Lebih Dari 50 Warga Quneitra Ditangkap Israel, Keluarga Di Suriah Selatan Masih Menunggu Kabar

Author: Redaksi Android62

Di selatan Suriah, keluarga-keluarga terus hidup dalam penantian yang melelahkan setelah anggota mereka dibawa oleh tentara Israel dan tidak kembali dengan kabar apa pun. Yang paling berat bagi mereka bukan hanya kehilangan orang terdekat, tetapi juga ketidakpastian yang berlangsung berbulan-bulan hingga lebih dari setahun.

Fatima al-Safadi, 57 tahun, menjadi salah satu yang paling merasakannya. Dua putranya, Mohammed yang berusia 40 tahun dan Ahmed yang berusia 36 tahun, termasuk di antara tujuh orang yang ditangkap dalam penggerebekan malam di desa Beit Jinn, barat daya Damaskus, pada Juni tahun lalu.

Sejak malam itu, Fatima mengatakan belum pernah melihat lagi kedua putranya. Setiap kali mendengar ketukan pintu, ia bergegas membukanya dengan harapan ada kabar, tetapi yang ditemuinya hanya lorong kosong.

Hari-hari yang berjalan tanpa jawaban

Kondisi itu membuat Fatima takut anak-anaknya tidak akan dibebaskan. Ia juga mengatakan kegembiraan atas tumbangnya Bashar al-Assad berubah menjadi penderitaan setelah kedua putranya dibawa pergi.

Di rumah lain, Aisha al-Safadi, 53 tahun, mengalami kecemasan serupa setelah putranya, Hassane, ikut ditangkap dalam insiden yang sama di Beit Jinn. Di sisinya, tiga anak Hassane duduk ketika ia berbicara tentang hari-hari yang terus dihitung sambil berharap putranya segera pulang.

Aisha meminta pemerintah Suriah membantu “dengan segala cara yang mungkin” agar orang-orang mereka dibebaskan dari Israel. Ia menyampaikannya dengan mata berkaca-kaca, sementara keluarga terus hidup dalam ketidakpastian.

Versi yang saling bertolak belakang

Tentara Israel mengatakan pihaknya menangkap beberapa orang yang disebut sebagai anggota Hamas yang diduga merencanakan serangan terhadap warga sipil dan pasukan Israel. Mereka kemudian dipindahkan ke wilayah Israel untuk pemeriksaan lebih lanjut.

Suriah menyebut seorang warga sipil tewas dalam insiden itu. Pada November lalu, tentara Israel juga mengatakan operasi di Beit Jinn dilakukan untuk menangkap tersangka dari kelompok Islam Lebanon Jamaa Islamiya, yang disebut sebagai sekutu Hamas, meski kelompok itu membantah memiliki aktivitas di luar Lebanon.

Operasi pada November itu menewaskan 13 warga Suriah dan melukai enam tentara Israel. Human Rights Watch mengatakan pasukan Israel telah melakukan penggerebekan darat, serangan udara, dan operasi lain secara berkala di provinsi Quneitra, Daraa, dan Sweida sejak jatuhnya Assad.

Kekhawatiran atas penahanan tanpa dakwaan

Human Rights Watch juga menyebut pasukan Israel secara sewenang-wenang menahan warga sipil Suriah lalu memindahkan mereka ke Israel. Menurut organisasi itu, mereka ditahan tanpa dakwaan dan tanpa komunikasi dengan keluarga.

Tentara Israel menolak gambaran tersebut. Dalam pernyataan kepada AFP, militer Israel mengatakan pasukannya hanya menahan orang yang dicurigai terlibat dalam aktivitas teror terhadap Negara Israel.

Militer Israel juga menyatakan penahanan lanjutan dilakukan untuk alasan keamanan preventif sesuai hukum Israel dan aturan hukum internasional yang berlaku. Surat perintah penahanan dan lamanya penahanan, kata militer Israel, tunduk pada peninjauan yudisial.

Bagi keluarga di selatan Suriah, penjelasan itu belum mengurangi kecemasan. Banyak kerabat masih belum diketahui keberadaannya, sementara kabar apa pun dari balik penahanan tetap tidak datang.

Wilayah yang makin tegang

Beit Jinn berada dekat Dataran Tinggi Golan Suriah yang dianeksasi Israel dan di kaki Gunung Hermon, yang dikenal dalam bahasa Arab sebagai Jabal al-Sheikh. Setelah penggulingan Assad pada Desember 2024, Israel memindahkan pasukannya ke zona demiliterisasi yang diawasi PBB di Golan dan kini memegang posisi tetap di puncak Gunung Hermon.

Israel juga telah melancarkan ratusan serangan ke Suriah dan melakukan penyusupan rutin ke wilayah selatan negara itu. Di kawasan tersebut, Israel menuntut pembentukan zona demiliterisasi.

Di jalan menuju Beit Jinn dari Damaskus, tentara Suriah dengan senjata ringan kini berjaga di pos pemeriksaan. Kendaraan militer berat yang dulu ditempatkan di dekat Jabal al-Sheikh sudah tidak ada lagi.

Di kantor pemerintahan tak jauh dari pangkalan militer Israel yang baru, pejabat provinsi Quneitra Mohammed al-Saeed mengatakan tentara Israel telah “menculik lebih dari 50 orang” dari kawasan itu. Ia juga menyebut Israel telah menduduki wilayah baru dengan kedalaman antara 500 meter hingga 1 kilometer, mencakup sekitar 240 kilometer persegi.

Menurut al-Saeed, pasukan Israel memasang pos pemeriksaan sementara dan menggerebek rumah-rumah di area tersebut. Di banyak rumah, langkah-langkah itu memperkuat rasa waswas bahwa penahanan dan pergerakan militer masih akan terus berlanjut.

Di Khan Arnabah, provinsi Quneitra, Mohammed al-Sayed, seorang agen properti, juga bercerita tentang pengalamannya ditahan tentara Israel tahun lalu. Ia mengatakan 65 hari di penjara terasa seperti pengepungan, karena jauh dari keluarga dan kerabat menjadi beban berat setiap saat.

Ia menggambarkan masa itu sebagai siksaan dan mempertanyakan nasib orang-orang yang sudah lebih dari setahun tidak mendapat kabar dari keluarga mereka. Pertanyaan serupa kini terus menggantung di selatan Suriah, tempat keluarga masih menunggu kepastian tentang orang-orang yang dibawa pergi dan tak kunjung kembali.

Redaksi Android62
Redaksi Android62

Android62.com menghadirkan berita dari beragam sumber dengan penyajian unik, ringkas, dan informatif untuk pembaca modern.

Newsletter Text above the Email input field
Follow Us
Berita Terbaru