Mengantuk Setelah Makan Nasi Bukan Sekadar Kekenyangan, Ini Penjelasan Medisnya

Author: Redaksi Android62

Rasa mengantuk setelah makan nasi ternyata bukan hanya soal terlalu kenyang. Tubuh memang bisa memberi respons biologis yang membuat seseorang lebih mudah lemas setelah mengonsumsi makanan tinggi karbohidrat.

Menurut Dr. Tushar Tayal, Associate Director Internal Medicine CK Birla Hospital Gurugram, karbohidrat dalam nasi memicu pelepasan insulin untuk membantu mengatur kadar gula darah. Proses ini ikut memengaruhi pergerakan asam amino di dalam tubuh dan membuat triptofan lebih mudah masuk ke otak.

Mengapa rasa kantuk muncul

Di otak, triptofan diubah menjadi serotonin, lalu menjadi melatonin, yaitu hormon yang berperan dalam pengaturan tidur. Karena itu, kantuk ringan setelah makan nasi lebih dekat dengan proses biokimia tubuh daripada sekadar kurang semangat untuk tetap terjaga.

Dr. Tayal menjelaskan bahwa mekanisme tersebut merupakan respons alami. Dalam penjelasannya kepada Only My Health, ia menegaskan bahwa kondisi itu normal dan berkaitan dengan cara tubuh memproses makanan tinggi karbohidrat.

Porsi besar dan jenis nasi ikut menentukan

Selain komposisi makanan, jumlah porsi juga berpengaruh. Saat seseorang makan dalam jumlah besar, tubuh mengalihkan lebih banyak aliran darah ke sistem pencernaan agar proses pengolahan makanan berjalan optimal.

Akibatnya, energi untuk menjaga tubuh tetap waspada bisa berkurang. Inilah alasan seseorang sering merasa lebih lemas atau ingin tidur setelah makan siang.

Nasi putih juga disebut lebih cepat memicu lonjakan gula darah dibanding nasi merah karena telah melalui proses pengolahan. Setelah lonjakan itu, kadar gula darah dapat turun lebih cepat sehingga rasa lelah terasa lebih jelas.

Namun, Dr. Tayal menegaskan hal tersebut bukan alasan untuk menghindari nasi. Ia menyebut seporsi biryani atau khichdi pada siang hari memang kerap diikuti keinginan untuk tidur sebentar, tetapi itu tetap bagian normal dari proses pencernaan.

Komposisi menu membantu energi lebih stabil

Head Dietitian Fortis Hospital Ludhiana, Gauri Soni, menilai kantuk tidak hanya dipicu nasi, melainkan juga oleh porsi besar makanan tinggi indeks glikemik yang tidak diimbangi lauk pendamping. Karena itu, susunan menu menjadi faktor penting agar energi tubuh tetap stabil.

Ia menyarankan nasi disantap bersama protein seperti ikan, ayam, telur, atau kacang-kacangan, serta sayuran yang kaya serat. Kombinasi ini membantu memperlambat penyerapan gula sehingga kadar gula darah tidak mudah naik-turun.

Faktor Dampak Saran
Nasi tinggi karbohidrat Memicu insulin dan proses yang berkaitan dengan kantuk Konsumsi dengan pendamping yang seimbang
Porsi makan besar Fokus tubuh lebih banyak ke sistem pencernaan Atur porsi makan agar tidak berlebihan
Nasi putih Lonjakan gula darah lebih cepat lalu turun lebih cepat Padukan dengan protein dan serat

Gauri Soni juga mengimbau agar nasi tidak disantap sendirian. Ia menyarankan paduan dengan dal, sayuran, atau protein tanpa lemak, makan dalam porsi wajar, dan tidak langsung berbaring setelah makan.

Temuan yang disampaikan Gauri Soni sejalan dengan penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Nutrients pada 2020. Studi tersebut menunjukkan pola makan berbasis nasi dapat meningkatkan kualitas tidur pada malam hari, salah satunya karena berkaitan dengan penurunan stres oksidatif di dalam tubuh.

Pada akhirnya, rasa kantuk setelah makan nasi merupakan respons tubuh yang normal. Perhatian utama ada pada porsi makan dan komposisi lauk pendamping agar aktivitas tetap berjalan tanpa terganggu.

Berita Terbaru