ChatGPT menilai lukisan karya Denny JA yang pernah diberkati Paus Fransiskus memiliki potensi harga yang sangat tinggi, dengan skenario khusus yang dapat mencapai Rp34 miliar. Estimasi itu muncul bukan karena angka semata, melainkan karena gabungan sejarah peristiwa, simbol religius, dan narasi lintas iman yang melekat kuat pada karya tersebut.
Di pasar seni, nilai sebuah lukisan tidak selalu ditentukan oleh ukuran atau tampilan visualnya saja. Dalam kasus ini, yang membuatnya menonjol justru cerita di balik karya, termasuk momen singkat saat iring-iringan Paus Fransiskus melintas di depan Galeri Nasional Jakarta pada September 2024.
Momen singkat yang mengubah status karya
Menurut penjelasan Dr. Satrio Arismunandar, akademisi dan pengamat budaya, Paus sempat membuka jendela kendaraan, menyapa, mendoakan, lalu memberi berkat kepada lukisan itu. Peristiwa tersebut terjadi spontan dan tidak direncanakan, sehingga bobot historisnya dianggap cukup kuat untuk menarik perhatian lebih jauh.
Karena berlangsung singkat, dokumentasi visual dan saksi tambahan dinilai penting untuk memperkuat validasi historisnya di masa depan. Dari sudut pandang seni dan budaya, kejadian seperti ini dapat mendorong symbolic elevation, yaitu ketika sebuah karya naik status karena terhubung dengan peristiwa langka yang sarat makna.
Bukan hanya lukisan, tetapi juga artefak naratif
Lukisan itu kini tidak lagi dibaca hanya sebagai objek visual. Karya tersebut juga diposisikan sebagai artefak yang membawa narasi lintas iman, karena mempertemukan seniman Muslim, pemimpin Katolik, dan pesan kemanusiaan yang universal.
Lapisan makna seperti ini membuat karya memiliki daya tarik yang lebih luas di luar lingkaran kolektor biasa. Dalam pembacaan budaya, kombinasi simbol, peristiwa, dan tokoh yang terlibat dapat memberi nilai tambah yang sulit ditiru karya lain.
Empat lapis nilai dalam satu karya
Satrio menyebut lukisan ini memiliki beberapa lapis nilai yang saling menguatkan. Di dalamnya ada unsur karya seni visual, simbol religius, artefak peristiwa, dan narasi lintas iman.
Kerangka itu sejalan dengan gagasan kapital simbolik dari Pierre Bourdieu. Dalam pandangan ini, harga karya seni tidak hanya dipengaruhi estetika, tetapi juga konteks sosial dan historis yang menyertainya.
Artinya, penilaian terhadap lukisan ini tidak berhenti pada aspek fisik. Cerita yang melekat, reputasi tokoh yang terlibat, dan daya tarik emosional bagi pembeli tertentu ikut membentuk nilainya.
Skema nilai yang dipetakan ChatGPT
Pemodelan AI yang digunakan dalam analisis itu membandingkan transaksi karya seni religius di rumah lelang internasional seperti Sotheby’s dan Christie’s. Periode pembanding yang dipakai mencakup 2015 hingga 2024, sehingga estimasi didasarkan pada jejak pasar yang cukup panjang.
Dari perhitungan itu, ChatGPT memunculkan beberapa skenario nilai. Skenario konservatif berada di kisaran USD 150.000–400.000 atau sekitar Rp2,5 miliar–Rp6,5 miliar.
Pada skenario menengah, nilainya diperkirakan berada di USD 400.000–900.000 atau sekitar Rp6,5 miliar–Rp14 miliar. Skenario premium kemudian menempatkan karya itu pada USD 1 juta–1,5 juta atau sekitar Rp16 miliar–Rp24 miliar.
Ada pula skenario khusus yang menyebut harga dapat mencapai USD 2 juta atau sekitar Rp34 miliar. Angka tertinggi ini sangat bergantung pada faktor di luar pasar umum, terutama kedekatan emosional, nilai religius, dan relevansi narasi bagi pembeli tertentu.
Narasi menjadi faktor pembeda utama
Daya tarik terbesar karya ini justru berasal dari kisah yang menyertainya. Kombinasi antara seniman berlatar Muslim, subjek berupa Paus, dan momen pemberkatan yang spontan membentuk narasi lintas iman yang kuat.
Narasi seperti itu sering menjadi pembeda dalam pasar seni internasional. Sebuah karya bisa melampaui fungsi visualnya karena membawa cerita yang menyentuh sejarah, simbol, dan pengalaman emosional sekaligus.
Sebagai pembanding, karya bertema Vatikan pada periode yang sama tercatat berada di kisaran USD 200.000 hingga USD 1,8 juta. Namun angka tersebut belum bisa diperlakukan sebagai harga transaksi final karena tetap dipengaruhi kurasi, dokumentasi, dan eksposur internasional.
Satrio menilai, penilaian lanjutan tetap membutuhkan kurator internasional dan penilai bersertifikat. Langkah itu penting agar fakta sejarahnya makin kuat dan nilai ekonominya dapat diuji dengan dasar data yang objektif.
