Banyak Orang Tua Jatuh Sakit, Korban Hanania Travel Mengadu ke DPR

Author: Redaksi Android62

Dampak dugaan penipuan umrah dan haji oleh Hanania Travel disebut meluas hingga memukul kondisi kesehatan para keluarga korban. Di hadapan Komisi III DPR RI, perwakilan korban menyampaikan bahwa banyak orang tua jatuh sakit setelah mendengar keberangkatan ibadah yang mereka tunggu gagal total.

Perwakilan korban, Uli Amelia Septriani, hadir membawa suara sekitar 1.200 korban yang menuntut pertanggungjawaban. Berdasarkan pendataan mandiri para korban, jumlah jemaah yang terdampak diperkirakan mencapai 3.000 orang dari berbagai daerah di Indonesia.

Batal berangkat dalam hitungan jam

Uli menjelaskan bahwa pembatalan keberangkatan terjadi secara mendadak, bahkan pada sejumlah jemaah yang sudah bersiap penuh untuk berangkat. Sebagian korban disebut telah berada di bandara dan mengenakan seragam, namun tetap tidak bisa terbang ke Tanah Suci.

Ia menuturkan, pembatalan paling parah terjadi pada tanggal 25 dengan pemberitahuan H-6 jam. Kondisi itu membuat banyak jemaah yang sudah mengatur seluruh persiapan keberangkatan harus menerima kenyataan pahit secara tiba-tiba.

Menurut Uli, sekitar 1.500 jemaah semestinya berangkat pada musim Syawal. Ada pula sekitar 1.400 jemaah lain yang dijadwalkan berangkat pada Juni hingga Juli, sementara calon jemaah yang telah membayar uang muka atau menabung juga masih menunggu giliran pada Agustus hingga Desember.

Kerugian materiil dan beban psikologis

Dalam penyampaiannya, Uli menegaskan bahwa kerugian materiil memang penting untuk dipulihkan, tetapi beban psikologis yang dialami para korban jauh lebih berat. Ia menyebut ada keluarga yang sengaja tidak langsung memberi kabar kepada orang tua karena khawatir kondisi kesehatan mereka semakin memburuk.

“Kerugian materiil bisa dicari. Betul, kami memang menuntut keadilan agar uang yang menjadi hak kami dikembalikan semaksimal mungkin. Tapi kerugian immateriil yang kami alami begitu besar,” ujarnya.

Ia juga mengungkapkan bahwa dana yang disetor ke Hanania Travel berasal dari banyak latar belakang kehidupan. Ada tabungan anak yatim piatu, orang tua tunggal, dan para pekerja keras yang menabung dalam waktu lama demi bisa beribadah ke Tanah Suci.

Korban tersebar dari berbagai daerah

Uli menuturkan bahwa masalah ini tidak hanya menimpa warga Jakarta atau kota-kota besar di Jawa. Para korban juga datang dari berbagai daerah lain, termasuk Makassar hingga Papua, sehingga persoalan ini dirasakan luas di banyak keluarga.

Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa pembatalan keberangkatan bukan sekadar urusan satu kelompok kecil. Banyak jemaah dari daerah berbeda harus menanggung ketidakpastian setelah menyiapkan ibadah yang telah lama mereka rencanakan.

Seruan agar negara turun tangan

Di hadapan anggota dewan, Uli meminta negara hadir untuk melindungi para korban, memberikan pendampingan, dan memastikan hak mereka dipulihkan. Ia menegaskan bahwa ibadah adalah hak dasar konstitusional setiap warga negara.

“Kalau bukan kepada negara sekarang kami meminta untuk dilindungi, untuk didampingi, untuk mendapatkan apa yang memang hak kami, ke mana lagi kami harus bergerak?” ucapnya.

Ia juga mendesak pemerintah dan aparat penegak hukum mengambil langkah tegas agar kasus serupa tidak terus berulang. Menurut dia, pengalaman para korban Hanania Travel harus menjadi pelajaran agar tata kelola penyelenggaraan perjalanan ibadah dibenahi secara serius.

Uli bahkan menyinggung pentingnya solusi nyata agar persoalan ini tidak kembali menjadi luka yang sama seperti kasus serupa sebelumnya. Para korban, kata dia, hanya ingin hak dasar mereka untuk beribadah dipulihkan tanpa janji yang berlarut-larut.

Source: www.suara.com
Berita Terbaru