Kelangkaan chip memori global kini disebut mulai menekan rencana Apple untuk MacBook Pro generasi berikutnya. Model yang sebelumnya dikabarkan membawa layar sentuh itu berpeluang molor dari akhir 2026 ke awal 2027.
Perubahan jadwal ini muncul di tengah lonjakan kebutuhan chip untuk pusat data dan kecerdasan buatan atau AI. Mark Gurman dari Bloomberg menyebut tekanan pasokan makin terasa karena kapasitas produksi memori ikut terserap oleh permintaan besar dari industri teknologi.
AI ikut mengubah urutan prioritas chip
Masalah utama yang disorot ada pada memori atau RAM, komponen penting untuk perangkat modern. Chip ini sangat berperan dalam kinerja tinggi, terutama untuk komputasi AI dan pengolahan grafis berat.
Ketika kebutuhan dari sektor AI terus naik, produsen perangkat seperti Apple harus bersaing untuk mendapatkan pasokan memori dalam jumlah besar. Situasi tersebut membuat perangkat konsumen premium ikut terdorong ke belakang meski permintaannya tetap tinggi.
Tekanan ini tidak hanya menyentuh MacBook Pro. Mac Studio juga disebut ikut terdampak, dengan jadwal yang semula diperkirakan hadir pada pertengahan 2026 kini bergeser ke sekitar Oktober 2026.
Apple masih melanjutkan lini M5
Di tengah kondisi pasokan yang ketat, Apple tetap menjalankan pembaruan produknya lewat MacBook dengan chip M5. Perangkat ini sudah diperkenalkan pada Maret 2026 dalam varian M5, M5 Pro, dan M5 Max.
Kehadiran lini tersebut menunjukkan Apple masih berupaya menjaga ritme pembaruan, terutama untuk kebutuhan AI dan grafis. Namun, keterbatasan chip membuat sebagian model kelas atas tidak bisa bergerak sesuai jadwal yang semula sudah disusun.
Bagi Apple, situasi ini memperlihatkan bahwa peluncuran produk tidak lagi hanya ditentukan oleh strategi perangkat. Ketersediaan memori kini ikut menjadi faktor penting yang bisa menggeser waktu hadirnya produk baru.
Dampak terasa sampai ke segmen premium
MacBook Pro terbaru menjadi salah satu model yang paling sensitif terhadap kondisi ini karena posisinya di kelas premium. Saat pasokan komponen menipis dan permintaan dari industri AI terus membesar, prioritas distribusi chip ikut berubah.
Dampaknya merambat ke perangkat konsumen yang selama ini menjadi andalan Apple di pasar profesional. Dalam kondisi seperti ini, produk premium bisa saja harus menunggu lebih lama meski minat pasar tetap kuat.
Harga jual MacBook juga masih berada di level tinggi. MacBook Air M5 dibanderol mulai sekitar US$1.099, sedangkan MacBook Pro M5 Pro mulai dari US$2.199.
Di Indonesia, harga perangkat tersebut lebih tinggi karena pajak dan distribusi. Di pasar resmi seperti iBox dan Digimap, MacBook Air M5 dijual mulai kisaran Rp18 juta hingga Rp27 juta, sementara MacBook Pro M5 Pro/Max bisa mencapai Rp70 juta tergantung spesifikasi.
Pilihan lain masih tersedia di pasar
Meski ada potensi penundaan untuk model baru, pembeli masih memiliki sejumlah alternatif. Beberapa opsi yang masih tersedia luas antara lain MacBook Pro M4, MacBook Air M3, dan MacBook Air M2.
Ketersediaan model lama memberi ruang bagi konsumen yang tidak ingin menunggu lebih lama. Dalam situasi pasokan chip yang ketat, pilihan itu juga membantu pembeli yang mencari perangkat dengan harga lebih terjangkau tanpa harus menunggu generasi berikutnya.
