Forum Jateng Media Summit 2026 menyoroti satu hal yang kini paling mendesak bagi media lokal di Jawa Tengah: perubahan besar di dunia digital tidak bisa lagi dihadapi dengan pola lama. Para pengelola media yang hadir sepakat bahwa mereka perlu menyusun peta jalan baru agar tetap relevan di tengah pergeseran cara audiens mengakses informasi.
Lebih dari 100 peserta berkumpul di Hotel Khas Semarang dalam forum yang mempertemukan pengelola media dari berbagai daerah. Mereka datang dari Semarang, Kudus, Solo, Banyumas, hingga wilayah Pantura, dengan sekitar 30 persen peserta berasal dari homeless media atau entitas media baru yang bergerak di ruang digital.
Komposisi peserta itu memperlihatkan wajah ekosistem media lokal yang semakin beragam. Di tengah persaingan yang berubah cepat, media daerah tidak lagi hanya bertumpu pada pola kerja konvensional, melainkan mulai diisi pemain-pemain baru yang tumbuh langsung dari kebutuhan ruang digital.
Suwarjono, inisiator acara sekaligus CEO PT Arkadia Digital Media Tbk dan Pemimpin Redaksi Suara.com, menegaskan bahwa media lokal harus segera menyesuaikan diri. Menurut dia, jika tidak ada langkah baru, media berisiko tertinggal bahkan tenggelam.
Ia juga menggambarkan arah masa depan media yang makin otomatis. Konten, kata dia, akan hadir ke audiens sejak bangun hingga tidur, sehingga media lokal perlu lebih terbuka dan cepat beradaptasi dengan pola konsumsi yang terus berubah.
Tekanan digital dan perubahan model bisnis
Forum ini lahir dari keresahan yang sama, yaitu perubahan lanskap media akibat disrupsi digital. Model bisnis media konvensional dinilai sudah berubah total, sementara audiens bergerak ke ruang digital dengan kebiasaan konsumsi informasi yang jauh lebih cepat.
Karena itu, pembahasan utama forum langsung mengarah pada kebutuhan menyusun peta jalan baru. Bagi media lokal, persoalan yang dihadapi bukan hanya soal kecepatan distribusi berita, tetapi juga soal cara bertahan dalam ekosistem yang tidak lagi seragam.
Dukungan pemerintah daerah
Forum Jateng Media Summit 2026 mendapat dukungan penuh dari Pemerintah Provinsi Jawa Tengah. Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Pemprov Jateng, Iwanuddin Iskandar, menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan tersebut.
Iwanuddin menegaskan komitmen Pemprov untuk berkolaborasi dengan semua media. Ia bahkan meminta agar laporan disampaikan jika ada kepala daerah kabupaten dan kota yang tidak bisa berkolaborasi dengan media.
Ancaman hoaks berbasis teknologi
Di sisi lain, Iwanuddin juga mengingatkan ancaman baru yang muncul bersama perkembangan kecerdasan buatan. Hoaks kini dapat diproduksi dengan lebih mudah, termasuk melalui video dan suara deepfake.
Menurut dia, penggunaan AI perlu tetap memegang etika. Informasi yang disebarkan harus sesuai dengan fakta di lapangan agar ruang publik tidak dipenuhi kabar palsu yang sulit dibedakan.
Media sebagai pilar demokrasi
Wakil Ketua DPRD Jawa Tengah, Sarif Abdillah, turut mengingatkan bahwa media adalah pilar demokrasi yang harus dijaga bersama. Ia menilai narasi yang baik penting agar tidak terjadi kemunduran dalam pemahaman, ideologi, hingga visi peradaban.
Sarif juga mengajak generasi muda menghadapi tantangan ekonomi dan pendidikan dengan berani. Pesan itu sejalan dengan semangat forum yang tidak hanya membahas teknologi, tetapi juga kesiapan sumber daya manusia yang mengelola media.
Jateng Media Summit 2026 menjadi puncak rangkaian kegiatan yang sebelumnya dibuka dengan bimbingan teknis pengelolaan website pemerintah daerah. Dari pertemuan ini, adaptasi digital, kolaborasi, dan etika informasi muncul sebagai tiga hal yang harus segera dijawab media lokal Jawa Tengah.
Source: www.sukabumiupdate.com