Kredit Bank Masih Tumbuh 9,49 Persen, Saat IHSG Sempat Turun Tajam

Minat investor terhadap pasar keuangan domestik masih terjaga kuat, terlihat dari terus bertambahnya jumlah investor pasar modal dan kripto. Di sisi lain, dana yang berhasil dihimpun juga tetap besar, meski IHSG sempat terkoreksi cukup dalam pada triwulan I/2026.

Di pasar modal, jumlah single investor identification atau SID naik menjadi 24,7 juta pada triwulan I/2026 dan mendekati 26 juta investor pada awal Mei. Penghimpunan dana sampai 5 Mei 2026 pun mencapai Rp59,35 triliun dan didominasi penerbitan efek bersifat utang.

Kondisi itu memperlihatkan bahwa aktivitas pasar masih bergerak, walau sentimen saham sempat tertekan oleh volatilitas global dan domestik. Pada 31 Maret 2026, IHSG berada di level 7.048,22 dan terkoreksi 18,49% secara year-to-date, meski masih tumbuh 8,26% secara tahunan.

Memasuki awal Mei, indeks mulai memperlihatkan pemulihan. Pada 5 Mei 2026, IHSG ditutup di level 7.057,11 atau naik 1,44% secara month-to-date.

Perbankan tetap menjadi penopang utama

Di tengah pergerakan pasar yang naik turun, Otoritas Jasa Keuangan menilai perbankan tetap solid. Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi menyebut intermediasi bank masih kuat karena modal, likuiditas, dan kualitas aset tetap terjaga.

Kredit perbankan pada Maret 2026 tumbuh 9,49% secara tahunan menjadi Rp8.659 triliun. Pendorong terbesar datang dari kredit investasi yang naik 20,85%.

Dari sisi pendanaan, dana pihak ketiga atau DPK turut menguat 13,55% menjadi Rp10.230 triliun. Ketahanan permodalan juga tampak dari capital adequacy ratio atau CAR sebesar 25,09% dan loan to deposit ratio atau LDR 84,64%.

Kualitas aset bank masih terkendali. Rasio kredit bermasalah atau NPL gross tercatat 2,1%, NPL net 0,8%, sementara loan at risk berada di level 8,9%.

Sektor nonbank ikut menjaga stabilitas

Selain bank, industri asuransi juga menunjukkan perkembangan positif. Aset sektor ini mencapai Rp1.195,75 triliun, naik 4,38% secara tahunan, dengan tingkat permodalan yang masih jauh di atas batas minimum yang dipersyaratkan.

Dana pensiun juga bertumbuh. Asetnya naik 10,49% menjadi Rp1.684,89 triliun, menandakan pengelolaan dana jangka panjang masih bergerak stabil.

Pada industri pembiayaan, piutang pembiayaan tercatat Rp514,09 triliun dengan pertumbuhan 0,61% secara tahunan. Risiko di sektor ini disebut tetap terkendali.

Pembiayaan pinjaman daring mencatat laju yang lebih cepat. Nilai pembiayaan pindar naik 26,25% menjadi Rp101,03 triliun, meski tingkat kredit macetnya berada di 4,52%.

Kripto dan pasar modal masih menarik perhatian

OJK juga mencatat pertumbuhan pada ekosistem aset kripto. Hingga Maret 2026, jumlah investor kripto mencapai 21,37 juta dengan nilai transaksi Rp22,24 triliun.

Data itu menunjukkan bahwa minat terhadap aset digital belum surut. Di saat yang sama, pasar modal domestik tetap mendapat aliran partisipasi baru dari investor ritel.

Kombinasi pertumbuhan investor, penghimpunan dana, dan ketahanan sektor keuangan membuat sistem keuangan Indonesia dinilai tetap stabil. OJK menegaskan gambaran ini muncul meski pasar global masih bergejolak dan saham sempat mengalami koreksi.

Untuk menjaga momentum tersebut, OJK menyiapkan sejumlah langkah lanjutan. Agenda itu mencakup reformasi pasar modal, percepatan pembiayaan program perumahan dan UMKM, serta penguatan ekosistem bullion nasional melalui roadmap 2026–2031.

OJK juga telah menerbitkan ketentuan terkait reksa dana berbasis emas atau ETF emas. Kebijakan ini diarahkan untuk memperdalam pasar keuangan domestik dan memperluas pilihan instrumen investasi bagi investor.

Source: finansial.bisnis.com

Android62
Redaksi Android62

Android62.com menghadirkan berita dari beragam sumber dengan penyajian unik, ringkas, dan informatif untuk pembaca modern.

Newsletter Text above the Email input field
Follow UsGoogle NewsFlipboard
Berita Terkait
Berita Terbaru
Populer