Manipulatif Di Balik Sikap Manis, Psikolog Soroti Dugaan Kepribadian Taufik Hidayat

Dugaan penyekapan dan penganiayaan terhadap YTR memunculkan sorotan pada sisi psikologis Taufik Hidayat. Psikolog Universitas Tarumanagara, Dr Naomi Soetikno, menilai pola perilaku yang disebut sadistis dan disembunyikan dalam waktu lama dapat mengarah pada gangguan kepribadian tertentu.

Naomi menjelaskan bahwa pada kasus seperti ini, pelaku kerap tidak hanya menunjukkan kekerasan, tetapi juga kemampuan menutupi tindakan dengan tampilan yang tampak ramah. Ia menyebut ciri itu sering berkaitan dengan karakter manipulatif yang membuat pelaku terlihat “manis” di luar, namun keras di baliknya.

Diduga ada dorongan menguasai dan melanggar batas

Ketua Program Studi Psikologi Universitas Tarumanagara itu menuturkan bahwa individu dengan gangguan kepribadian antisosial biasanya memiliki dorongan kuat untuk menguasai orang lain. Dorongan tersebut dapat membuat batas, norma, dan aturan diabaikan ketika keinginan pribadi ingin dipenuhi.

Ia juga menyatakan bahwa emosi pelaku pada kondisi tertentu bisa sangat intens dan mudah berubah menjadi paksaan agar situasi berjalan sesuai kehendaknya. Dalam pandangannya, tindakan yang melanggar aturan bisa dianggap wajar selama tujuan pelaku tercapai.

Jika keinginan itu tidak dipenuhi, Naomi menilai pelaku dapat cepat marah dan sulit mengendalikan ledakan emosi. Dalam keadaan seperti itu, kekerasan fisik bisa muncul tanpa mempertimbangkan keselamatan korban.

Kasus yang disebut berlangsung selama tiga tahun

Perkara ini menjadi perhatian karena dugaan penyekapan dan penyiksaan terhadap YTR disebut berlangsung selama tiga tahun di sebuah kamar kos di Bandung. Aparat kepolisian Polda Jawa Barat menangkap Taufik setelah sempat buron, lalu menggiringnya usai penangkapan pada Selasa yang disebut dalam laporan sumber.

Korban saat ini masih menjalani perawatan intensif di rumah sakit untuk memulihkan kondisi fisik dan trauma psikologis. Penyidik juga masih mendalami rangkaian peristiwa untuk mengungkap seluruh dugaan tindak kekerasan dan memproses pertanggungjawaban hukum pelaku sesuai ketentuan yang berlaku.

Naomi menilai karakteristik yang tampak dalam kasus ini sering dikaitkan dengan gangguan kepribadian antisosial. Di ruang publik, istilah itu kerap disamakan dengan psikopati oleh masyarakat awam, meski penyebutan klinisnya perlu dipahami secara hati-hati.

Gejala yang sering tampak dalam pola antisosial

Aspek PerilakuPenjelasan
ManipulatifDapat tampil meyakinkan dan ramah, tetapi menyembunyikan perilaku melanggar batas.
DominanMemiliki dorongan menguasai orang lain dan memaksakan kehendak.
AgresifMudah marah saat keinginan tidak terpenuhi dan dapat berujung pada kekerasan fisik.

Kasus ini kembali menegaskan bahwa kekerasan dalam relasi personal dapat meninggalkan luka fisik sekaligus psikologis yang berat. Penjelasan psikolog juga menunjukkan pentingnya membaca pola manipulasi, dominasi, dan agresi sebagai bagian dari dinamika yang kerap muncul dalam dugaan gangguan kepribadian antisosial.

Source: www.beritasatu.com

Berita Terkait