Layar AMOLED 144Hz Masuk HP Rp2 Jutaan, Komprominya Ada di 4G dan Kamera

Panel AMOLED dengan resolusi tinggi dan refresh rate hingga 144Hz kini dapat ditemukan pada ponsel di kelas harga Rp2 jutaan. Harga yang lebih rendah itu dimungkinkan karena produsen mengalihkan efisiensi biaya ke chipset, material bodi, dan susunan kamera.

Infinix Hot 60 Pro dan Tecno Spark 30 Pro menunjukkan arah persaingan tersebut. Keduanya mengutamakan pengalaman visual, tetapi memilih platform 4G dan komponen pendukung yang lebih sederhana untuk menjaga banderol tetap terjangkau.

Berdasarkan data spesifikasi yang dihimpun techno.viva.co.id per 18 Juli 2026, pasar ponsel entry-to-mid range Indonesia semakin ramai oleh perangkat AMOLED. Peningkatan volume produksi panel global juga membuat komponen ini lebih memungkinkan dipakai pada segmen harga Rp2 juta hingga Rp3 jutaan.

ModelLayarChipsetHarga
Infinix Hot 60 ProAMOLED 1,5K hingga 144HzMediaTek Helio seri GSegmen Rp2 jutaan
Tecno Spark 30 ProAMOLEDMediaTek Helio G100Rp2.099.000

1. Infinix Hot 60 Pro

Infinix Hot 60 Pro membawa panel AMOLED beresolusi 1,5K dengan refresh rate hingga 144Hz. Spesifikasi layar ini menjadi daya tarik utama perangkat yang ditempatkan di segmen harga Rp2 jutaan.

Untuk menahan biaya produksi, ponsel ini menggunakan prosesor MediaTek Helio seri G. Pilihan chipset 4G tersebut memberi produsen ruang anggaran untuk memprioritaskan panel layar tanpa menaikkan harga jual secara tajam.

Penggunaan modem 5G umumnya menambah biaya komponen pada perangkat murah. Karena itu, chipset 4G yang telah matang dan efisien masih menjadi strategi yang relevan bagi ponsel dengan harga paling rendah.

2. Tecno Spark 30 Pro

Tecno Spark 30 Pro dipasarkan dengan harga Rp2.099.000 dan memakai panel AMOLED. Perangkat ini ditenagai MediaTek Helio G100, yang juga mengandalkan konektivitas 4G.

Di sektor fotografi, Tecno menempatkan kamera utama 108 MP sebagai fokus utama. Kamera ultrawide dan telefoto bukan prioritas pada konfigurasi perangkat ini, sedangkan sensor kedalaman atau makro berbiaya lebih rendah dapat digunakan sebagai pelengkap.

Penghematan Tidak Hanya Berasal dari Chipset

Selain platform pemrosesan, material eksterior menjadi titik efisiensi lain pada ponsel AMOLED kelas terjangkau. Mayoritas perangkat di rentang Rp2 juta hingga Rp3 jutaan memakai polikarbonat atau plastik, walaupun finishing-nya dapat dibuat menyerupai kaca.

Pilihan material tersebut menekan biaya kosmetik tanpa mengurangi pengalaman utama ketika pengguna melihat layar. Konsekuensinya, konsumen perlu mempertimbangkan bahwa kualitas visual yang tinggi tidak selalu diikuti penggunaan material bodi premium.

Skala produksi panel juga berperan dalam perubahan harga AMOLED. Saat volume permintaan global meningkat, biaya produksi per unit dapat menjadi lebih rendah dibandingkan beberapa tahun sebelumnya.

Lini populer seperti Redmi Note 15 disebut memperoleh manfaat dari perputaran unit tinggi dan harga panel yang lebih rendah dari produsen layar. Laporan tren gawai Blibli serta katalog resmi Erafone turut menggambarkan besarnya perputaran perangkat pada segmen tersebut.

AMOLED kini tidak lagi terbatas sebagai fitur eksklusif ponsel mahal, tetapi pembeli tetap perlu menilai paket perangkat secara menyeluruh. Dukungan jaringan 4G, bodi plastik, serta peran kamera tambahan menjadi kompromi yang patut diperhatikan sebelum menentukan pilihan.

Berita Terkait