Lebih Dari Separuh Ibu Hamil Gaza Malnutrisi, Bayi Lahir Prematur dan Berat Rendah

Author: Redaksi Android62

Lebih dari separuh perempuan hamil yang dirawat di dua rumah sakit di Gaza mengalami malnutrisi selama masa kehamilan. Temuan Médecins Sans Frontières atau MSF itu menunjukkan betapa parahnya tekanan gizi di wilayah yang masih hidup di bawah blokade dan kerusakan infrastruktur sipil.

Kondisi tersebut tidak berhenti pada ibu hamil. MSF mencatat sekitar seperempat dari mereka masih kekurangan gizi saat melahirkan, dan dampaknya terlihat langsung pada bayi yang lahir dari kondisi itu.

Angka kelahiran pada bayi dari ibu dengan malnutrisi memperlihatkan risiko yang sangat tinggi. Sekitar 90 persen bayi lahir prematur dan 84 persen lainnya memiliki berat badan lahir rendah.

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia, bayi dengan berat badan rendah memiliki risiko kematian 20 kali lebih tinggi dibanding bayi normal. Mereka juga lebih rentan mengalami gangguan pertumbuhan dan perkembangan kognitif.

MSF menilai situasi ini tidak muncul tiba-tiba. Organisasi medis internasional itu menyebut pembatasan sistematis terhadap bantuan kemanusiaan, makanan, barang komersial, dan akses kebutuhan dasar sebagai faktor yang memperburuk krisis.

Merce Rocaspana dari MSF mengatakan, “Krisis malnutrisi ini sepenuhnya diciptakan,” sambil menegaskan bahwa sebelum perang kasus malnutrisi di Gaza hampir tidak ditemukan. Pernyataan itu menggambarkan perubahan drastis dari kondisi sebelumnya ke keadaan darurat yang kini dialami banyak keluarga.

Blokade dan serangan mempersempit akses warga

MSF menilai blokade berkepanjangan telah menyempitkan akses warga Gaza terhadap makanan dan air bersih. Organisasi itu juga menyebut serangan terhadap infrastruktur sipil ikut memperparah krisis kesehatan yang menekan penduduk.

Data yang dianalisis MSF diambil dari empat fasilitas kesehatan di Gaza yang didukung atau dikelola organisasi tersebut selama akhir 2024 hingga awal 2026. Dari situ, MSF juga menemukan kasus malnutrisi anak di Gaza untuk pertama kalinya pada Januari 2024, hanya tiga bulan setelah serangan besar Israel dimulai.

Temuan itu menunjukkan bahwa krisis gizi terus berkembang seiring berlanjutnya pembatasan akses bantuan dan kebutuhan pokok. Dalam kondisi seperti ini, ibu hamil dan anak-anak menjadi kelompok yang paling rentan menanggung akibatnya.

Bantuan dinilai belum menjawab kebutuhan

Di sisi lain, MSF mengkritik pusat distribusi bantuan yang dijalankan Gaza Humanitarian Foundation. Skema bantuan yang didukung Amerika Serikat dan Israel itu dinilai termiliterisasi, mematikan, dan tidak efektif menjangkau warga yang membutuhkan.

Situasi di lapangan juga masih jauh dari stabil. Data Perserikatan Bangsa-Bangsa menunjukkan lebih dari 60 persen warga Palestina di Gaza kehilangan tempat tinggal akibat perang, sementara akses terhadap layanan kesehatan dan kebutuhan dasar tetap terbatas.

Penilaian bersama PBB, Bank Dunia, dan Uni Eropa memperkirakan biaya rekonstruksi Gaza dapat menembus lebih dari 71 miliar dolar AS. Namun aliran bantuan kemanusiaan yang masuk masih belum sebanding dengan kebutuhan mendesak penduduk sipil.

Dalam kesepakatan gencatan senjata, target pengiriman bantuan disebut mencapai 600 truk per hari. Yang diizinkan masuk ke Gaza setiap hari baru sekitar 150 truk, sehingga jarak antara kebutuhan nyata dan bantuan yang tiba masih sangat lebar.

MSF menilai kesenjangan itu membuat krisis malnutrisi terus berlanjut di tengah blokade dan kerusakan yang belum pulih. Selama akses bantuan, pangan, dan layanan dasar tetap terbatas, risiko pada ibu hamil, bayi baru lahir, dan anak-anak diperkirakan akan terus membayangi Gaza.

Source: www.suara.com
Redaksi Android62
Redaksi Android62

Android62.com menghadirkan berita dari beragam sumber dengan penyajian unik, ringkas, dan informatif untuk pembaca modern.

Newsletter Text above the Email input field
Follow Us
Berita Terbaru