Lahan Sawit Jadi Mesin Sapi Nasional, Kalimantan Selatan Punya Peluang Besar

Author: Redaksi Android62

Kalimantan Selatan kini menjadi salah satu contoh paling nyata bagaimana lahan perkebunan sawit dapat membantu menambah pasokan daging sapi nasional. Di salah satu lokasi integrasi, populasi sapi melonjak dari 300 ekor menjadi 1.500 ekor, menunjukkan bahwa model ini tidak sekadar konsep di atas kertas.

Skema tersebut juga dinilai efisien untuk pelaku perkebunan karena sapi membantu menekan biaya pembersihan gulma hingga 50 sampai 70 persen. Pola penggembalaan bergilir setiap hari membuat lahan tetap terkelola, sementara kebutuhan pakan ternak dapat dipenuhi di area yang sama.

Breeding Lebih Efisien Di Lahan Sawit

Wakil Menteri Koordinator Bidang Pangan Hanif Faisol Nurofiq menilai sistem integrasi kelapa sawit-sapi atau Siska cocok untuk pengembangbiakan sapi. Menurut dia, metode alamiah di lingkungan perkebunan dapat membantu memenuhi kebutuhan hormon reproduksi sapi betina secara natural sehingga biaya operasional lebih rendah dibanding inseminasi buatan.

Hanif juga menjelaskan bahwa pola ini mendukung fase pemeliharaan anak sapi agar pertumbuhannya lebih seragam. Anak sapi kemudian disapih dan dipisahkan dari induknya saat berusia tiga hingga sembilan bulan.

Potensi Tambahan Dari Sisa Lahan Sawit

Pemerintah melihat peluang besar untuk memperluas model ini ke sisa lahan perkebunan sawit di Kalimantan Selatan. Jika 250 ribu hektare lahan dapat diintegrasikan, maka sekitar 20 ribu ekor sapi dapat dipelihara.

Potensi itu menjadi penting karena kebutuhan daging sapi di Kalimantan Selatan masih belum terpenuhi. Produksi daerah ini baru sekitar 33.000 ekor, sedangkan kebutuhan tahunan mencapai 56.000 hingga 57.000 ekor.

Selisih lebih dari 20 ribu ekor selama ini masih ditutup melalui impor. Karena itu, integrasi sawit-sapi dipandang bisa menjadi salah satu cara menekan ketergantungan pasokan dari luar daerah.

Dukungan Untuk Ketahanan Pangan Nasional

Program ini sejalan dengan Instruksi Presiden Nomor 14 Tahun 2025 tentang Kawasan Swasembada Pangan, Energi, dan Air. Pemerintah menempatkan integrasi sawit-sapi sebagai langkah untuk memperkuat ketahanan pangan nasional.

Potensi skema tersebut juga besar secara nasional karena Indonesia memiliki total luas perkebunan kelapa sawit mencapai 17 juta hektare. Dengan basis lahan seluas itu, ruang ekspansi peternakan dinilai masih sangat terbuka.

Hanif meninjau langsung penerapan Siska di perkebunan PT Buana Karya Bhakti, Tanah Bumbu, pada Jumat (19/6/2026). Dari kunjungan itu, pemerintah menilai model ini bisa memperkuat breeding sekaligus membantu menekan defisit pasokan daging sapi.

Hanif menegaskan bahwa Indonesia tidak perlu memaksakan model peternakan dari negara lain. Menurut dia, sistem yang sesuai dengan karakter domestik justru lebih relevan untuk memperkuat produksi daging sapi nasional.

Berita Terbaru