Lonjakan Imbal Hasil Dan Minyak Tekan Pasar Global, Saham Asia Hingga Eropa Merosot

Author: Redaksi Android62

Kekhawatiran soal inflasi kembali menyeret pasar ke mode hati-hati, dan dampaknya terlihat di saham, obligasi, hingga mata uang. Investor makin waspada karena kenaikan harga energi dan imbal hasil obligasi memunculkan lagi pandangan bahwa suku bunga bisa bertahan lebih tinggi dari perkiraan.

Di pasar saham global, tekanan terasa luas. Indeks MSCI saham global turun 0,35%, sementara STOXX 600 Eropa jatuh 1,36% setelah sempat menguat dalam dua sesi sebelumnya.

Di Asia, pelemahan juga tidak kalah tajam. MSCI Asia Pasifik di luar Jepang merosot 2,57%, sedangkan Nikkei Jepang turun 1,99% setelah inflasi grosir Jepang naik ke 4,9% pada April 2026, level tertinggi dalam tiga tahun terakhir.

Pelemahan itu muncul saat reli saham yang sempat terbentuk dalam beberapa hari terakhir mulai kehilangan tenaga. Managing Director dan Head of Macro Strategy EMEA State Street Markets, Tim Graf, menilai pasar sudah naik tanpa jeda dan mulai lebih rentan terhadap koreksi.

Graf melihat masih ada penopang bagi saham, tetapi ia menilai inflasi yang tetap tinggi dan potensi kenaikan suku bunga dapat menambah tekanan lanjutan. Kondisi tersebut membuat pelaku pasar lebih selektif saat masuk ke aset berisiko.

Salah satu sumber kekhawatiran utama datang dari minyak dunia. Brent naik 3,47% menjadi US$ 109,39 per barel dan menuju kenaikan mingguan 7,7% di tengah ketidakpastian perdamaian di Timur Tengah dan perhatian terhadap Selat Hormuz.

Pasar juga menyoroti kunjungan Presiden AS Donald Trump ke China. Setelah bertemu Presiden China Xi Jinping, Trump mengatakan kedua negara sepakat bahwa Iran tidak boleh memiliki senjata nuklir dan Selat Hormuz harus kembali dibuka.

Head of Research Americas ING, Padhraic Garvey, mengatakan pasar masih fokus pada perang Iran dan dampaknya terhadap inflasi global. Ia menilai kunjungan Trump hanya memberi jeda singkat dari kekhawatiran pasar sebelum perhatian kembali ke risiko geopolitik itu.

Tekanan inflasi tidak hanya terlihat di saham, tetapi juga di pasar obligasi. Investor meminta imbal hasil yang lebih tinggi, sehingga yield obligasi pemerintah di sejumlah negara ikut naik.

Di Jerman, yield obligasi tenor 10 tahun naik sekitar 6 basis poin menjadi 3,1065%. Di Jepang, imbal hasil obligasi mencapai rekor tertinggi baru, menunjukkan tekanan yang sama juga menjalar ke pasar Asia.

Di Amerika Serikat, yield obligasi tenor dua tahun naik 7,5 basis poin menjadi 4,0666%. Yield obligasi tenor 10 tahun ikut melonjak 8,5 basis poin menjadi 4,5438% karena pasar mengurangi minat terhadap obligasi pemerintah AS setelah sejumlah lelang pekan ini dinilai kurang kuat.

Pergerakan itu turut mengangkat dolar AS. Mata uang tersebut bersiap mencatat kenaikan mingguan 1,3%, yang menjadi kenaikan terbesar dalam dua bulan terakhir.

Seluruh pergerakan lintas aset itu menunjukkan pasar sedang menyesuaikan diri dengan skenario inflasi yang belum cepat mereda. Selama harga energi dan tekanan di pasar obligasi belum turun, investor tampak tetap bergerak dengan sikap waspada.

Source: www.beritasatu.com
Berita Terbaru