Diet Mediterania hijau kini banyak diperhatikan karena dikaitkan dengan penuaan otak yang lebih lambat. Pola makan ini menonjol bukan hanya karena berbasis nabati, tetapi juga karena menekan makanan olahan dan daging merah yang kemudian diganti dengan bahan yang lebih padat nutrisi.
Fokus utamanya ada pada perlindungan jangka panjang, terutama terhadap sel-sel otak yang rentan mengalami kerusakan seiring bertambahnya usia. Kandungan polifenol yang tinggi menjadi salah satu alasan diet ini dinilai menarik, karena senyawa tersebut dikenal membantu melindungi sel dari kerusakan oksidatif.
Bukan sekadar versi klasik
Secara dasar, pola makan ini masih mengikuti prinsip Mediterania tradisional. Sayur, buah, biji-bijian utuh, kacang-kacangan, dan minyak zaitun tetap menjadi bagian penting dalam susunannya.
Perbedaannya terletak pada penekanan yang lebih besar pada sumber nabati tertentu. Komposisi makanan dibuat lebih kaya bahan yang mendukung perlindungan terhadap peradangan kronis dan memberi perhatian lebih pada kesehatan otak.
Tiga komponen yang sering disebut menonjol adalah 28 gram kacang kenari per hari, 3 hingga 4 cangkir teh hijau tanpa gula, dan Mankai. Tanaman air tinggi protein itu kerap diolah menjadi minuman hijau sebagai pengganti protein hewani.
Dikaitkan dengan perlambatan penuaan otak
Diet Mediterania hijau disebut berpotensi membantu menekan risiko atrofi otak. Atrofi otak adalah penyusutan volume otak yang umum terjadi seiring bertambahnya usia.
Asupan polifenol yang tinggi dinilai mendukung perlindungan sel saraf sekaligus menjaga fungsi otak agar tetap optimal. Pola makan ini juga dikaitkan dengan perlindungan terhadap penyakit neurodegeneratif, termasuk demensia dan alzheimer.
Selain itu, pendekatan berbasis pangan nabati ini juga menaruh perhatian pada pembuluh darah di otak. Aliran oksigen dan nutrisi yang baik ke jaringan otak dipandang penting untuk menjaga kerja otak dalam jangka panjang.
Cara menerapkannya dalam pola harian
Penerapan diet ini tidak harus langsung dilakukan secara drastis. Langkah awal bisa dimulai dengan mengurangi daging merah secara bertahap lalu menggantinya dengan kacang-kacangan, tahu, tempe, dan sayuran hijau.
Teh hijau tanpa gula dapat masuk ke rutinitas harian sebagai minuman utama. Sementara itu, kacang kenari bisa dijadikan camilan sehat, dan minyak zaitun dianjurkan sebagai sumber lemak utama karena membantu penyerapan polifenol dalam tubuh.
Mankai memang menjadi salah satu komponen yang sering disorot, tetapi tidak selalu mudah ditemukan. Jika sulit didapat, bayam, kale, atau spirulina dapat dipertimbangkan sebagai alternatif yang tetap kaya nutrisi.
Dengan dominasi bahan nabati dan kandungan antioksidan yang tinggi, pola makan ini dipandang relevan bagi pembaca yang ingin menjaga kesehatan otak sekaligus jantung. Pendekatan ini juga dinilai cocok untuk kebutuhan pencegahan masalah kesehatan yang muncul seiring bertambahnya usia.
Source: www.beritasatu.com






