batas yang benar-benar mengikat.

Pinjaman untuk membantu uang deposit kontrak sewa memang tersedia, tetapi nilainya sering tidak cukup, terutama di Tehran. Besar pinjaman itu mencapai 3,65 miliar rial di Tehran, lalu turun menjadi 2,8 miliar rial di ibu kota provinsi, 1,85 miliar rial di kota lain, dan 750 juta rial di desa.

Bantuan darurat juga diberikan kepada warga yang kehilangan rumah atau rumahnya rusak selama perang. Mereka ditempatkan di hotel oleh Pemerintah Kota Tehran atau otoritas setempat, dan sebagian berhak atas dukungan tambahan untuk uang sewa.

Namun, kerusakan akibat bom juga bisa memunculkan persoalan hukum bagi penyewa rumah rusak. Menurut ILNA, kewajiban membayar sewa umumnya tetap berlaku kecuali unit mengalami cacat atau kerusakan yang memengaruhi kelayakan huni.

Di tengah situasi yang belum stabil, harga di sektor perumahan diperkirakan tetap bergerak naik seperti sektor lain dalam ekonomi yang terjebak di antara perang dan damai. Presiden Iran Masoud Pezeshkian mengakui tekanan itu dengan mengatakan, “Kami berperang, tetapi kami punya masalah. Kami pasti akan mengalami inflasi lebih lanjut. Mereka yang berperang harus menanggung kesulitan.”

Berita Terbaru