Lonjakan HIV Di Fiji Kian Gawat, Klinik Bergerak Datangi Warga Yang Takut Tes

Author: Redaksi Android62

Stigma dan kekhawatiran masih menjadi penghalang terbesar dalam menghadapi lonjakan HIV di Fiji. Di tengah situasi itu, banyak warga justru memilih datang ke klinik keliling karena merasa lebih aman untuk memeriksakan diri tanpa harus menunggu di fasilitas kesehatan biasa.

Di Suva, sebuah minibus yang diubah menjadi Moonlight Clinic mendatangi lingkungan warga untuk menawarkan tes HIV dan layanan kesehatan lain. Tim Medical Services Pacific mengoperasikan klinik bergerak itu dengan pendekatan jemput bola, termasuk membagikan kondom serta memeriksa sifilis dan hepatitis B.

Kehadiran relawan juga menjadi bagian penting dari layanan ini. Survival Advocacy Network mendukung pekerja seks, sementara Rainbow Pride Fiji bekerja bersama komunitas LGBTQ+, sehingga klinik lebih mudah menjangkau orang-orang yang selama ini ragu atau takut datang untuk tes.

Sejumlah warga mengaku datang tanpa rencana awal. Irinieta Foi, 45 tahun, mengatakan ia menemukan klinik itu secara kebetulan dan menerima hasil tes dalam 15 menit, sebuah pengalaman yang menunjukkan betapa tes cepat bisa membantu memperluas akses pemeriksaan.

Namun ketakutan terhadap hasil positif masih kuat. Ecelina Lalabaluva, 28 tahun, mengatakan banyak orang menjauh karena takut mengetahui status mereka, padahal justru penundaan pemeriksaan bisa membuat penanganan semakin terlambat.

Lonjakan kasus HIV di Fiji kini dipandang sebagai wabah dan krisis nasional. Negara kepulauan Pasifik Selatan dengan populasi sedikit di bawah satu juta jiwa itu mencatat lebih dari 2.000 kasus baru tahun lalu, naik 26 persen dari 2024.

Angka yang diketahui juga terus membesar dalam hitungan tahun. Menurut Renata Ram, country director UNAIDS untuk Fiji dan Pasifik, jumlah kasus yang diketahui kini sekitar 5.000, jauh melonjak dari sekitar 500 pada 2014.

UNAIDS bahkan menempatkan Fiji sebagai salah satu epidemi HIV dengan pertumbuhan tercepat di dunia. Ram mengatakan lonjakan penularan mulai terlihat sekitar 2019, saat muncul kelompok pengguna narkoba suntik yang sangat berisiko tinggi, terutama di komunitas pekerja seks.

Narkoba ikut memperumit penularan

Fiji juga berada di jalur peredaran narkoba regional. Virginia Comolli dari Global Initiative against Transnational Organized Crime menyebut Fiji, seperti pulau-pulau Pasifik lain, sudah lama menjadi hub transit narkoba dari Amerika Latin dan Asia menuju Australia dan Selandia Baru.

Menurut Comolli, aliran methamphetamine dan kokain ke pasar bernilai besar itu meningkat tajam setelah sempat melandai selama pandemi Covid. Ia juga menjelaskan bahwa narkoba semakin merembes ke pasar domestik Pasifik karena sindikat kriminal asing membayar fasilitator lokal dengan barang.

Kondisi itu membuat risiko penularan HIV ikut naik, terutama ketika penggunaan jarum suntik menjadi bagian dari pola konsumsi narkoba. Karena itu, UNAIDS menilai program jarum-suntik sangat dibutuhkan untuk menahan laju penyebaran.

Masih banyak yang memilih diam

Di sisi lain, nilai-nilai konservatif yang kuat membuat banyak orang enggan bicara terbuka soal HIV. Banyak warga yang hidup dengan virus itu memilih diam karena takut dicap atau ditolak lingkungan sekitar.

Mark Lal menjadi salah satu wajah publik yang berani membahas krisis ini. Pria 24 tahun itu adalah seorang gay dan bukan pengguna narkoba, tetapi ia didiagnosis HIV dua tahun lalu saat masih belum memahami banyak hal tentang penyakit maupun pengobatan yang tersedia.

Lal mengatakan pembicaraan tentang seks masih dianggap tabu di Fiji. Saat pertama kali didiagnosis, ia bahkan sempat bertanya kepada dokter apakah dirinya hanya tinggal menunggu mati.

Pengalamannya mendorong Lal berbagi lewat laman Facebook “Living Positive Fiji”. Melalui akun itu, ia menerima pertanyaan dari lebih dari seratus orang, banyak di antaranya berusia 17 hingga 20 tahun dan masih bingung apakah harus membuka status HIV mereka karena takut diskriminasi.

UNAIDS menilai Fiji masih tertinggal jauh dalam respons HIV. Ram mengatakan negara itu berada “15 sampai 20 tahun di belakang” dalam penanganannya, sementara pemerintah menyatakan akan mengadopsi rencana untuk mencegah penularan melalui suntikan narkoba.

Meski begitu, implementasi program penyediaan alat suntik aman itu masih tertunda. Sementara itu, petugas lapangan terus mendorong lebih banyak warga untuk memeriksakan diri, dengan pesan yang bagi banyak orang tetap sederhana: sangat penting untuk dites.

Berita Terbaru