Industri konstruksi Jawa Timur diperkirakan menjadi salah satu penyerap tenaga kerja terbesar pada Semester I 2026, dengan estimasi hingga 210 ribu pekerja langsung terserap. APROKI menilai dorongan ini terutama datang dari maraknya proyek pembangunan gedung yang kini mendominasi aktivitas konstruksi di daerah.
Dampaknya tidak berhenti pada aktivitas di lokasi proyek. Ketua Umum APROKI Aslakhul Umam menyebut setiap proyek bangunan ikut menggerakkan sektor material, logistik, transportasi, dan jasa pendukung lain di sekitar wilayah pembangunan.
Efek ekonomi yang berlapis
APROKI memperkirakan kebutuhan tenaga kerja langsung di sektor ini berada di kisaran 180 ribu hingga 210 ribu orang. Di luar itu, setiap pekerjaan konstruksi disebut dapat menciptakan tiga hingga empat kali lipat tenaga kerja tidak langsung.
Rantai dampaknya mengalir ke perdagangan material, distribusi barang, mobilitas logistik, dan layanan pendukung lain. Asosiasi itu juga menyebut penggunaan material dalam negeri mencapai sekitar 85 persen.
Komposisi tersebut membuat industri semen, bata, baja, genteng, dan produk konstruksi lain di Jawa Timur ikut terdorong. Bahkan, APROKI menilai investasi Rp1 triliun di sektor bangunan dapat memberi efek pengganda ekonomi hingga Rp2,2 triliun pada aktivitas perekonomian daerah.
| Uraian | Data | Dampak |
|---|---|---|
| Tenaga kerja langsung | 180 ribu-210 ribu orang | Serapan kerja utama di proyek konstruksi |
| Tenaga kerja tidak langsung | 3-4 kali lipat | Menggerakkan sektor pendukung |
| Material dalam negeri | Sekitar 85 persen | Mendorong industri bahan bangunan lokal |
| Efek pengganda investasi | Rp1 triliun menjadi hingga Rp2,2 triliun | Memperkuat aktivitas ekonomi daerah |
Manfaat sosial mulai terlihat
Selain efek ekonomi, pembangunan di Jawa Timur juga membawa manfaat sosial yang mulai dirasakan masyarakat. Program Sekolah Rakyat memperluas akses pendidikan berkualitas, sementara Program Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya atau BSPS membantu menekan jumlah rumah tidak layak huni hingga sekitar 12 persen pada pertengahan 2026.
APROKI menilai dua program itu menunjukkan bahwa konstruksi tidak hanya berkaitan dengan beton dan baja. Sektor ini juga berhubungan langsung dengan layanan publik dan kualitas hidup warga.
Tekanan biaya dan kendala lapangan
Meski prospeknya kuat, industri konstruksi masih menghadapi sejumlah tekanan. APROKI menyebut keterlambatan pencairan anggaran pada awal tahun sempat membuat aktivitas konstruksi terkontraksi 6,93 persen pada Triwulan I.
Kondisi itu membaik setelah percepatan realisasi anggaran pada Triwulan II, ketika pertumbuhan sektor konstruksi terdorong sekitar 7,2 persen. Namun, tekanan lain datang dari kenaikan harga baja dan semen sebesar 3-5 persen selama Maret hingga Juni, yang ikut menekan margin kontraktor.
Di lapangan, kebutuhan tenaga kerja terampil masih besar, terutama untuk proyek gedung ramah lingkungan dan konstruksi berstandar tahan gempa. Akses logistik menuju daerah terpencil juga masih menjadi kendala karena memengaruhi distribusi material dan pelaksanaan proyek.
Untuk menjaga momentum hingga akhir tahun, APROKI mendorong pemerintah mempercepat birokrasi, memperkuat rantai pasok material lokal, dan memperluas penerapan teknologi konstruksi yang lebih efisien serta berkelanjutan. Langkah itu dinilai penting agar manfaat pembangunan terasa lebih merata di seluruh wilayah Jawa Timur.
Source: kanalsatu.com






