McDonald’s kini menguji ArchIQ di lima restoran di Amerika Serikat, dan sistem pemesanan berbasis kecerdasan buatan itu sudah memproses lebih dari satu juta transaksi selama masa uji coba. Dalam pengujian tersebut, sekitar 90% pesanan selesai tanpa campur tangan manusia.
Langkah ini menjadi bagian dari strategi McDonald’s NEXT yang baru diumumkan CEO Chris Kempczinski. Fokusnya tidak hanya pada drive-thru, tetapi juga pada efisiensi operasional restoran secara lebih luas.
Lebih dari sekadar menerima pesanan
ArchIQ dirancang bukan hanya untuk mencatat pesanan pelanggan. Sistem ini juga dikembangkan sebagai platform kecerdasan terpusat yang membantu manajer memantau kinerja restoran, menemukan hambatan operasional, dan menangani masalah sebelum berdampak ke pelanggan.
McFranchisee, akun media sosial yang fokus pada pembaruan McDonald’s, menyebut ArchIQ sebagai semacam “asisten pribadi” bagi operator restoran. Akun itu juga mengatakan perangkat keras Google Edge Cloud diperkirakan akan dipasang di seluruh sistem McDonald’s sebelum ekspansi yang lebih besar dilakukan.
Google ikut menjadi mitra penting
Dalam pengembangan proyek ini, Google disebut sebagai mitra teknologi kunci. Kehadiran mitra tersebut memperlihatkan bahwa McDonald’s mendorong pemanfaatan infrastruktur cloud dan otomasi untuk memperkuat operasi di lapangan.
Di saat yang sama, perusahaan masih menempatkan tenaga manusia dalam alur layanan. Menurut McFranchisee, karyawan tetap akan berada di jendela pengambilan dan pembayaran, sehingga teknologi ini diposisikan untuk mendukung operasional, bukan menggantikan seluruh layanan pelanggan.
Pelajaran dari percobaan sebelumnya
Uji coba ArchIQ hadir setelah McDonald’s mengalami kegagalan dalam penerapan teknologi serupa. Pada 2024, perusahaan mengakhiri kemitraan berprofil tinggi dengan IBM setelah sekitar dua tahun menguji pemesanan drive-thru otomatis.
Keputusan itu dipicu kekhawatiran yang terus meningkat soal akurasi, termasuk sejumlah insiden viral saat pesanan pelanggan salah dipahami. Pengalaman tersebut membuat setiap langkah baru McDonald’s di ranah AI mendapat sorotan lebih besar dari publik maupun industri.
Industri cepat saji masih mencari formula terbaik
McDonald’s bukan satu-satunya jaringan restoran cepat saji yang mencoba AI untuk layanan pemesanan. Taco Bell sebelumnya memperluas teknologi pemesanan AI bertenaga Nvidia ke ratusan lokasi, lalu beralih ke pendekatan hibrida yang menggabungkan otomatisasi dengan pengawasan manusia setelah serangkaian kesalahan pemesanan.
Starbucks memilih jalur yang berbeda dengan memakai alat AI di balik meja untuk membantu karyawan, bukan menempatkan chatbot langsung di antara pelanggan dan staf. Perbedaan pendekatan itu menunjukkan bahwa industri masih mencari titik seimbang antara kecepatan, akurasi, dan sentuhan manusia.
Dengan pengujian yang masih berjalan, ArchIQ menjadi salah satu contoh paling jelas dari upaya McDonald’s memadukan otomasi, infrastruktur cloud, dan pengawasan manusia dalam satu sistem kerja. Hasil dari lima restoran uji itu berpotensi menentukan seberapa jauh AI akan dipakai McDonald’s di drive-thru dan di balik operasional restoran.







