Buku Majapahit karya Herald van der Linde menawarkan pembacaan sejarah yang tidak terasa kaku. Alih-alih mengikuti alur kronologis yang berat, buku ini menyajikan masa lalu Nusantara dengan ritme cerita yang hidup, penuh ketegangan politik, dan dekat dengan rasa penasaran pembaca masa kini.
Gaya seperti itu membuat sejarah Majapahit terasa bergerak seperti kisah layar lebar. Pembaca diajak melihat bagaimana kekuasaan dibentuk, dipertahankan, lalu perlahan melemah melalui intrik istana, konflik keluarga, dan manuver politik yang menentukan arah kerajaan.
Sejarah yang Disusun Seperti Kisah Dramatis
Kekuatan buku ini terletak pada cara Herald van der Linde membangun narasi. Ia tidak berhenti pada data raja, perang, atau pergantian takhta, melainkan menyorot tekanan di balik setiap keputusan yang diambil para tokohnya.
Dalam pembacaan itu, Majapahit tampil sebagai kekuatan yang lahir dari strategi politik, hasil pertanian yang kuat, dan armada laut yang disegani. Kerajaan ini diposisikan sebagai kekuatan maritim besar di Nusantara, bukan sekadar lambang kejayaan yang sering disebut tanpa penjelasan yang utuh.
Jejak Awal dari Singasari
Kisah dalam buku ini bergerak ke masa Singasari saat Raja Kertanegara berhadapan dengan utusan Kubilai Khan. Utusan itu datang dengan tuntutan agar kekuasaan dari Beijing diakui, tetapi Kertanegara memilih menolak dan merespons dengan tindakan yang menghina sang utusan.
Langkah tersebut memicu kemarahan Kubilai Khan dan membuka jalan bagi rencana serangan ke Jawa. Namun sejarah mengambil arah lain karena Kertanegara lebih dulu tewas dan Singasari runtuh sebelum armada Yuan tiba di Jawa.
Ketika pasukan Kubilai Khan akhirnya mendarat, Raden Wijaya memanfaatkan situasi untuk menyingkirkan lawan-lawan politik di Jawa Timur. Dari manuver itulah jalan menuju lahirnya Majapahit terbuka dan kemudian berkembang menjadi kerajaan besar yang berpengaruh luas.
Tokoh-Tokoh yang Dihadirkan Sebagai Manusia
Herald van der Linde tidak memperlakukan para tokoh sebagai nama yang beku dalam catatan sejarah. Para raja ditampilkan sebagai sosok dengan ambisi, kelemahan, dan keputusan yang membawa konsekuensi besar bagi kerajaan.
Buku ini juga menempatkan konflik internal keluarga istana sebagai bagian penting dari cerita. Perebutan kuasa tidak hanya terjadi di medan perang, tetapi juga di ruang politik yang penuh pengkhianatan, kalkulasi, dan pertarungan pengaruh.
Ada pula sosok juru tulis kerajaan yang digambarkan gemar mabuk, namun tetap teliti mencatat peristiwa yang terjadi. Kehadiran karakter semacam ini membuat sejarah Majapahit terasa lebih manusiawi karena dibangun dari tokoh-tokoh dengan sisi pribadi yang nyata.
Riset Menjadi Dasar Cerita
Meski penyajiannya ringan dan mengalir, buku ini tetap berangkat dari riset. Van der Linde menggunakan sumber primer dan naskah kuno untuk menelusuri jejak Majapahit, meskipun peninggalan fisik dari kerajaan itu tidak banyak tersisa.
Keterbatasan sumber menjadi tantangan tersendiri dalam menulis sejarah Majapahit. Banyak informasi berasal dari naskah yang ditulis jauh sesudah peristiwa berlangsung atau memuat tafsir yang kuat, sehingga penulisan sejarah memerlukan kehati-hatian dalam membaca data yang tersedia.
- Narasinya mengalir seperti kisah epik.
- Tokoh-tokohnya digambarkan hidup dan dinamis.
- Dasarnya tetap riset dan sumber kuno.
- Majapahit dibaca sebagai kekuatan politik, militer, dan maritim.
- Pendekatannya membuat sejarah lebih mudah diikuti pembaca modern.
Buku ini juga menyingkap sisi lain dari kehidupan pada masa Majapahit, termasuk tradisi kremasi yang melibatkan istri yang memilih menyatu bersama suaminya setelah wafat. Lapisan ini memperlihatkan bahwa sejarah kerajaan bukan hanya soal perebutan takhta, tetapi juga keyakinan, pengorbanan, dan konsekuensi sosial yang membentuk kehidupan zamannya.
Dengan pendekatan sinematis dan landasan riset yang tetap terjaga, Majapahit menghadirkan kembali salah satu kerajaan paling berpengaruh di Asia Tenggara sebagai kisah tentang kekuasaan, kecerdikan, pengkhianatan, dan warisan peradaban yang masih terus dibicarakan.
Source: lifestyle.bisnis.com