Mayoritas Tumor Otak Primer Ternyata Jinak, Gejala Ringan Sering Terlambat Disadari

Author: Redaksi Android62

Mayoritas tumor otak primer ternyata bersifat jinak, tetapi kondisi ini tetap bisa berbahaya karena ruang di dalam tengkorak sangat terbatas. Data internasional yang disampaikan dokter spesialis bedah saraf RS Premier Bintaro, dr. Moch. Evodia Slamet R., Sp.BS, menunjukkan sekitar 72 persen tumor otak primer tergolong jinak dan 28 persen sisanya ganas.

Temuan itu penting karena banyak orang langsung mengaitkan tumor otak dengan kanker agresif dan ancaman kematian. Padahal, istilah tumor otak tidak otomatis berarti ganas, meski setiap massa yang tumbuh di dalam kepala tetap berpotensi menekan jaringan otak dan mengganggu fungsi tubuh.

Risiko Tetap Serius Meski Tumor Jinak

Bahaya utama tumor otak bukan hanya sifat ganas atau jinaknya, melainkan lokasi dan pertumbuhannya. Saat massa terus membesar, tekanan di dalam tengkorak bisa meningkat dan memicu gangguan pada jaringan otak yang semestinya bekerja normal.

Dalam kondisi tertentu, tumor otak juga dapat berkembang menjadi gawat darurat. Risiko itu naik bila terjadi hidrosefalus atau penumpukan cairan di otak, maupun perdarahan pada jaringan tumor.

Kedua kondisi tersebut dapat meningkatkan tekanan di dalam kepala dan berujung pada kerusakan otak permanen hingga kematian. Karena itu, deteksi dini memegang peran penting sebelum komplikasi berkembang lebih jauh.

Gejala Sering Muncul Bertahap

Gejala tumor otak tidak selalu sama pada setiap pasien karena sangat bergantung pada ukuran dan lokasi tumor. Keluhan juga kerap muncul perlahan, sehingga mudah dianggap sebagai masalah kesehatan biasa pada tahap awal.

Tanda yang perlu diwaspadai antara lain nyeri kepala kronis yang makin berat, terutama bila disertai pandangan kabur. Gejala lain yang juga patut dicermati meliputi kejang pertama saat dewasa, gangguan keseimbangan, kelemahan tangan atau kaki, penurunan pendengaran, perubahan perilaku, muntah menyemprot, dan penurunan kesadaran.

Keluhan tersebut tidak selalu berarti tumor otak. Namun, bila berlangsung terus-menerus atau semakin progresif, pemeriksaan medis perlu segera dilakukan agar penyebabnya dapat dipastikan.

Pemeriksaan Pencitraan Jadi Langkah Utama

Untuk menegakkan diagnosis, dokter umumnya menggunakan CT Scan atau MRI dengan kontras. Pemeriksaan dengan zat kontras sering diperlukan karena dapat memperlihatkan gambaran tumor lebih jelas dibandingkan pemeriksaan tanpa kontras.

Hasil pencitraan kemudian menjadi dasar untuk menentukan langkah terapi yang paling sesuai. Pendekatan ini penting karena penanganan tumor otak sangat ditentukan oleh jenis, ukuran, dan letaknya.

Pilihan Terapi Semakin Beragam

Perkembangan teknologi medis membuat penanganan tumor otak kini semakin luas. Opsi terapi dapat berupa obat untuk mengurangi pembengkakan dan gejala, operasi bedah saraf secara terbuka, mikroskopik, atau endoskopik, radioterapi, hingga kemoterapi pada jenis tertentu seperti glioblastoma.

Salah satu prosedur yang juga tersedia adalah Gamma Knife Radiosurgery. Metode ini menggunakan radiasi berpresisi tinggi tanpa sayatan untuk mengendalikan pertumbuhan tumor, terutama pada tumor berukuran kecil.

Prosedur tersebut hanya membutuhkan satu kali tindakan dan tidak menimbulkan luka operasi. Karena itu, Gamma Knife menjadi pilihan pada kasus yang memenuhi kriteria medis tertentu.

Keluhan Neurologis Jangan Diabaikan

Dr. Evodia menekankan bahwa keluhan neurologis yang menetap dan makin memburuk tidak boleh diabaikan. Pemeriksaan dini membantu mempercepat diagnosis sekaligus membuka peluang terapi yang lebih tepat bagi pasien.

Dengan pilihan penanganan yang semakin maju, pasien tumor otak kini memiliki lebih banyak opsi medis. Mengenali gejala sejak awal dan segera berkonsultasi ke dokter tetap menjadi langkah terpenting agar penanganan dapat diberikan sebelum komplikasi berkembang lebih jauh.

Source: www.suara.com
Berita Terbaru