Tanah sering menjadi titik paling kasar dalam sejarah kolonialisme, dan enam buku ini menunjukkan bahwa pola itu belum benar-benar hilang. Dari Afrika, Brasil, Kenya, Ethiopia, hingga Indonesia, lahan terus muncul sebagai ruang perebutan, penguasaan, dan penyingkiran warga lokal.
Yang membuat daftar bacaan ini penting adalah cara masing-masing buku menghubungkan tanah dengan kuasa. Ada yang memakai jalur fiksi, ada yang bergerak lewat kajian sejarah dan politik, tetapi semuanya menegaskan bahwa perampasan ruang hidup bukan sekadar urusan ekonomi.
Kolonialisme tidak berhenti di masa lalu
Walter Rodney lewat How Europe Underdeveloped Africa membaca penjajahan Eropa di Afrika sebagai proses yang sengaja membentuk ketertinggalan. Ia menempatkan persoalan sosial, politik, dan ekonomi di Afrika bukan sebagai keadaan alamiah, melainkan hasil kerja sistem kolonial.
Cara baca seperti ini membuat kolonialisme tampak sebagai mesin ketimpangan, bukan latar sejarah yang sudah selesai. Dari sana, pembaca diajak melihat bahwa dampaknya terus melekat dalam struktur hidup masyarakat.
Lahan sebagai target investasi dan kekuasaan
Dalam Land Grabbing: Journeys in the New Colonialism, Stefano Liberti menyoroti bentuk kolonialisme baru yang bergerak lewat investasi global. Salah satu latarnya berada di perkebunan milik perusahaan Belanda di Ethiopia.
Buku itu juga membawa pembaca ke sebuah konferensi internasional yang berubah menjadi ajang lelang lahan. Di sana, negara-negara dunia ketiga berhadapan dengan negara-negara yang agresif menanam modal, termasuk Arab Saudi.
Gambaran tersebut menunjukkan bahwa perebutan tanah tidak lagi selalu tampil dalam bentuk pendudukan klasik. Mekanismenya bisa hadir lewat modal, kontrak, dan keputusan yang menjauhkan warga lokal dari ruang hidup mereka sendiri.
Ketika tambang dan warga lokal saling berhadapan
Di Indonesia, Bukan Timah Hitam: Petani Dairi Melawan Tambang mengangkat perjuangan masyarakat Kabupaten Dairi, Sumatra Utara. Ruang hidup mereka rusak akibat keserakahan perusahaan tambang timah dan seng PT DPM.
Buku ini menegaskan bahwa konflik antara korporasi dan warga lokal bukan kasus yang berdiri sendiri. Isu serupa sudah sering muncul di Indonesia, meski kebijakan yang benar-benar pro-rakyat masih jauh dari harapan.
Fiksi yang merekam trauma lahan
Kekerasan terhadap tanah juga muncul kuat dalam fiksi. A Grain of Wheat karya Ngũgĩ wa Thiong’o mengikuti beberapa tokoh fiktif menjelang kemerdekaan Kenya dari koloni Inggris.
Novel ini memperlihatkan trauma kolektif yang tidak selalu tampak, tetapi perlahan mengganggu hubungan personal para tokohnya. Di dalamnya juga ada penyaplokan dan alih fungsi lahan secara sepihak, sesuatu yang membuat tanah tidak lagi sekadar ruang ekonomi, tetapi bagian dari hidup sosial warga lokal.
Brasil dan warisan penindasan yang panjang
Crooked Plow karya Itamar Vieira Junior membawa pembaca ke Brasil dan menyingkap legasi kelam kolonialisme di sana. Ceritanya mengikuti dua saudara kembar yang lahir dalam kemiskinan struktural.
Lewat kisah itu, novel ini membuka sejarah perdagangan budak trans-Atlantik dan privatisasi lahan yang tidak pernah adil. Cerita tersebut juga dipakai untuk mengekspos penindasan ganda terhadap perempuan miskin.
Warisan kolonial dalam kebijakan modern
Buku 32 Tahun Menjarah Alam karya A.S. Rimbawana, Dihan Amiluhur, dan Putro Wasista melihat kebijakan politik Orde Baru dari sudut yang kritis. Buku ini menilai praktiknya masih memakai gaya kolonialisme lewat ekstraksi dan eksploitasi alam besar-besaran tanpa asas keberlanjutan.
Menurut buku itu, manfaat dari eksploitasi tersebut hanya dinikmati segelintir elite. Warga lokal justru digusur, disingkirkan, dan dibiarkan mencari cara bertahan hidup sendiri.
Jika keenam bacaan itu disusun bersama, benang merahnya tampak jelas. Kolonialisme terus bekerja lewat tanah, dan beban terberatnya masih jatuh ke warga lokal di berbagai tempat.
Source: www.idntimes.com