Laut Hitam Mendadak Pirus dari Orbit, Bukan Cahaya Misterius yang Menyala di Malam Hari

Author: Redaksi Android62

Laut Hitam tampak berubah dari warna gelap menjadi pirus terang dalam rekaman satelit PACE pada 22 Juni 2026. Pemandangan itu bukan cahaya laut yang menyala pada malam hari, melainkan pantulan sinar Matahari oleh organisme mikroskopis.

Instrumen Ocean Color Instrument atau OCI mendeteksi ledakan populasi coccolithophores yang membuat warna perairan berubah mencolok. Fitoplankton ini memiliki lapisan kalsium karbonat yang memantulkan cahaya dan menghasilkan tampilan biru muda, pirus, hingga putih susu dari orbit.

Pirus Terang di Laut Hitam

Mekarnya coccolithophores lazim terlihat pada akhir musim semi hingga awal musim panas. Warna terang muncul ketika jumlah organisme tersebut cukup besar untuk mengubah cara cahaya Matahari dipantulkan dari permukaan laut.

Pada periode lain, Laut Hitam dapat kembali terlihat lebih gelap karena diatom lebih dominan. Fitoplankton bercangkang silika itu tidak menghasilkan pantulan cahaya seperti coccolithophores.

Pola pirus juga meluas ke arah Selat Bosphorus, jalur yang menghubungkan Laut Hitam dengan Laut Marmara. Pada 27 Mei 2026, astronaut di Stasiun Luar Angkasa Internasional memotret arus berwarna pirus yang membentuk pusaran di kedua sisi selat.

Fenomena Organisme utama Tampilan Waktu terlihat
Laut pirus di Laut Hitam Coccolithophores Biru kehijauan hingga putih susu Akhir musim semi hingga awal musim panas
Milky seas Bakteri bioluminesensi, termasuk Vibrio harveyi Putih kebiruan bercahaya Malam hari

Berbeda dari Laut Putih Bercahaya

Fenomena lain yang dipantau dari antariksa adalah milky seas, hamparan laut yang tampak putih kebiruan dalam kegelapan. Meski sama-sama terlihat terang, sumber cahayanya bukan pantulan Matahari seperti yang terjadi di Laut Hitam.

Milky seas diduga muncul ketika koloni bakteri bioluminesensi berkumpul dalam jumlah sangat besar. Bakteri Vibrio harveyi ditemukan dalam sampel air saat kapal penelitian berhasil mengambil sampel langsung dari fenomena tersebut pada 1985.

Catatan penampakan milky seas telah terkumpul selama lebih dari 400 tahun dan berjumlah sekitar 400 laporan. Para pelaut menggambarkannya sebagai permukaan laut seperti tertutup salju atau memantulkan cahaya menyerupai air raksa.

Menurut catatan yang dikutip Beritasatu.com, Angkatan Laut pada 1980 pernah menyamakan pemandangan itu dengan langit-langit kamar anak yang dipenuhi bintang fosfor. Kapten kapal Moozuffer juga melaporkan laut bercahaya saat berlayar di Laut Arab pada musim dingin 1849.

Pemantauan dari Antariksa Membuka Jawaban Baru

Instrumen VIIRS pada satelit NOAA dan NASA membantu ilmuwan mengenali milky seas dari luar angkasa. Penelitian di jurnal Scientific Reports pada 2021 mengidentifikasi 12 kejadian sepanjang 2012 hingga 2021.

Salah satu kejadian terbesar tercatat pada 2019 dengan area yang diperkirakan hampir seluas Islandia. Pengamatan tersebut memperluas peluang penelitian terhadap organisme bercahaya yang sulit ditemui langsung di lautan.

Studi dalam jurnal Earth and Space Science pada April 2025 yang dilakukan Justin Hudson dari Colorado State University dan profesor Steven Miller menemukan laporan terbanyak berasal dari Laut Arab serta Asia Tenggara. Tim itu menduga Indian Ocean Dipole dan ENSO dapat berkaitan dengan kemunculan fenomena tersebut.

Jika hubungan dengan pola iklim itu dapat dipastikan, waktu dan lokasi kemunculan milky seas berpeluang diprediksi lebih baik. Sementara itu, pemantauan coccolithophores di Laut Hitam juga penting karena fitoplankton tersebut berperan menyerap karbon dari atmosfer dan air laut.

Sebagian karbon dapat tenggelam ke dasar laut setelah organisme itu mati. Karena itu, dua warna laut yang sangat berbeda ini sama-sama memberi petunjuk tentang aktivitas mikroorganisme dan proses penting dalam sistem Bumi.

Berita Terbaru