Kutub Selatan Bulan Jadi Target Empat Drone NASA, Penentu Lokasi Turun Artemis Berikutnya

Kutub Selatan Bulan semakin mendekati status sebagai titik paling penting dalam peta eksplorasi NASA. Empat drone dalam misi MoonFall disiapkan untuk memetakan wilayah itu secara rinci dan membantu menentukan lokasi pendaratan astronaut berikutnya.

Misi ini diarahkan ke kawasan yang belum pernah didarati astronaut. Karena itu, data yang dikumpulkan dari permukaan Bulan akan menjadi salah satu dasar penting saat NASA menimbang target untuk misi Artemis selanjutnya.

Drone untuk membaca medan Bulan

Jet Propulsion Laboratory di California Selatan telah mengembangkan desain drone MoonFall dan menguji prototipenya. Setiap drone akan turun ke permukaan Bulan, lalu bekerja selama satu hari lunar untuk mengumpulkan citra beresolusi tinggi.

Satu hari lunar dapat berlangsung hingga 14 hari Bumi. Setelah penerbangan terakhir, muatan yang dirancang untuk bertahan melewati malam akan tetap aktif selama beberapa bulan.

Drone-drone ini dibuat agar sanggup menghadapi suhu malam Bulan yang bisa turun hingga minus 208 derajat Fahrenheit. Bobot tiap wahana diperkirakan sekitar 550 pon, dengan tinggi empat kaki dan diameter tujuh kaki.

Untuk pemetaan, keempat drone akan memakai sistem pencitraan Lunar Dashcam. Mereka juga dilengkapi larik laser retroflector agar mission control bisa menentukan posisi wahana secara presisi.

Selain itu, ada neutron spectrometer untuk membantu mengukur ada tidaknya air di bawah permukaan. Drone juga membawa spectrometer untuk mengukur radiasi di wilayah sasaran.

Peran Firefly dalam pengangkutan

Firefly Aerospace yang berbasis di Texas ditunjuk untuk membangun wahana pengangkut empat drone tersebut. Wahana Elytra milik Firefly akan membawa muatan itu dalam perjalanan sekitar 45 hari dari Bumi ke Bulan.

Setelah tiba di orbit Bulan, Elytra akan melakukan deorbit dan manuver pengereman sebelum melepas drone. Pelepasan dilakukan sekitar 31 mil di atas Kutub Selatan Bulan.

Tahap itu penting karena penempatan wahana harus tepat di area yang menjadi fokus utama eksplorasi NASA. Dengan begitu, data yang terkumpul bisa langsung mendukung penentuan lokasi pendaratan berikutnya.

Kutub Selatan dan persaingan eksplorasi

NASA menargetkan peluncuran MoonFall pada 2028, sementara badan antariksa itu juga membidik Artemis III pada pertengahan 2027. Di saat yang sama, NASA terus mengembangkan proyek pendukung lain, termasuk pangkalan Bulan permanen.

Fokus besar pada Kutub Selatan Bulan muncul karena wilayah itu dinilai strategis bagi kebutuhan eksplorasi jangka panjang. NASA dan sejumlah mitranya ingin memahami potensi sumber daya yang ada di sana.

Namun, rencana pemanfaatan sumber daya Bulan juga memunculkan kekhawatiran dari kalangan ilmuwan dan masyarakat adat. Sebagian ilmuwan menilai pengambilan sumber daya dapat mengganggu penelitian, sementara banyak negara adat memandang Bulan sebagai sesuatu yang sakral.

Hingga kini, NASA dan 66 negara lain telah menandatangani Artemis Accords. Kesepakatan itu bukan traktat internasional, tetapi menjadi kerangka prinsip tingkat tinggi untuk eksplorasi antariksa dan pengembangan permukaan Bulan selama abad ini.

Jejak Firefly di Bulan

Firefly bukan nama baru dalam misi Bulan. Lander Blue Ghost milik perusahaan itu menjadi lander buatan komersial pertama yang mencapai permukaan Bulan pada Maret 2025.

Saat berada di Bulan, Blue Ghost mengirimkan 10 instrumen NASA yang dirancang untuk mengumpulkan data bawah permukaan Bulan. Wahana itu juga menangkap sejumlah gambar gerhana Matahari.

Di tengah meningkatnya perhatian terhadap Kutub Selatan Bulan, MoonFall dipandang sebagai bagian penting dari upaya NASA memperkuat posisi di wilayah tersebut. Misi ini juga berjalan di tengah persaingan langsung dengan inisiatif yang dipimpin China untuk menjelajahi kawasan yang sama dan kemungkinan mengambil sumber dayanya.

Berita Terkait